Menghargai Hak Orang Lain

Menghargai Hak Orang Lain
Ilustrasi

“POKOKNYA aku akan menuntut hakku kepada orang itu.,” kata seorang Arab Baduwi sambil menunjuk kepada Rasulullah saw.

Para sahabat yang sejak tadi mencegah orang tersebut geram mendengar kata-kata orang itu. Semakin dihalangi untuk mendekati Rasulullah saw, orang tersebut semakin berontak.

“Aku tak memiliki kepentingan apa-apa, aku hanya ingin mengambil hakku dari orang itu.” Teriak orang tersebut sambil menyingkirkan beberapa orang sahabat Rasulullah saw yang menghalanginya.

“Kamu tahu, siapa orang yang kamu tadi tunjuk dan kamu berteriak-teriak kepadanya? Dialah Rasulullah saw, manusia termulia yang harus kita hormati dan kami cintai.,” kata salah seorang sahabat.

“Aku tidak peduli siapapun ia, yang penting hakku dikembalikan,” jawab orang tersebut.

Rasulullah saw yang sejak dari tadi dijaga para sahabat, akhirnya meminta izin kepada para sahabat untuk menemui orang tersebut. Setelah di hadapan para sahabat yang memegang orang tersebut, Rasulullah saw berkata, “Apakah kalian tidak suka ada orang yang menuntut haknya?”

“Hai, kapan engkau akan membayar kurma yang pernah engkau pinjam beberapa waktu yang lalu?” Kata orang tersebut kepada Rasulullah saw.

Para sahabat sangat geram sekali mendengar kata-kata orang tersebut. Namun, mereka tak bisa berbuat apa-apa karena selalu dicegah oleh Rasulullah saw.

Mendengar permintaan orang Arab Baduwi tersebut, kemudian Rasulullah saw berbisik kepada Khaulah bin Qais, “Apakah kamu memiliki kurma? Pinjamilah aku untuk melunasi hutang kurma kepada orang ini!”

Kemudian Khaulah pergi ke rumahnya, mengambil kurma untuk melunasi hutang kurma kepada orang tersebut. Setelah menerima kurma dari Khaulah, Rasulullah saw memberikannya kepada orang yang menagihnya. Orang tersebut merasa senang, hatinya merasa lega karena haknya merasa dihargai.

Masih tentang menghargai hak orang lain. Suatu ketika, Khalifah Umar bin Khattab memanggil Fairuz, salah seorang bawahannya.

“Amma ba’du. Karena ada masalah penting yang harus dimusyawarahkan dengan Anda, saya mengharapkan Anda segera datang menghadap saya.” Demikian isi dari surat Umar bin Khattab yang ditujukan kepada Fairuz, salah seorang petinggi pada zaman pemerintahan Umar bin Khattab.

Setelah menerima surat tersebut dan mempersiapkan segala keperluannya untuk menghadap Khalifah Umar bin Khattab, ia pun berangkat. Sesampainya di kediaman Khalifah, ia melihat terdapat beberapa orang yang juga ingin menghadap kepadanya. Orang-orang tersebut dengan sabar menunggu giliran untuk dapat bertemu dengannya. Tepat di depan pintu ada seorang pemuda Quraisy yang tengah menunggu giliran dipanggil menghadap Khalifah. Ia terlebih dahulu datang daripada Fairuz. 

Merasa dirinya seorang pejabat yang lebih penting daripada pemuda Quraisy tersebut, ia datang menghampiri pemuda tersebut sambil berkata, “Mundur kamu! Saya dipanggil menghadap Khalifah!”

“Saya pun sama memiliki kepentingan untuk menghadap kepadanya. Saya lebih dahulu datang ke sini daripada Anda. Tolong antre saja di belakang saya!” Demikian jawab sang pemuda, tak menghiraukan bahwa yang dihadapinya adalah seorang petinggi dalam pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab.

Fairuz merasa dilecehkan mendengar jawaban sang pemuda. Ia naik pitam, dan tanpa sadar ia menghunjamkan pukulan tepat ke arah hidung sang pemuda sampai berdarah.

Mendapat perlakuan seperti itu, sang pemuda tak bergeming sedikitpun. Ia tetap mempertahankan haknya untuk menghadap Khalifah sesuai dengan antreannya. Fairuz yang berada di hadapannya disingkirkannya, dan ia berhasil menghadap Khalifah dengan darah yang bercucuran dari hidungnya.

“Mengapa kamu seperti ini? Siapa yang berbuat seperti ini?” Tanya Umar.

“Fairuz. Sekarang ada di depan pintu rumah Anda.” Jawab pemuda tersebut.

Umar segera memanggil Fairuz dan menanyakan alasan tindakannya kepada pemuda Quraisy tersebut.

“Wahai Khalifah! Anda telah menulis surat kepadaku untuk menghadap Anda. Di depan rumah Anda banyak yang mengantre untuk menghadap kepada Anda, termasuk pemuda ini. Saya menyingkirkan pemuda ini ke belakang agar saya bisa lebih dahulu bisa menghadap Anda. Namun ia ngotot tidak mau, dan menyuruh saya untuk ikut antre seperti orang lain. Saya naik pitam, dan akhirnya terjadi pemukulan terhadap pemuda ini.

“Demi keadilan, laksanakan qishash!” Kata Umar.

“Haruskah, ya Khalifah? Bukankah aku seorang pejabatmu?” Fairuz tercengang.

“Hukum tak pandang bulu, berlaku untuk semua lapisan.” Jawab Umar.

Fairuz tak bisa apa-apa. Qishash pun dilaksanakan. Fairuz membungkuk menyerahkan hidungnya untuk mendapatkan perlakuan sama sebagaimana yang dilakukannya kepada pemuda Quraisy tersebut. Fairuz pun mendapat hukuman yang sama (qishash).

Umar bin Khattab melakukan qishash kepada Fairuz bukan untuk menjatuhkan harga diri bawahannya tersebut, namun ia ingin memberikan pelajaran, hukum tak boleh pandang bulu, berlaku untuk semua kalangan, pejabat tinggi sekalipun. Keadilan adalah milik semua, bukan hanya miliki segilintir orang yang memiliki uang dan kekuasaan. Siapapun dan apapun jabatannya sama kedudukannya di hadapan hukum. Setiap warga negara harus mendapatkan hak dan kewajibannya.*

 

Penulis, Praktisi dan Pemerhati Pendidikan Agama Islam, Penikmat buku-buku Filsafat dan Tasawuf. Tinggal di Cisurupan Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...