Menerima Ketentuan Islam

Menerima Ketentuan Islam
Kata Allah.(Ilustrasi)

IDEALNYA setelah kita mengucapkan dua kalimah syahadat, kita harus tunduk patuh terhadap ketentuan Islam.  Dalam khazanah keilmuan Islam, ketentuan Islam disebut syari’at. 

Secara bahasa, salah satu arti dari syari’at adalah jalan. Karenanya sudah menjadi kewajiban seorang muslim menjadikan segala ketentuan Islam sebagai jalan dan pedoman hidup dalam menjalani segala aktivitas kehidupannya.

Namun dalam kenyataannya tidaklah demikian.  Banyak  syari’at  Islam yang kita langgar. Malahan, tak sedikit suara miring dari orang Islam sendiri terhadap orang-orang yang menyuarakan penerapan syari’at Islam dalam kehidupan.

Argumen-argumen yang berdasarkan rasio selalu menjadi sandaran dalam menolak penerapan syari’at Islam. Padahal tidak semua ajaran agama apapun, terlebih-lebih Islam dapat dipahami berdasarkan rasio belaka.

Keimanan harus menjadi sandaran utama dalam menerima syari’at Islam. Salah satu makna dari keimanan itu sendiri adalah menerima dengan penuh keyakinan akan kebenaran yang digariskan Allah dan Rasul-Nya, seraya menundukkan akal atas segala ketentuan-Nya.

Al-Farabi, seorang filosof muslim berpendapat, tidak semua ketentuan dan ketetapan agama dapat diuji kebenarannya dengan rasio manusia semata. Karena kedudukan ketentuan dan ketetapan agama lebih tinggi martabatnya daripada rasio manusia.

Tentang keterbatasan rasio dalam memahami suatu ketetapan agama, Imam al Ghazali memberikan perumpamaan dalam sebuah kisah yang menarik.

Alkisah seorang saudagar kaya membangun villa mewah di atas bukit yang dikelilingi berbagai pepohonan yang rindang. Dari atas bukit ia dapat melihat indahnya pemandangan ke berbagai arah.

Layaknya sebuah villa, di sekelilingnya dibuat pula taman indah yang ditanami berbagai rerumputan dan bunga-bunga nan wangi.  Karena villa tersebut tidak ia tempati setiap hari, untuk menjaga dan merawatnya ia mempekerjakan seorang pembantu.

Sang pembantu yang setia kepada majikan benar-benar memperhatikan dalam merawat villa tersebut. Dalam setiap mengunjungi villanya, sang majikan selalu berpesan kepada pembantunya agar rumput-rumput di pinggir taman jangan dipotong. Ia menyuruh pembantunya untuk membiarkannya tumbuh seadanya.

Berkali-kali sang pembantu meminta izin untuk merapikannya, namun sang majikan selalu mencegahnya. Rumput tersebut memang mengeluarkan bau nan wangi, terutama di pagi hari dan malam hari. Namun bentuknya kurang menarik.

Sang pembantu yang cekatan tetap ingin menghilangkan rumput tersebut, tujuannya agar taman terlihat lebih cantik. Kemudian, sang pembantu menanam berbagai bunga warna-warni yang baunya nampak lebih wangi daripada wanginya rerumputan yang ditanam majikannya.

Dalam pikirannya, majikannnya akan lebih menyenangi bau wangi bunga-bunga yang ditanamnya.  Wangi rerumputan yang ditanam sang majikan benar-benar sudah tertutup bau wangi bunga-bunga yang ditanamnya.

Tanpa mengindahkan peringatan dari majikannya, sang pembantu tersebut membabat habis rerumputan di sekeliling taman. Memang taman jadi nampak begitu indah, pandangan jadi terasa luas tanpa terhalang lagi dengan tingginya rerumputan.

Ia berpikir, majikannya akan merasa senang melihat tamannya tertata terlihat lebih indah. Namun khayalannya buyar.  Menjelang malam hari, ia merasa heran di taman terdapat beberapa ekor ular berkeliaran. Dengan sigap ia segera memburu, membunuh, dan mengubur bangkainya.

Keseokan harinya, ia pun menemukan kembali ular berkeliaran di taman dan di sekitar villa. Keadaan ini berlangsung setiap hari. Ketika hal tersebut disampaikan kepada majikannya yang datang untuk beristirahat di villa tersebut, ia berkata, “Bau rumput yang aku tanam merupakan tanaman yang tak disenangi ular, serangga,  dan binatang beracun lainnya. Selama ada bau rumput tersebut, ular, serangga,  dan binatang beracun lainnya akan menjauh dari taman dan sekitar villa.”

Sampai disana dulu kisah perumpamaan  rasio dalam memahami suatu ketetapan. Terdapat ibrah atau pelajaran dari kisah tersebut. Sang pembantu telah berhasil memahami bau wangi rerumputan yang ditanam majikannya.  Ia pun menyenanginya.

Namun di sisi lain, ia gagal mengambil hikmah atau manfaat dari  aroma wangi yang keluar dari rerumputan tersebut. Rasio  mendorongnya untuk mengganti dengan tanaman yang nampak lebih wangi dan lebih indah dilihat.

Dalam hal memahami syari’at Islam kita sering berperilaku seperti sang pembantu dalam kisah tersebut. Kita sering memandang ketentuan berdasarkan rasio lebih indah dan lebih benar daripada ketentuan Allah dan Rasul-Nya.

Benar, terdapat beberapa ketentuan syari’at  Islam yang rasio mampu memahaminya. Segala hikmah dan ketentuannya rasional. Namun demikian, ada pula beberapa ketentuan syari’at Islam yang nampak  irrasional. Ketika menghadapi ketentuan syari’at yang nampak irrasional, mengikuti keimanan, keyakinan,   dan kepasrahan untuk menerimanya harus lebih dikedepankan daripada mengikuti kebenaran secara rasio.

Kita harus semakin memperteguh keimanan, semua syari’at Islam sudah Allah tentukan sesuai dengan kemampuan manusia dalam menanggungnya.  Ia mustahil membebani hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Selain itu, Allah menentukan segala ketentuan syari’at adalah untuk kemaslahatan hidup para hamba-Nya, bukan untuk mempersulit kehidupannya.

Yakinkanlah dengan penuh keimanan, “Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur’ (Q. S. al Maidah : 6).

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan  Garut  Jawa Barat.

Komentar

Loading...