Mengembalikan Fitrah Manusia

Mengembalikan Fitrah Manusia
Ilustrasi.Ist

TERKADANG kita merasa kurang aktual membicarakan fitrah manusia. Pantasnya, kata fitrah lebih cocok jika dibahas pada saat Idul Fitri. Padahal tidaklah demikian. Setiap saat, kita harus banyak membahas dan mengingat fitrah manusia. Betapa tidak, pada saat ini, sisi kemanusiaan kita terkadang sudah banyak melenceng dari fitrah manusia itu sendiri.

Berbagai tindak kejahatan yang terjadi hampir setiap menit membuktikan sisi fitrah kemanusiaan di sekitar kita mulai sirna. Tindak kejahatan pada saat ini sudah benar-benar di luar batas sisi kemanusiaan. Pencurian dengan kekerasan, pemerkosaan, pembunuhan, tindak pidana korupsi, dan lain sebagainya merupakan bukti terkikisnya nilai-nilai fitrah kemanusiaan. 

Berkenaan dengan sebutan manusia, al Qur’an memberikan beberapa istilah, diantaranya basyar yang disebutkan sebanyak 36 kali dalam 26 surat, dan insan sebanyak 65 kali dalam 44 surat (Fuad Abdul Baqi, Al Mu’jam Al Mufahras Li Alfadhil Qur’an : 119-120, 153 – 154).

Imam Fakhrurrozi dalam Tafsir Fakhrurroji, Jilid 19 : 185-186) menyebutkan, basyar lebih mengacu kepada sosok makhluk yang memiliki badan, dapat dilihat dan diraba, memiliki tubuh, wajah, dan kepala. Sedangkan insan memiliki arti harmonis, lemah lembut, tampak, atau pelupa. Manusia sebagai basyar hanya memiliki perbedaan sedikit dengan hewan, diantaranya dalam hal pertumbuhan bulu atau rambut. Oleh karena itu, dalam diri manusia terdapat sifat hewani (bahimiyah). Diantara sifat bahimiyah yang mendominasi manusia adalah kebutuhan akan makanan, minuman, dan kebutuhan hubungan biologis.

Sifat bahimiyah lainnya yang sering mendominasi manusia adalah keinginan untuk menguasai orang lain, rakus, berbuat jahat, dan mengambil hak manusia lainnya. Kondisi ini oleh para filosof disebut  homo hominim lupus, manusia merupakan serigala (yang siap menerkam) manusia dan makhluk lainnya. Di sisi lain, manusia memiliki fitrah yang baik, yakni makhluk yang dapat saling menyayangi, hidup harmonis, berakhlak lembut, hidup bertetangga, bermasyarakat, dan tolong-menolong.  Kondisi ini oleh para filosof disebut homo hominim socius (manusia adalah makhluk sosial).

Tindakan kriminal dan tindak kekerasaan yang banyak mencuat akhir-akhir ini harus menjadi bahan renungan, “ada apa dengan manusia-manusia abad modern sekarang ini?” Mengapa mereka bersikap dan berperilaku brutal, bukankah manusia-manusia modern merupakan manusia yang berpendidikan tinggi?” Mengapa manusia berpendidikan tinggi bernurani mati?” “Apa yang salah dengan kehidupan manusia modern pada saat ini?”

Secara filosofis, bisa jadi manusia-manusia pada saat ini telah berubah status dari homo hominim socius menjadi homo robotic (manusia berkarakter robot). Sepintar dan sekuat apapun sebuah robot, ia merupakan benda yang nirperasaan (mati rasa). Ia hanya mengetahui perintah sesuai program mesin/komputer yang ada dalam tubuhnya. Ia tak akan perduli dengan apapun yang akan terjadi dengan perbuatannya, yang terpenting apa yang ia lakukan sesuai dengan program mesin/komputer yang ada dalam tubuhnya.

Kemungkinan besar, sebagian manusia pada saat ini laksana sebuah robot. Program mesin/komputernya  adalah  hasrat  dan syahwat  yang menguasai hati nurani dan pikirannya. Ia sudah tak peduli lagi dengan akibat yang akan terjadi dengan sikap dan perilakunya. Ia sudah tak lagi memiliki kepedulian dengan perasaan manusia lainnya bahkan bisa jadi manusia lainnya hanya dianggap sebagai “sarana” untuk mencapai hasrat dan keinginan syahwatnya. 

Pendidikan manusia pada saat ini sangat maju. Demikian pula dengan teknologinya, serba canggih. Namun dibalik semua itu, ada sisi kemanusiaan yang sering hilang, yakni fitrah kemanusiaan. Karenanya, sudah saatnya kita mengembalikan fitrah kemanusiaan. Setiap saat kita harus kembali berupaya menghidupkannya.

Salah satu sisi fitrah kemanusiaan tersebut adalah nilai-nilai spiritual dan sosial. Nilai-nilai spiritual merupakan pengingat, bahwa kita akan kembali kepada Yang Maha Pencipta dan harus mempertanggungjawabkan segala perilaku kita. Sementara nilai-nilai sosial merupakan pengejawantahan dari nilai-nilai spiritual yang diwujudkan dalam kehidupan saling menghormati, saling mengasihi, saling menyayangi, dan saling melindungi.

Jika tanggungjawab spiritual dan sosial selalu tumbuh dalam hati  kita, insya Allah kehidupan yang damai dan tentram akan tercapai. Namun jika sebaliknya, jika nilai-nilai spiritual dan sosial kita mati, bisa jadi kita akan hidup dalam rimba kebinatangan, saling menerkam, saling berebut kekuasaan, dan saling membunuh. Bahkan bisa jadi, kita akan menjadi “binatang jadi-jadian”  yang berperilaku lebih kejam daripada binatang yang sebenarnya.

“Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam dengan banyak kalangan dari jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannnya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (Q. S. al A’raf : 179). *

 

Penulis,  Praktisi dan Pemerhati Pendidikan Agama Islam, Penikmat Buku-buku Filsafat dan Tasawuf. Tinggal di Cisurupan Garut Jawa Barat.  

Komentar

Loading...