Breaking News

Mengakui Kelemahan Diri

Mengakui Kelemahan Diri
ilustrasi. net

BERTENTANGAN dengan sunatullah (ketetapan Allah) jika kita mengakui sebagai makhluk yang perkasa, merasa memiliki kekuatan dan kekuasaan. Bagaimanapun juga, kita ini makhluk yang lemah. “Dan manusia diciptakan bersifat lemah” (Q. S. An-Nisa : 28).

Dibandingkan dengan  makhluk lainnya, manusia memakan waktu yang lama untuk dapat sedikit memiliki kekuatan dan kekuasaan. Setelah menempuh  waktu puluhan tahun,  barulah seorang manusia mendapatkan sedikit kekuatan dan kekuasaaan. Dikatakan mendapat sedikit kekuatan dan kekuasaan, sebab tidak ada orang yang bisa kekal mempertahankan kekuatan dan kekuasaannya.

Pagar-pagar kehidupan yang telah Allah tetapkan benar-benar membatasi kekuatan dan kekuasaan yang manusia miliki. Ilmu, harta, kesehatan,  kekuatan,   jiwa,  dan fisik yang dimiliki bisa hilang lenyap seketika, misalnya dengan datangnya suatu penyakit.

Kekuasaan yang digenggam kuat juga bisa hilang seketika dengan berbagai sebab, bisa karena pensiun, tersandung masalah hukum pidana, atau direbut orang lain. Demikian pula dengan ilmu, harta, dan yang lainnya.

Namun demikian, dari semua pagar-pagar kehidupan tersebut, kematian merupakan pagar kehidupan yang tak bisa ditawar-tawar lagi kedatangannya. Siapapun orangnya tak akan bisa mempercepat atau memperlambat kedatangannya.

Meskipun manusia makhluk yang lemah, dari sekian banyak makhluk Allah, hanya jin dan manusia saja yang akan menjadi penghuni sorga dan neraka. Lebih dari semua itu, kelemahan manusia tidak menjadikan dirinya sebagai makhluk terhina.

Sebaliknya manusia  menjadi makhluk yang paling sempurna dan mulia dalam penciptaannya (Q. S. al Isra : 70; Q. S. at-Tin : 4). Kekuatan akal dan hati yang Allah berikan kepada manusia menjadikan dirinya memiliki nilai lebih jika dibandingkan dengan makhluk Allah lainnya.

Sayangnya, kita sering merasa jemawa karena memiliki kemuliaan, kekuatan,  dan kekuasaan. Kesombongan sering merajai diri, sehingga mengubur dalam-dalam akan kelemahan diri yang kita miliki. Apapun yang kita miliki serasa hasil jerih payah sendiri, tak ada campur tangan kekuasaan Allah yang telah memberi amanah kehidupan di dunia yang fana ini.

Kesombongan yang menguasai diri hanya akan melahirkan kekuatan, kekuasaan, dan kebahagiaan yang jangkanya bisa dihitung dengan jari. Sampai hari ini tak ada catatan dalam sejarah kemanusiaan, kesombongan seseorang melahirkan jejak-jejak kemuliaan dan kebahagiaan yang hakiki. Fira’un, Hamman pembantu Fir’aun, Qarun, dan Raja Numrud merupakan segelintir contoh orang-orang  yang terkenal dengan kesombongannya.  Mereka mati dalam keadaan terhina.

Hari ini, tepat satu tahun lamanya, Allah membuktikan kelemahan diri manusia di seantero dunia.  Kehadiran virus corona, makhluk kecil, telah melumpuhkan hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Tersebarnya virus ini yang kemudian lebih terkenal dengan sebutan pandemi Covid-19 telah merenggut kekuatan dan kekuasaan yang kita miliki. Jutaan orang di seluruh dunia menjadi korban paparan makhluk kecil yang ganas ini.

Hampir seluruh manusia di seantero dunia ini merasa takut dengan paparan makhluk super kecil yang mematikan ini. Pertanyaannya, masihkah kita akan menyombongkan diri dengan sedikit kekuatan dan kekuasaan yang kita miliki?   

Jika kita telusuri secara hakiki, bisa jadi kehadiran pandemi Covid-19 ini merupakan teguran atas segala tingkah kesombongan diri kita selama menjalani kehidupan. Kita selalu merasa jemawa, senang melanggar rambu-rambu kehidupan yang Allah tetapkan.

Inilah saat yang tepat bagi kita untuk kembali kepada ketetapan illahi seraya mengakui akan kelemahan diri. Kita ini tak berdaya, tak memiliki kekuatan apapun tanpa pertolongan-Nya. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Bagi seorang mukmin, kehadiran pandemi yang benar-benar membatasi semua lini kehidupan harus dijadikan cambuk untuk semakin mengakui akan kelemahan diri seraya semakin berupaya mendekatkan diri dan berserah diri kepada-Nya. Istighfar, mengakui akan kemaksiatan merupakan cara terbaik dalam mengakui kelemahan diri. Bisa jadi, kesulitan hidup yang kita alami pada saat ini karena kemaksiatan dan dosa-dosa yang telah  kita lakukan.

Sementara itu, Allah akan segera menghilangkan kesulitan dengan kemudahan, manakala hamba-Nya benar-benar mengakui kelemahan diri seraya tidak putus asa mencari solusi dari masalah yang tengah dihadapi. Berserah diri,  istighfar, mengakui atas dosa-dosa yang telah dilakukan akan semakin mempermudah mendapatkan solusi dari masalah yang dihadapi.

Syeikh al Imam Ahmad Ibnu Athaillah, seorang ulama sufi,  dalam salah satu karyanya, “al Tanwir fi Isqath al Tadbir” (hal. 116) mengatakan, “Siapapun yang berserah diri kepada Allah ketika menerima suatu ujian, Allah akan mengganti kesulitannya dengan kemudahan, dan mengganti rasa takutnya dengan keselamatan.”

Kita seharusnya menyadari, kita sering melupakan-Nya. Ibadah yang kita lakukan seadanya, tak ada penyerahan total diri kita kepada Allah seraya jarang mengakui kelemahan diri. Hukum dan ketentuan-Nya sering kita abaikan.

Cukup sudah pandemi Covid-19 ini menjadi bukti akan  kelemahan dan ketidakberdayaan diri kita. Sangatlah naif, jika kita masih membangga-banggakan diri atas kekuatan dan kekuasaan yang kita miliki selama ini. Sudah saatnya kita mengakui kelemahan diri seraya melakukan ketaatan  dan kepasrahan kepada-Nya.

Sebagai penutup tulisan sederhana ini, kiranya tafakur Syeikh al Imam Ahmad Ibnu Athaillah atas kelemahan diri dan berpasrah diri atas keagungan dan kekuasaan Allah, layak kita renungkan.

“Sampai kapan kau akan melupakan Aku
sedangkan Aku terus memberimu perlindungan dan kasih
sampai kapan kau tidak mau kembali ke sisi-Ku
demi hidupmu, kau telah menjauh dari jalan-Ku

Kau tahu, Aku mencintaimu sejak dahulu
ketika Kukatakan, “Bukankah Aku Tuhanmu?”
ketika kau bersaksi dan membenarkan keesaan-Ku
lalu, adakah Tuhan selain Aku yang kauharapkan?

Esok, Dia menyelamatkanmu dari bencana nan hebat
ketika ketidakberdayaan meliputi seluruh ciptaan
ketika yang papa menyeru membutuhkan sandaran

seluruh semesta tegak karena Aku dan dengan-Ku
seluruh wujud Kutampakkan lewat kehendak-Ku
apakah di negeri, kekuasaan, dan kerajaan-Ku
kau telah menyandarkan dirimu kepada-Ku.”

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

Iklan Duka Cita Ibunda Bupati Nagan Raya

Komentar

Loading...