Makalah :

Mengembara ke Makrifat Sunyi: Mengaji Bayang Ibu D Kemalawati

Mengembara ke Makrifat Sunyi: Mengaji Bayang Ibu D Kemalawati
Sastri Sunarti

Oleh : Dr Sastri Sunarti, M.Hum

Peneliti Pada Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan


Pendahuluan

Kesunyian atau kasunyatan merupakan salah satu wujud ekspresi puitik yang bercorak kesufian yang dapat ditemukan dalam puisi para penyair Melayu-Indonesia sejak dulu hingga hari ini. Hadi (2001) menyebutkan bahwa guru para penyair sufi tidak lain adalah Hamzah Fansuri yang kemudian memengaruhi penyair Indonesia berikutnya seperti Sanusi Pane, Amir Hamzah, dan D. Kemalawati.  Dalam sistem estetika Melayu-Indonesia karya  sastra dipandang  sebagai sarana transendensi, yaitu  tangga naik menuju hakekat tertinggi. Penulis menyajikan  obyek-obyek visual  dalam karyanya sebagai image dan simbol untuk  membawa pembaca mencapai pengalaman transendental `isyq (cinta ilahi), yang  bentuk-bentuknya  antara  lain  ialah  fana`  (persatuan mistik)  dan  ma`rifat.  Di  samping  itu  karya  sastra  juga berfungsi  sebagai  ikhtiar  penyucian  diri,  selain  memupuk kesadaran  sosial dan kemanusiaan berdasar pemahaman  terhadap Tauhid.

Dalam gambaran  dunia para penulis  Melayu, alam  semesta dilihat sebagai kitab agung yang sangat  indah. Sang Khalik menjelmakan dunia  ini  dari Perbendaharaan   Ilmu-Nya  yang  tersembunyi  (kanz makhfiy) yang didorong oleh Cinta. Menurut mereka lagi, dunia ditulis dengan kalam  Tuhan  pada  Lembaran  Terpelihara  (lawh  al-mahfudz), (Braginsky  1993).  Sebagaimana dunia,  pribadi  manusia  juga merupakan  sebuah  kitab agung,  sebuah  karya sastra.  Pada manusia  keseluruhan hikmah alam semesta direkam dengan diringkas. Hikmah-hikmah tersebut  hadir  sebagai ayat-ayat-Nya, yaitu tanda-tanda-Nya yang menakjubkan.  Karena itu  mengenal hakekat diri sangat penting bagi  manusia   (Kimia Kebahagiaan karangan Imam al-Ghazali) sebagaimana juga dapat ditemukan dalam beberapa sajak D. Kemalawati.

Santosa (2016: 18) menyebutkan bahwa orang yang telah mencapai kasunyatan jati atau pamudaran itu sirna perasaan hidup dan mati, perasaan senang-susah pun lenyap, bebas dari semua penderitaan, tali-tali yang membelenggu batin pun telah putus, oleh karena ia telah mampu memisahkan kecintaannya terhadap barang-barang duniawi yang rusak. Rasa-perasaannya telah menjadi satu dengan yang bersifat hidup, meliputi keseluruhannya, berwatak kasih, adil, suci, berbudi luhur, ibarat berbadan ke-Tuhan-an, lepas, bebas dari hukum kembali lahir, sebab ia memperoleh wahyu kemerdekaan dunia (dalam bahasa tasawuf disebut insan kamil, lihat Simuh, 2002: 30, Kartanegara, 1986: 59; atau bahasa Al Ghazali disebut arifin, lihat Hamka., 1983: 149). Kasunyatan jati (dalam bahasa tasawuf disebut tarekat atau thariqah, lihat Simuh. 2002:25). Di dalam kebatinan Jawa, jalan atau cara yang harus dilaksanakan untuk mencapai kasunyatan adalah mengamalkan watak Hasta Sila (Sadar, Percaya, Taat, Rela, Narima, Sabar, Jujur, dan Budi Luhur), menjauhi atau menghindari Paliwara (lima larangan Tuhan), dan selalu berada di Jalan Rahayu. Kesunyian sebagai sebuah wujud  ekspresi dalam puisi tidak hanya ditemukan dalam karya sastra Indonesia modern, melainkan juga terdapat dalam karya sastra tradisional seperti dalam tembang macapat Jawa, Serat Warisan Langgeng karya R. Soenarto, Mertowardojo yang dibahas oleh Santosa (2016).
 
Kesunyian dalam Bayang Ibu

Kesunyian yang muncul dalam sajak-sajak sajak penyair Melayu-Indonesia seperti Hamzah Fansuri, Amir Hamzah hingga dalam sajak-sajak D. Kemalawati terutama dalam antologi puisinya yang berjudul Bayang Ibu (2016) dapat disebutkan sebagai sebuah laku tarekat.   Adapun yang dimaksud dengan laku tarekat adalah jalan seorang salik (penganut tarekat) untuk menuju makrifat (Tuhan) dengan cara menyucikan diri dan mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Tuhan.

Sajak-sajak D. Kemalawati dalam antologi Bayang Ibu (2016), adalah sebuah kendaraan untuk mencapai hakikat, syariat dan makrifat. Salah satu wujud dari laku seorang salik ‘penganut tarekat’, adalah senantiasa mengakrabi kesunyian. Bagi seorang salik ‘penganut tarekat’, kesunyian adalah salah satu laku yang menggambarkan laku rohani yang akan mengantarkannya kepada kondisi isyqi ‘cinta ilahi. Laku sufistik ini entah secara sadar atau tidak menjadi sebuah suara (tone) yang muncul berkali-kali dalam antologi puisinya yang disebutkan di atas.

Kesunyian dalam antologi puisi Kemalawati ini dibuka dengan satu cerpen yang berjudul “Bayang Ibu (Di depan Bayang Suram Masa Lalu)”. Terdapat dua peristiwa kelam dari masa lalu yang mengilhami penulisan cerpen ini. Pertama konflik bersenjata antara GAM dan TNI  dan kedua, peristiwa air laut surut (Tsunami) yang sama-sama menewaskan ratusan ribu manusia Aceh. Kedua peristiwa itu meninggalkan luka psikologis yang sangat membekas bagi penulis. Untuk meleraikan luka psikologis itu, kesunyian akhirnya menjadi sebuah eskapisme bagi penyair, sebagaimana yang terepresentasi dalam cerpen  dan sajak-sajaknya.

Dalam cerpen yang menjadi prolog buku puisi ini, Sepi adalah sebuah entitas sebagaimana  aku menjadi entitas yang lain dalam cerpen ini. Aku berkabar kepada Sepi, tentang peristiwa demi peristiwa yang mengguncangkan jiwanya. Salah satu kisah yang dikabarkan aku kepada Sepi adalah peristiwa pembunuhan seorang gadis muda belia bernama Yuni Afrida yang diberondong peluru dari lubang vagina hingga tembus ke jantungnya. Selain itu, aku juga berkabar tentang peristiwa tsunami yang menghilangkan ribuan nyawa. Dua peristiwa bencana kemanusiaan yang melanda negerinya itu diibaratkan oleh penyair sebagai Surat dari Negeri Tak Bertuan yang menggambarkan kekosongan dan kehampaan.

Kesunyian sebagai laku rohani juga muncul dalam beberapa diksi serta frasa dalam sajak-sajak Kemalawati. Kita mulai dari  sajak Masjid di Atas Bukit  yang menggambarkan ziarah sunyi sang penyair ke sebuah mesjid di Itaiwon, Korea. Di manapun dan kemanapun seorang salik senantiasa mencari jalan untuk memenuhi hasrat kerinduan bersua dengan Rabbnya. Demikianlah yang tergambar dalam sajak Masjid di Atas Bukit. Penyair juga berupaya menemukan jalan untuk memenehi hasrat bertemu Tuhan melalui kendaraan (syariat; medium) sebuah mesjid di /atas bukit, di ketinggian sunyi/ bila aku berjalan sendiri/aku akan semakin sunyi/. Saat melakukan perjalanan mesjid di atas bukit tersebut, kesunyian menjadi teman perjalanan sang salik. Perjalanan tersebut yang dilakukan dalam sunyi kemudian disambut oleh kesunyian mesjid di atas bukit yang makin menjauhkan Salik dari hasrat duniawi.

Dalam sajak Janji Cahaya, frasa kesunyian maujud sebagai /malam sunyi menebar mimpi/. Atau sunyi menjadi frasa /sesunyi pintu pengembara/ yang sering juga menjadi analog bagi seorang salik. Pengembaraan yang dilakukan dapat berupa pengembaraan jasmani seperti yang terbaca dalam sajak Mesjid di Atas Bukit yang merupakan upaya mencari Tuhan meskipun hingga ke Itaewon. Adapun perjalanan ruhani dapat kita temukan dalam sajaknya yang berjudul Kuharap Kau Mengajakku Ke sana /aku menunggu hadirmu/ seperti pasir kering menanti buah/adakah selain putih sajakku dalam riakmu/ atau dalam sajak yang berjudul Mata Api Matamu yang terlihat dalam baris sajak /kau giring aku ke palung sunyi/.

Kesunyian juga muncul dalam frasa /hari-hari senyap/ sebagaimana terdapat dalam sajak berjudul Gagap. Dalam sajak Bersunyi Aku dalam Iradah, kesunyian menjelma frasa /bersunyi aku terkepung iradah/. Kesunyian juga menjadi sebuah tujuan akhir sebagaimana termaktub dalam sajaknya yang berjudul Menuju Sunyi. /Kita juga akan segera pergi/hanya seorang diri/menuju sunyi abadi/.  Bagi seorang Salik yang melakukan perjalanan (tarekat, syariat, haikat, dan makrifat)  maka maqam terakhir adalah dapat menemui Rab, Khaliqnya. Umumnya perjalanan untuk mencapai makrfat tersebut dilakukan dalam kesunyian /dalam sunyi jalan menuju/harap cemasku/akankah kau rangkul tubuhku/bila bertemu/. Larik sajak tersebut merupakan analog dari laku wujudiyah; yakni satu konsep penyatuan diri seorang hamba dengan Rabbinya dalam dunia sufi.   

Kesunyian tidak hanya menggambarkan hubungan salik dengan Khaliknya. Dalam sajak Kemalawati, kesunyian juga menjadi medium untuk mengenang seorang sahabat bernama Maskirbi.  Seorang penyair Aceh yang menjadi korban tsunami tahun 2004. Kenangan kepada Maskirbi tersebut diekspresikan melalui puisi yang berjudul Tarian Sunyi. /Tarian sunyi/tetabuhan sayup.../mari menari, katamu/ tanpamu tarian sunyi, seruku/batas laut mengubur pelangi/bersama bayangmu sunyi/. Dialog yang tercipta antara aku dan Maskirbi berlangsung dalam gerak dan bayang yang sunyi karena kematian sudah menjadi perantara antara keduanya. Dalam sajak Bayang Ibu, kesunyian adalah medium dialog antara Ibu dan anak. Kasih sayang seorang Ibu tidak akan dapat dikalahkan oleh langkah tinggi yang ditempuh oleh seorang anak. Perjalanan antara Ibu dan anak ini diibaratkan sebagai sebuah pengembaraan ke makrifat sunyi. Hakikat dari pengembaraan ini adalah ajaran bahwa kasih ibu adalah abadi dan anak sekalipun sudah berada di posisi yang paling tinggi dalam kehidupannya takkan pernah lepas dari bayang Ibu.

Dalam sajak Buku Catatan Pejalan Petang, kesunyian adalah sebuah pintu yang akan diketuk seorang salik untuk menemukan Khalik /mengetuk pintu kesunyian/. Sajak ini merepresentasikan perjalanan spiritual sang salik saat menacari Tuhan  yang kadang harus menemukan pintu kesunyian di saat umurnya berangkat tua (petang). Terlihat di sini betapa sajak-sajak Kemalawati menyublim dalam kesunyian yang abadi, bening, dan  dilingkari oleh hawa kesucian Ilahi.

Secara struktural, kesunyian dalam sajak-sajak Kemalawati memiliki berbagai bentukan kata yang kaya. Sunyi dapat menjadi bentukan kata /palung sunyi/ atau /detak berakhir sunyi/; /hujan yang menderas ke dalam sunyi/ mengetuk pintu kesunyian/kesunyian menyergap/dalam senyap sepi/ke dalam sunyi/. 

Penutup

Dengan mengkarabi kesunyian, seorang salik akan dapat lebih mengenal diri; atau  sebagaimana disampaikan oleh Santosa (2016: 18) yang menyebutkan bahwa orang yang telah mencapai kasunyatan jati atau pamudaran itu sirna perasaan hidup dan mati, perasaan senang-susah pun lenyap, bebas dari semua penderitaan, tali-tali yang membelenggu batin pun telah putus, oleh karena ia telah mampu memisahkan kecintaannya terhadap barang-barang duniawi yang rusak.

Sebagaimana juga diekspresikan dalam baris sajak Kemalawati yang berbunyi /adalah penting mengenal bayang/apalagi di hening sunyi/agar kita pahami/ kesetiaan sejati/. Dengan mengenal diri maka upaya untuk mencapai maqam tertinggi yakni makrifat akan semakin mudah seperti yang terdapat dalam sajak Batas yang Tak Tersentuh. Selain itu, seorang Salik mengakrabi kesunyian untuk menghindari keramaian. Sebab bagi seorang Salik, pilihan kepada kesunyian bukanlah sebuah kebencian /aku memilih sunyi/bukan sedang membenci/atau dibenci/kuhindari keramian/ yang selamanya tak kupahami/. Hanya dengan mengakrabi kesunyian maka isyiq dapat dicapai. 

Pada akhirnya, laku mengakrabi sunyi adalah sebuah laku spiritual yang dipilih sebagai jalan hidup karena keramaian bagi seorang Salik merupakan laku yang dapat merusak fungsi hati. Dengan kata lain untuk dapat mencapai penyatuan yang abadi, seorang Salik diibaratkan sebagai /jarum dan benang-benang/ yang hanya menjelma /aku dan kesenyapan/merajut warna-warna impian/ di tubir waktu yang beranjak diam/.

Dr Sastri Sunarti, pengkaji (kanan), D Kemalawati, Sastrawan (tengah) dan Fatin Hamama, moderator (kiri) ketika membedah antologi puisi Bayang Ibu karya D Kemalawati di Pusat Dokumentasi HB Jassin, Jakarta,Kamis (16/5/2019). Ist

Komentar

Loading...