Meneroka Akal, Menembus Batas

Meneroka Akal, Menembus Batas
KH. Nisful Laila Iskami

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, bahtera-bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan (suburkan) bumi sesudah mati (kering)-Nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; (pada semua itu) sungguh terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berakal." (Q.S. Al-Baqarah ayat 165)

Akal memiliki peran penting dalam mengarungi bahtera kehidupan. Hanya dengan akal manusia dapat membedakan antara yang hak dan yang batil. Dalam pandangan Imam Al-Gazali, akal merupakan potensi yang dapat menerima dan memahami pengetahuan-pengetahuan yang berdasarkan pemikiran, dan akal mampu menghasilkan produk-produk pemikiran yang canggih.

Namun peran dan kecanggihan akal  tidak akan berarti apa-apa tanpa melibatkan kekuatan spiritual yang akan mengantarnya pada sebuah renungan. Benar adanya, dalam mengarungi bahtera kehidupan terkadang kita "berjumpa" dengan masalah-masalah yang menurut pandangan dhahiriyäh akal bisa dengan mudah diselesaikan atau sebaliknya, masalah yang tengah dihadapi sudah seharusnya terpecahkan sesuai dengan analisa akal. Tapi kenyataannya, solusi yang seharusnya dapat memecahkan masalah berujung pada kebuntuan, alih-alih menyelesaikan masalah, sebaliknya justru malah mendatangkan sejimbun masalah.

Maka di titik itulah, manusia terkadang larut dan menjadi putus asa. Lalu pertanyaannya, dengan apakah akan menopang kekuatan akal atau pikiran sehingga ketika menghadapi suatu masalah bisa dengan mudah memecahkannya dan atau, batin kita tidak bergolak ketika masalah yang kita hadapi tidak terpecahkan?

Dalam perespektif spiritual, kerja akal akan senantiasa lebih "sempurna" bahkan akan lebih bermakna manakala dalam berpikir dan bahkan melibatkan dua komponen penting lainnya; yaitu kesadaran (ruh), dan kalbu (hati). Ruh, sekalipun secara dhahiriyäh tidak terlihat namun ruh memiliki peranan penting menjaga keseimbangan, karena sejatinya, akal, ruh, dan hati satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Demikian juga dengan hati. Peranan hati dalam menopang "kerja" akal sangat berpengaruh bagaimana manusia dalam mengambil tindakan, berpikir dan merenungi apa yang yang dipikirkan sebelum akhirnya direalisasikan sehingga tidak berdampak negatif baik terhadap diri sendiri, orang lain, dan lingkungan.

Berkenaan dengan apa yang saya sampaikan di atas, saya akan menceritakan sebuah cerita, berikut ceritanya:

Di stasiun kereta seorang lelaki tua tengah menggendong cucunya memasuki gerbong kereta. Dengan raut wajah antara bahagia dan sendu lelaki tua mendudukkan anak yang digendongnya di kusinya, kemudian lelaki tua itu mengeluarkan beberapa mainan untuk cucunya, melihat mainan kesayangannya si cucu langsung ceria dan memainkannya, di antara ,mainan yang dimainkannya itu adalah "pesawat-pesawatan", kadang melewati kepala penumpang lain sehingga penumpang yang kepalanya terkena sentuh mainannya memelototi si anak, sontak anak itu lari ketakutan lalu menubruk kakeknya, "Kek, ada orang gila, orang gila, Kek" Rengeknya sambil menunjuk penumpang yang meletotinya. Rengekan si anak itu membuat penumpang lainnya merasa terganggu dan memandang kakek si anak dengan sinis.

Si kakek tampak tidak peduli dengan pandangan sinis beberapa penumpang yang merasa terganggu oleh suara cucunya, sebaliknya ia meminta cucunya tenang dan tidak takut. Sambil memeluk cucunya si kakek bercerita tentang cerita-cerita lucu sehingga membuat cucunya yang semula ketakutan kembali ceria. Si anak kembali bermain-main dengan ceria, kadang berteriak-teriak sehingga membuat beberapa penumpang yang tidur dan atau tertidur terbangun, kemudian seperti serentak memelototi dan memandang tidak suka dengan kakek si anak yang membuat penumpang terganggu.

Si cucu yang ketakutan itu segera digendong dan menyuruhnya agar tidak menangis. Setelah si anak ditidurkan, kakek itu tiba-tiba berdiri. Mula-mula ia minta maaf atas apa yang dilakukan cucunya, "bahwa saya sengaja membiarkan cucu saya bergembira, dan saya sebagai kakeknya tahu apa yang cucu saya lakukan mengganggu bapak-bapak dan ibu. Tapi kenapa saya membiarkan anak saya bergembira meski sesaat, karena kami akan menjemput ibunya yang sedang sakit kritis. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi dengan cucu saya setelah nanti tahu ibunya tidak bisa menyambutnya karena sakit," cerita kakek dengan nada tebata-bata, katanya, "saya benar-benar minta maaf." Kemudian, si kakek duduk di samping cucunya yang sudah tidur.

Mendengar cerita si kakek dari anak yang membuat penumpang hampir satu gebang itu terganggu sebagian penumpang mendatanginya dan meminta maaf sembari memberi santunan*.

***

Dari cerita di atas kita dapat menangkap sebuah gambaran bagaimana akal yang ditopang kesadaran dan hati dapat memahami sebuah sutuasi yang, sekilas, situasi tersebut secara akal seharusnya sang kakek mengajari dan atau memberi tahu cucunya agar tak berisik di tempat umum sehingga membuat orang lain terganggu. Pertanyaannya, apakah mungkin seseorang melakukan sebuah "kesalahan" tanpa ada maksud-maksud tertentu sehingga dengan sangat tepaksa ia harus melakukan hal yang bertentangan dengan akal dan pikiran-pikiran orang-orang kebanyakan? Tentu saja jawabannya tidak seorang pun ingin melakukan sebuah tindakan yang dapat membuat oang lain terganggu, tapi dalam pergaulan sehari-hari tekadang kita tepaksa melakukannya dengan alasan-alasan tertentu sebagaimana yang dilakukan kakek di atas terhadap cucunya.

Pertanyaan di atas hampir mustahil muncul dalam pikiran seseorang bila ia dalam melihat dan mensikapi masalah semata-mata mengukur sebuah  "kebenaran" berdasarkan akal tanpa melibatkan hati.

Lalu bagaimana agar kerja akal mampu menembus batas "kesadaran" manusia tanpa harus menciderai "kefitrahan" akan yang dianugerahi Tuhan kepada kita?  Tentu kesadaran tidak akan muncul tanpa kita melibatkan ruh dan hati. Karena ruh dan hatilah yang secara tidak langsung mengantarkan pikiran seseorang pada sebuah renungan (kesadaran).

KH. Nisful Laila Iskamil

Pengasuh Pondok Pesantren Asy Syifa, Jember, Jawa Timur.

Komentar

Loading...