Mengakui Kelemahan Diri

Mengakui Kelemahan Diri
Ilustrasi.net

KEBIASAAN mencari kambing hitam sering kita lakukan, terlebih-lebih ketika kegagalan atau musibah  menimpa. Kata-kata “kalau bukan karena anu, tidak bakalan begini” atau “seandainya tidak berbuat begini, tidak bakalan begini” sering meluncur dari  lidah kita.  Malahan, masih banyak lagi kata-kata “seandainya” yang dituduh sebagai penyebab kegagalan atau musibah yang menimpa kita.

“Jika suatu musibah  menimpamu, janganlah kamu  berkata, ‘sekiranya aku berbuat demikian, tentulah akan kudapatkan demikian dan demikian.’ Tetapi katakanlah, ‘sudahlah ini takdir Allah, dan apa saja yang Dia kehendaki pasti itulah yang terjadi’. Sebab ucapan seandainya dan seandainya itu dapat membuka (pintu masuk) syetan.” (H. R. Muslim).

Lebih dari itu, mencari kambing hitam bukanlah langkah bijaksana. Ia tidak akan dapat menyelesaikan permasalahan yang kita hadapi. Disamping itu, sikap tersebut  menunjukkan adanya kesombongan yang terdampar dalam hati kita. Merasa diri tak punya kesalahan, kelemahan, dan ke-kurangan. Merasa diri serba “wah” adalah sikap takabur.

Ketakaburan itulah yang sebenarnya merupakan penyebab utama kegagalan yang menimpa kita. Bukankah Rasulullah saw mengatakan, Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang tawaduk serta akan merendahkan derajat orang-orang yang takabur?

Imam Ibrahim al-Khawasi, seorang ulama sufi pernah menerima teguran dari seorang kakek, tatkala suatu kegagalan menimpanya. “Janganlah terlalu cepat mengambil keputusan, apalagi  dengan mencari  kambing hitam. Periksalah keadaan dirimu! Berusahalah meraih hikmah yang ada di balik musibah atau kegagalan. Jadikanlah kegagalan atau musibah sebagai obat yang akan menyembuhkan penyakit yang tengah kita derita. Jika kita mau merenunginya, banyak sekali hikmah yang terkandung di balik suatu kegagalan atau musibah.”

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu. Dan boleh jadi pula kamu menyukai  sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu. Allah Maha Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Q. S. 2 : 216).

“Demi Allah. Tak ada satu kesulitan pun yang menimpa diri kamu, hanya pastilah Allah membukakan untuk kamu jalan keluarnya. Di samping itu, memberikan pula berkah-Nya untuk kaum muslimin.” (H. R. Muslim).

Kita harus belajar jujur mengakui kelemahan diri. Kegagalan yang menimpa adalah sebagian dari kelemahan kita. Bukankah sekuat-kuatnya manusia, pada suatu saat akan dikalahkan oleh kelemahannya sendiri?

Tak ada makhluk yang perkasa dan kekal di dunia ini. Hanya Allah Yang Mahakekal dan Maha Perkasa. Selain Allah, fana dan akan rusak binasa.

Mengakui kelemahan diri, berarti mengakui ketidakberdayaan dalam melakukan sesuatu. Laa haula walaa quwwata illaa billaah. Tak ada keberdayaan dalam melakukan sesuatu, kecuali dengan pertolongan Allah.

Sangatlah penting sekali bagi kita untuk melakukan introspeksi dan mengakui kelemahan diri kita sendiri. Dengan mengakui kelemahan dan ketidakberdayaan diri, kita akan selalu bergantung kepada pertolongan dan kekuatan yang diberikan Allah Swt, sehingga timbul suatu keyakinan, apabila kita melakukan sesuatu tak akan takut gagal, sebab Allah yang akan menolong dan menentukan keberhasilannya.

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...