Mengendalikan “Mesin Hasrat”

Mengendalikan “Mesin Hasrat”
Ilustrasi nafsu.net

HASRAT sangat erat hubungannya dengan nafsu yang bersemayam dalam setiap jiwa manusia. Nafsu sendiri mempunyai kecenderungan untuk memaksakan hasrat-hasratnya untuk kepuasan diri. Hasrat atau nafsu senantiasa mendorong manusia untuk terkenal, dipuji dan dipuja orang atau massa.

Untuk mencapai pujian dan pujaan khalayak, hasrat mendorong jiwa manusia melakukan berbagai upaya agar bisa tenar dan populer.  Hasrat yang menggebu-gebu untuk mendapat pujian dan pujaan sering menjadikan orang melupakan diri, melupakan kemampuan finansial dan intelektualnya, bahkan melupakan nilai-nilai kebaikan moral.

Tak ada yang terbayang di benak, di mata, dan dalam bayangan orang-orang yang dikuasai hasrat jahat, kecuali kesenangan, popularitas, pujiaan, dan pujaan dari semua orang. Bayangan orang-orang  yang bertepuk tangan kagum terhadapnya, kesenangan melihat orang-orang yang berkata “wah” atas penampilan dan kemewahan hidupnya selalu menjadi khayalan yang harus ia wujudkan.   

Khayalan-khayalan yang harus diwujudkan tersebut melahirkan jiwa-jiwa yang diliputi sikap konsumerisme, mencintai hal-hal bersifat materi, melupakan hal-hal yang bersifat spiritual. Mementingkan kehidupan yang penuh gaya meskipun miskin makna. Hidup sederhana nan sarat makna, tak akan laku ditawarkan kepada orang-orang yang jiwanya diliputi sikap konsumerisme.

Padahal, sejatinya kehidupan ini adalah mengejar makna bukan sekedar gaya. Manusia adalah makhluk yang beraga dan berjiwa. Apalah artinya sosok manusia jika hanya menghiasi raga, dan melupakan jiwa. Bukankah hanya binatang saja yang mementingkan raga belaka?

Al Qur’an telah lama mengingatkan, jika manusia hanya mengikuti kemauan hasratnya, lebih mementingkan hiasan raga daripada jiwa, maka manusia hanya akan jadi makhluk beraga tanpa jiwa. Jika manusia hanya mengikuti kemauan hasratnya untuk memenuhi kepentingan-kepentingan yang bersifat ragawi-duniawi, melupakan nilai-nilai baik dan makna kehidupan, maka mansusia akan berubah menjadi makhluk yang lebih rakus, lebih buas daripada hewan buas sekalipun. Manusia akan menjadi serigala pemangsa manusia lainnya (homo homini lupus).

Kelengkapan panca indra yang dimiliki manusia, namun tidak dipergunakan untuk menghiasi jiwa dan membuat kehidupan semakin bermakna, hanya akan menjadikan manusia semakin menjauh dari tugas hidupnya di dunia, yakni sebagai khalifah yang akan memakmurkan bumi ini. Lebih jauhnya, manusia yang tidak menggunakan panca indranya untuk membaca ayat-ayat Allah dan menjadikannya sebagai pedoman hidup, hanya akan menjadikan dirinya lebih sesat daripada binatang sekalipun.

“Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahannam banyak dari kalangan  jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya  untuk memahami ayat-ayat Allah, mereka memiliki mata, tetapi tidak dipergunakan untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengarkan ayat-ayat Allah. Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah” (Q. S. al A’raf : 179).

Inti dari firman Allah tersebut adalah kita harus menjadikan hidup ini bermakna. Selayaknya kita menjadi hamba Allah yang menggunakan seluruh panca indra  untuk membaca, memahami, dan mengikuti ketentuan hidup yang telah digariskan dalam ayat-ayat-Nya.

Islam tidak melarang manusia untuk menghias raga. Malahan Islam mencintai orang-orang yang berhias ketika akan berangkat ke masjid  misalnya, dan ajaran Islam secara tersirat menyuruh pula kita menjadi orang kaya. Salah satu bukti Islam menyuruh kita kaya adalah adanya  perintah zakat dan ibadah haji. Kedua ibadah ini hanya diwajibkan kepada orang-orang yang sehat, memiliki kemampuan dan kekuatan finansial, yang tentu saja identik dengan kekayaan.

Namun demikian, ajaran Islam menetapkan pula, kita harus berhati-hati dalam berusaha memperoleh kekayaan, dan tetap hidup sederhana nan sarat makna ketika kita sudah memperoleh kekayaan. Hidup seimbang, tidak boros, tidak berlebihan, tetap dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan pedoman hidup yang harus kita pegang.

Bukanlah hal yang mudah untuk tetap hidup sederhana pada era kehidupan seperti sekarang ini. Dari waktu ke waktu, kehidupan semakin memaksa kita untuk hidup mengikuti gaya kebanyakan orang. Tampilan-tampilan aksesoris kehidupan selalu menjadi incaran dan kejaran hampir kebanyakan orang.

Merasa tidak gaul, gengsi, merasa tidak “update”, dan minder karena “out of date” (ketinggalan zaman) jika tidak mengikuti gaya hidup khalayak selalu menghantui hampir semua orang. Akibatnya,  hidup konsumtif, mengejar gaya seraya melupakan kemampuan diri dan kemampuan finansial,  mendorong orang  berani melanggar moral dan melakukan perbuatan illegal.

Bukan rahasia lagi, tujuan mereka yang melakukan korupsi di negeri ini hanya satu, yakni ingin memperkaya diri sendiri secara instan. Mereka ingin hidup lebih kaya, memiliki harta dan aksesoris kehidupan yang serba mewah. Melanggar moral dan melakukan perbuatan illegal tak lagi mereka pikirkan, yang penting mereka dapat memenuhi hasrat yang selalu mendorongnya untuk berbuat apapun.  Kehidupan sederhana yang sarat makna telah sirna dari jiwa mereka.

Padahal, sejatinya kehidupan sederhana yang sarat makna, dan kaya tujuan harus menjadi target kehidupan. Terlebih-lebih bagi manusia yang berpendidikan dan pernah mendapatkan ajaran untuk bermoral baik.

Tentang makna kehidupan, patut kita renungkan goresan pena pemikiran Arne Naess seorang filsuf Norwegia. Dalam salah satu karyanya  “Deep Ecology”, ia mengatakan, “Berusahalah menjalani kehidupan nan sederhana dalam sarana, tapi kaya tujuan, dan bukan gaya hidup yang mengutamakan materi sebagaimana menjadi gaya hidup kebanyakan orang modern. Jadilah orang yang bisa hidup sederhana, kaya makna, dan bahagia. Raihlah  gaya hidup yang menekankan kualitas dan makna kehidupan bukan kehidupan yang hanya mengejar standar material belaka.”

Sudah menjadi fitrah, kelahiran kita sebagai manusia dibekali dengan “mesin hasrat” yang ada pada jiwa kita. Mesin hasrat inilah yang mendorong manusia untuk bisa berbuat baik dan buruk, namun demikian, mesin hasrat dalam jiwa kita memiliki kecenderungan mendorong jiwa untuk berbuat kejelekan.

Satu hal yang mustahil bagi kita untuk membunuh atau mengenyahkan “mesin hasrat”  yang ada pada jiwa kita. Selama manusia hidup, gelora hasrat akan tetap ada dalam jiwa.

Hanya satu hal yang dapat kita lakukan, yakni kita harus mampu mengendalikan “mesin hasrat” agar tidak selalu mendorong  kita untuk melakukan  perbuatan nista yang melawan fitrah jiwa, melawan tata tertib kehidupan yang sudah Allah dan Rasul-Nya tentukan. Hanya dengan kemampuan mengendalikan laju “mesin hasrat” inilah kehidupan kita akan bermakna dan berharga di hadapan-Nya. Semoga. ***

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat. 

Komentar

Loading...