Menggapai Makna Hidup

Menggapai Makna Hidup
Ilustrasi.net

HANYA dua makhluk yang mendapatkan taklif (beban hukum) dari Allah, yakni jin dan manusia. Beban taklif tersebut tiada lain adalah kewajiban menepati dan melaksanakan segala titah dan perintah Allah swt.  Ketaatan tersebut diwujudkan dalam suatu aktivitas yang disebut ibadah (Q. S. adz-Dzariyat : 56).  

Dari segi penciptaannya, manusia telah Allah ciptakan dalam bentuk yang terbaik (Q. S. at – Tin : 4).  Selain itu, manusia juga telah Allah jadikan sebagai khalifah di muka bumi. Mereka  berhak mengolah dan memanfaatkan seluruh alam beserta isinya untuk memakmurkan bumi dan kemaslahatan bagi seluruh makhluk.

Untuk dapat menjadi khalifah di muka bumi, Allah membekali manusia dengan akal. Potensi akal akan menjadikan manusia mampu menaklukkan isi seluruh alam. Sementara itu, potensi akal akan berfungsi maksimal manakala akal dilatih untuk dapat berfikir secara maksimal. Pelatihan terhadap akal hanya dapat diperoleh melalui perenungan melalui proses mencari ilmu. Karenanya, dalam ajaran Islam ada kewajiban mencari ilmu sepanjang hayat.

Selain akal, manusia juga dibekali dengan potensi hati. Akal akan menjadi penyelamat  kehidupan yang membawa kemaslahatan bagi semua makhluk Allah, manakala manusia mampu merawat dan menjaga kesucian hatinya. Keimanan dan keislaman,  akhlak kita, baik  akhlak terpuji  maupun akhlak tercela terletak di hati.

Kelak, seseorang akan menjadi ahli surga dan mendapat rida, ampunan, dan rahmat Allah, manakala ia datang menghadap-Nya  dengan membawa hati yang bersih. Kekuatan akal tanpa dibarengi dengan kebersihan hati, tanpa keimanan kepada Allah, hanya akan menjadikan manusia sebagai makhluk serakah yang menjadi serigala bagi manusia lainnya, yang oleh ahli filsafat diistilahkan dengan  homo homini lupus.

Sebaliknya, jika potensi akal dan potensi hati bersatu padu, maka akan melahirkan manusia-manusia berbudi luhur, menjadi makhluk sosial.  Mereka akan mampu menjadi khalifah di muka bumi,   merawat dan memakmuran bumi, merawat nilai-nilai kemanusiaan,  saling mencintai,  saling menyayangi, dan saling membimbing agar menjadi makhluk yang dapat berbakti kepada-Nya.

Keimanan yang tertanam di hati, merupakan wujud nyata dari penggunaan manusia terhadap potensi akal dan hati yang dimilikinya. Karena memiliki akal , manusia berfikir dan menyadari akan adanya  “Kekuatan Yang Maha Besar” dibalik segala kehidupan yang dialaminya. Pencarian terhadap “Kekuatan Yang Maha Besar” tersebut  melahirkan keyakinan atau keimanan.

Keimanan atau keyakiana yang kuat  akan melahirkan  kepasrahan kepada “Kekuatan Yang Maha Besar” tersebut. Kepasrahan tersebut disebut taslim, yang kemudian melahirkan suatu keyakinan beragama yang disebut Islam.   

Orang yang meyakini akan adanya “Kekuatan Yang Maha Besar” dibalik semua kehidupan, ia akan menyerahkan segala aspek kehidupan kepada aturan-Nya.  Nabi Ibrahim a.s menyerahkan sepenuh jiwa raganya kepada “Kekuatan Yang Maha Besar” setelah ia merenung menggunakan kekuatan akalnya dalam menafakuri keadaan alam sekitarnya (Q. S. al-An’am : 76-79).

Selain menafakuri keadaan alam sekitar dengan  menggunakan kekuatan akal dan ketajaman hati, manusia selayaknya berkelana ke dalam diri dan lingkungan sekitarnya untuk mencari makna dari kehidupan yang dijalananinya. Pencarian makna kehidupan ini sangat penting dilakukan karena kehidupan manusia sangat jauh berbeda dengan makhluk lainnya.

Hakikat dari kematian bukanlah akhir dari kehidupan, namun merupakan titik awal kehidupan lainnya. Pada kehidupan setelah kematianlah manusia akan merasakan hakikat dari kehidupannya selama di dunia. Ia akan merasakan pahit manis dari kehidupan yang dijalaninya selama di dunia.

Kehidupan yang bermakna selama di dunia, seraya kebermaknaannya sesuai dengan titah dan perintah-Nya akan menjadikan dirinya menjalani kehidupan yang bahagia. Sebaliknya jika kehidupannya nirmakna, melanggar aturan-Nya, maka awal kehidupan yang menyakitkan setelah kematian akan menyapanya, dan berlangsung abadi.

Meminjam pendapat Victor E. Fankl (2020 : 156) dalam karyanya, “Man’s Search For Meaning” setidaknya terdapat tiga kemungkinan sumber makna hidup, yakni hidup dalam kerja (melakukan sesuatu yang penting); dalam cinta (kepedulian terhadap orang lain); dan dalam keberanian menghadapi penderitaan atau kesulitan hidup.

Islam menekankan pemeluknya untuk beramal yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Pahala dari amal baik akan abadi, tetap mengalir kepada pelakunya, sekalipun ia telah meninggal. Amal jariyah seperti mewakafkan tanah untuk kepentingan umum merupakan salah satu wujud dari melakukan sesuatu yang bermanfaat. Seorang muslim yang baik akan berupaya keras meninggalkan perbuatan yang tidak bermanfaat, apalagi jika perbuatan tersebut tergolong dosa yang akan mengotori hati dan pikirannya.

Mencintai orang lain akan semakin menambah nilai tambah makna kehidupan dan keimanan. Tidaklah sempurna keimanan seseorang yang tidak mencintai saudaranya. Kecintaan terhadap saudaranya tersebut diwujudkan dalam bentuk kesiapan untuk hidup rukun, saling memperhatikan, toleran, dan saling meringankan beban kehidupan.

Kesungguh-sungguhan dalam bekerja, tak mengenal lelah seraya berupaya “lillah” dalam melaksanakan setiap aktivitas akan semakin menambah nilai-nilai makna kehidupan. Seorang mukmin yang baik, dalam melakukan aktivitasnya atau pekerjaannya tidak sekedar untuk memenuhi kebutuhan dunyawiyahnya saja, namun juga diniatkan sebagai salah satu jalan yang dapat mengantarkan dirinya menuju keridaan-Nya.

Selayaknya kita berupaya keras menggapai kebermaknaan hidup dalam setiap desah nafas dan langkah kehidupan. Kelelahan kita selama menjalani kehidupan harus menjadi saksi yang meringankan ketika kita dihisab di hadapan-Nya. Sementara penderitaan yang didapatkan selama menjalani kehidupan tidak menjadikan dirinya putus asa. Ia tetap berharap akan rahmat Allah. Penderitaan yang dideritanya dijadikan jalan untuk semakin mendekat kepada-Nya.

Kehidupan yang nirmakna, hanya mengikuti kehendak hawa nafsu dunia, hanya akan berakhir dengan penyesalan. Kelak ketika beratnya menghadapi persidangan di hadapan  Allah, kita hanya akan berkhayal dan berharap, dahulu tidak menjadi manusia. Ingin menjadi tanah saja. Sayang semuanya telah berlalu, dan tak akan terulang kembali menjalani kehidupan di dunia fana ini. “Alangkah sebaiknya jika dahulu aku menjadi tanah saja” (Q. S. An-Naba : 40). ***

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat. 

Iklan Duka Cita Ibunda Bupati Nagan Raya

Komentar

Loading...