Breaking News

Menghapus Pahala

Menghapus Pahala
Ilustrasi. AP Photo

TIRO sang Sekretaris Cicero, tokoh Filosof dan pernah menjadi senator di Yunani, mencatat salah satu sisi kehidupan sang Filosof yang juga politisi piawai pada zamannya. Sang Filosof yang besar di kota Sisilia menjadi tokoh besar dan sukses di kota tersebut. Ia memiliki tekad harus terkenal dan harus menjadi pusat perhatian di seantero Roma.

Diakui hampir semua kalangan, sang Filosof tersebut telah berupaya menegakkan keadilan Romawi tanpa memihak kepada siapapun. Untuk menarik perhatian massa ia sering membeli gandum dalam jumlah besar untuk memberi makan para pemilih di ibu kota, atau kalau tidak memberi makanan gratis, ia mengadakan operasi pasar atau menyelenggarakan pasar murah. Cicero sering pura-pura tertarik pada percakapan penduduk setempat, sering mendengarkan keluh kesah, dan kesulitan yang dihadapinya.

Itulah sepenggal kisah dari kehidupan Cicero, sang filosof dan senator Yunani yang ditulis Tiro, sekretaris pribadinya. Robert Harris menuangkan luka-liku perjalanan sang Filosof dalam sebuah novel yang berjudul “Imperium”.

Dalam novel setebal hampir 420 halaman tersebut dikisahkan tentang luka-liku riwayat kehidupan sang Filosof dan senator. Selain dikisahkan kehebatan teori retorika dan trik-trik politik yang dilakukan sang Filosof dan Senator, dikisahkan pula sisi kehidupan lainnya yakni kepura-puraannya. Ia suka berpura-pura mendengarkan keluh-kesah kehidupan warganya. Hal ini dilakukan untuk menarik simpati seolah-olah ia berpihak kepada rakyat kecil yang dilanda penderitaan.

Kepura-puraan dan meleburkan diri menjadi rakyat kecil seperti yang dilakukan Cicero, kini terkenal dengan istilah pencitraan. Ketika melakukan sesuatu untuk kepentingan rakyat kecil, dengan segera diunggah ke media sosial atau media lainnya agar diketahui khalayak.

Memang pengunggahan aktivitas dalam media tak selamanya menunjukkan pencitraan atau keinginan untuk populer di kalangan rakyat, bisa saja yang melakukan aktivitas tersebut,  niatnya lebih tulus. Untuk itu, ketulusan dalam melakukan suatu  aktivitas apapun, hanya Allah dan diri pelaku saja yang mengetahui. “Tanyakan saja kepada hatimu!” Demikian sabda Rasulullah saw.

Di dunia sufi dikisahkan ada seorang ulama yang rajin membaca al Qur’an. Pada suatu penghujung malam, ia membaca surat Thaha di kamarnya yang posisi kamarnya tepat di pinggir jalan.

Setelah mengkhatamkannya, rasa kantuk menghampirinya. Ia pun tertidur pulas. Dalam tidurnya, ia bermimpi melihat seseorang turun dari langit sambil membawa secarik kertas yang disodorkan kepadanya.

Isi kertas tersebut ternyata berisi surat Thaha yang dibacanya sebelum tertidur. Di bawah setiap kalimat dari surat Thaha yang dibacanya tersebut tertulis sepuluh kebaikan, kecuali pada satu kalimat. Di bawahnya terdapat bekas menghapus, sehingga tak ada satu pun kebaikan atau pahala pada kalimat tersebut.

Kemudian ia bertanya kepada pembawa kertas catatan tersebut, “Demi Allah, aku telah membaca ayat ini, tetapi mengapa aku tidak melihat pahalanya, dan tertulis apapun di sana?”

“Memang benar. Kamu telah membacanya dan aku pun menuliskan pahalanya. Namun aku mendengar malaikat berseru dari bawah ‘Arasy, ‘Hapuslah tulisannya, dan lenyapkanlah pahalanya!’ Maka aku pun menghapusnya.” Jawab pembawa kertas catatan tersebut.

Dalam mimpi tersebut aku menangis dan bertanya alasannya, “Mengapa kamu berbuat demikian?”

“Pada saat kamu membaca, lewatlah seseorang, di depan kamarmu tempat membaca al Qur’an, kemudian kamu mengeraskan bacaanmu supaya terdengar olehnya. Dengan demikian, lenyaplah pahalanya.” Jawab pembawa kertas catatan mengakhiri dialognya.

Diakui ataupun tidak, kita sering berperan seperti ulama yang bermimpi tersebut. Ibadah yang kita lakukan terkadang demi manusia, meskipun bibir mengucapkan “lillahi ta’ala” demi Allah semata, tapi di hati tertanam demi jabatan, demi harta, demi penghargaan dari orang lain, dan sebagainya.

Entah berapa rakaat shalat kita yang benar-benar “lillahi ta’ala”, ditujukan demi Allah semata. Entah berapa hari ibadah shaum kita, sedekah kita yang benar-benar “lillahi ta’ala”. Juga entah berapa hari ibadah shaum kita yang benar-benar “lillahi ta’ala”.

Hingar bingar dalam berbagai aspek kehidupan, sering “mengorbankan Allah”,  “dijual”  demi kepentingan duniawi. Dalam dunia politik yang paling banyak terasa dan kentara, para calon pemimpin mau berperan apa saja demi rakyatnya.

Ada calon pemimpin yang rela duduk di atas tanah bersama petani kecil agar terkesan benar-benar merakyat. Ada pula calon pemimpin yang rela ikut antri makanan di warung nasi pinggir jalan, tujuannya sama agar dianggap merakyat. Ada pula calon pemimpin yang menangis tersedu-sedu ketika mengunjungi para pemilih. Tujuannya hanya satu ingin mendapat simpati dari rakyat, dan mereka memilihnya.

Kalau begitu mereka tidak ikhlas? Jangan berburuk sangka, hanya Allah dan mereka yang tahu. Paling-paling kita menyarankan mereka untuk bertanya kepada hati nuraninya. Jawabannya pasti akan jujur, apa yang sebenarnya mereka inginkan ketika “bermain peran” di hadapan rakyat atau masyarakat.

Kita selayaknya memperbanyak melakukan muhasabah atas segala niat aktivitas kita. Apakah niat kita sudah lurus dan tulus?  Apakah catatan pahala kita banyak terhapus seperti yang dialami seorang ulama yang bermimpi dalam kisah tulisan ini? ***

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut  Jawa Barat.

Iklan Duka Cita Ibunda Bupati Nagan Raya

Komentar

Loading...