Mengazam Istikamah

Mengazam Istikamah
ilustrasi.the indian ekspres

MASIH relatif semarak. Begitulah aktivitas pelaksanaan ibadah pada minggu awal Ramadhan ini. Meskipun masih dalam suasana pandemi Covid-19, tidak menyurutkan sebagian masyarakat muslim untuk tetap melaksanakan ibadah shalat tarawih dan shalat berjamaah di masjid.

Memang terkadang terkesan lucu. Ketika dalam situasi normal, tidak ada pandemi, tidak ada larangan dari siapapun untuk melaksanakan ibadah shalat di masjid, banyak orang yang enggan beribadah di masjid. Namun,  tatkala ada imbauan untuk tidak melaksanakan ibadah shalat wajib maupun shalat sunat di masjid, banyak orang ingin melaksanakannya di masjid. Tak sedikit yang merengek-rengek kepada pembuat kebijakan agar diijinkan shalat berjamaah dan melakukan kegiatan lainnya di masjid.

Meskipun demikian, mudah-mudahan kita  konsisten beribadah dan melaksanakan berbagai aktifitas kebaikan lainnya di dalam masjid. Sebab, bagaimanapun juga, masjid merupakan simbol keagungan umat Islam. Jika masjidnya sepi dari berbagai aktifitas, berarti sepi pula aktifitas umat, dan hal ini menunjukkan lemahnya semangat umat dalam menyerukan ajaran Islam kepada seluruh manusia.

Kita berharap, semoga bulan suci ini menjadi bulan perbaikan bagi setiap individu, keluarga, tetangga, dan umat Islam pada umumnya untuk semakin meningkatkan pengamalan ajaran Islam dan mengimplementasikannya dalam setiap lini kehidupan. Kita harus mengakui, sampai saat ini kita belum sepenuhnya mengimplementasikan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Ajaran Islam dan kehidupan kita masih laksana garis lurus sejajar. Saling berhadapan, searah, namun tak pernah saling bersentuhan.

Harus diyakini, siapapun yang melaksanakan ajaran Islam, ia akan memperoleh kenyamanan dan keselamatan. Bagi seorang muslim yang berjuang mengimplementasikan ajaran Islam dengan benar selama hidup di dunia ini, ia akan memperoleh kehidupan bahagia di dunia dan akhirat.  Bagi nonmuslim yang menerapkan nilai-nilai ajaran  Islam  dalam kehidupannya, ia akan memperoleh kebahagiaan, kenyamanan, dan ketentraman hidup, meskipun hanya di dunia.

Ba-Yunus & Farid Ahmad (1985 : 65) dalam bukunya Islamic Sociology : An Introduction menyebutkan, “Islam itu sebagai sikap hidup yang bernilai universal, rahmatan lil’alamin. “Jika suatu masyarakat memilih jalan yang bertentangan dengan Islam, niscaya ia akan menuju kepada kerusakan dan keruntuhan, walaupun masyarakat tersebut masyarakat muslim.”

Lebih lanjut, kedua sosiolog tersebut mengatakan, “Sebaliknya, jika suatu masyarakat mengatur dirinya dengan mengikuti hukum ini (ketentuan Islam), atau aspek apapun dari ajaran Islam, ia akan berhasil mencapai kebaikan, meskipun masyarakat tersebut merupakan masyarakat nonmuslim.”

Kita harus mengakui, kesalehan kita baru ada selama di dalam masjid atau ketika di atas sajadah seraya belum maksimal dalam meningkatkan kekhusyukan dan pengabdian kepada-Nya. Sementara itu, tak sedikit orang yang menjadikan ibadah haji dan umrah laksana ‘mesin cuci” dosa. 

Banyak orang yang menjadikan tanah suci sebagai “tempat pembuangan dosa” yang dilakukan selama tinggal di negara asalnya. Setelah pulang dari tanah suci, ia merasa suci, bebas dari dosa, dan  kembali mengotori dirinya dengan perbuatan dosa seraya menceritakan pengalaman ritual dan spiritual selama berziarah ke tanah suci.

Kita berharap pula , semoga kita tak menjadikan bulan Ramadan ini sebagai sekedar “mesin cuci” dosa. Kita semangat beribadah selama bulan Ramadan karena yakin akan memperoleh ampunan Allah, kemudian malas beribadah selepas bulan Ramadan, apalagi jika dengan sengaja kembali melumuri jiwa dengan berbagai dosa.

Konsisten atau istikamah harus benar-benar ditanamkan dalam jiwa. Berbagai kebaikan yang dilaksanakan selama bulan Ramadan harus tetap konsisten dilaksanakan di luar Ramadan. Meskipun berat, kita harus tetap menghunjamkan azam dengan kuat dalam jiwa agar bisa konsisten dalam berbuat kebaikan.

Konsisten atau istikamah, merupakan sikap yang harus kita perjuangkan agar dapat kita miliki dan melekat pada setiap amal ibadah kita, termasuk pada pelaksanaan ibadah selama dan pasca Ramadan. Sikap istikamah akan mengundang kecintaan Allah kepada kita. Dalam hal beribadah,  Rasulullah saw mencintai amal baik yang sedikit namun dilakukan secara konsisten atau istikamah. 

Memang bukan hal yang mudah untuk konsisten atau istikamah dalam beribadah, termasuk ibadah selama bulan Ramadan. Dengan kata lain, melaksanakan ibadah selama  bulan Ramadan itu berat, namun lebih berat lagi  bersikap konsisten melakukan kebaikan selama Ramadan di luar bulan Ramadan. 

Merujuk kepada al-Qur’an, istikamah yang merupakan derivasi dari kata “istaqama” disebutkan sebanyak empat kali, yakni dalam surat At-Taubah : 7; Fussilat : 30; Al-Ahqaf : 13; dan Al-Jinn : 16. Dari keempat surat tersebut istikamah memiliki arti jujur; teguh pendirian; dan tetap berjalan lurus. Jika kita dituntut bersikap istikamah selama dan pasca Ramadan, maknanya kita harus tetap jujur berada di jalan lurus (kebenaran), seraya teguh pendirian atas segala kebenaran pahala yang dijanjikan Allah.

Sering disebutkan, bulan suci Ramadan laksana bulan pelatihan beribadah dan penempaan jiwa agar memiliki akhlak yang baik, memiliki kepekaan sosial dan spiritual. Seorang peserta pelatihan yang baik adalah peserta yang berusaha keras mengikuti berbagai program pelatihan sebaik  mungkin sampai selesai, seraya memiliki tekad untuk mengimplementasikan setiap materi pelatihan yang dipelajarinya dalam dunia kerja yang ia geluti.

Demikian pula dengan bulan Ramadan ini. Kita harus konsisten, istikamah  berada di jalur kebaikan selama bulan Ramadan,  dan  konsisten  dilakukan pula di luar bulan Ramadan. Hanya dengan cara seperti inilah, kita akan meraih hikmah dan derajat keberhasilan dari ibadah shaum yang kita laksanakan.

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kp.Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat. 

Komentar

Loading...