Menemukan Perbedaan Jalan Moral Anak dan Orang Tua dalam Novelet Autobiografi Sebuah Ban Karya Gerson Poyk

Menemukan Perbedaan Jalan Moral Anak dan Orang Tua dalam Novelet Autobiografi Sebuah Ban Karya Gerson Poyk
Gerson Poyk

Oleh: Mezra E.Pellondou, S.Pd.M.Hum.

Cerita berjudul Autobiografi Sebuah Ban; merupakan salah satu dari lima novelet dalam  buku kumpulan novelet Seribu Malam Sunyi, karya Gerson Poyk.  Buku ini memuat lima novelet yaitu; (1)  Autobiografi Sebuah Ban; (2) Seribu Malam Sunyi; (3) Kecil itu Indah, Kecil itu Cinta; (4) Ibu selalu Hidup dalam Jiwaku; (5) Bunga-Bunga Bangsa.  

Semua cerita dalam novelet ini ditulis Gerson Poyk saat usianya mencapai 41 tahun, sesaat setelah penulis kembali dari Amerika Serikat dan dalam kondisi tidak bekerja pada surat kabar atau majalah manapun di Indonesia. Diakui sendiri oleh penulis, jika sekitar  tahun 1971 tersebut ia tidak menulis maka ia akan mengalami kesulitan finansial yang berdampak pada kreativitas menulisnya juga. Seperti lingkaran siklus yang saling terhubung,agar lingkaran itu  terus mengelinding pada kehidupan sekaligus tetap utuh sebagai sebuah lingkaran. Seberapa hitampun identitasnya,maka   menulis adalah pilihan jalan tengah, sebuah jalan moral untuk mengatasi kendala absurd pengarang. Pengarang bisa bertahan melanjutkan hidupnya sebagai manusia sekaligus tetap sehat untuk melanjutkan kreativitas.  

Alasan Gerson Poyk ini menyentuh  refleksi kritis saya bahwa Gerson selain sebagai penulis juga menjalankan panggilan sebagai “manusia  orangtua”  yang mengatasi kendala absurd dengan memilih jalan moral sebagai jalan  tengah kehidupan   kreativitasnya untuk mengatasi kesulitan hidup berkelanjutan, baik sebagai manusia pribadi maupun sebagai manusia  berkeluarga. Lantas, seperti apa tokoh-tokoh “anak”  dan “orangtua” dalam jalan kreativitas Gerson Poyk ketika diperhadapkan dengan absurditas hidup? Saya sangat ingin menggalinya dari salah satu cerita Gerson dalam Seribu Malam Sunyi. 

Pada kesempatan ini saya menganalisis Sikap Tokoh Anak dan Orangtua  dalam  Menemukan  Jalan Moralnya dalam  Autobiografi Sebuah Ban Karya Gerson Poyk yang saya beri judul Menemukan Perbedaan Jalan Moral Anak dan  Orang Tua  dalam  Novelet Autobiografi Sebuah Ban Karya Gerson Poyk 

Cerita  Autobiografi Sebuah Ban; menampilkan dominan setting kehidupan masyarakat rumah petak,yang dihuni berbagai tipikal tokoh dengan profesinya masing-masing mulai dari tukang pijat,pelayan bar tidak bergaji hanya mengandalkan tips dari tamu/pengunjung. Para tokoh itu beranak pinak memenuhi rumah petak, hingga ada juga yang  berstatus orangtua,  anak-anak hingga pemuda, mulai dari siswa SD,SMP.SMA,PGA dan SMEA. 

Pengarang memilih  sudut pandang orang pertama serba tahu dalam mengurai kisah-kisahnya dan meminjamkan peran utama pada sang narator, yang sekaligus memperkenalkan tokoh-tokoh yang muncul pula dalam kehidupan masyarakat rumah petak itu, yaitu seorang pemuda tigapuluh tahun asal Sumatera yang terdampar bersama seorang janda pelayan bar  dalam rumah-rumah petak tersebut. Dari sinilah cerita dimulai, sehingga tipikal tokoh dan profesi yang  menggerakan cerita bermunculan lebih spesifik lagi mulai dari tukang pijat buta yang hobi mendengarkan cerita pendek dan novel yang dibacakan isteri dan anak-anaknya, hingga seorang lelaki muda yang suka menulis cerita dan tidak tahan melihat penderitaan orang lain, apalagi orang yang berprofesi dan memiliki hobi  yang sama dengannya. 

Semua tokoh cerita dikumpulkan pengarang dalam kehidupan masyarakat rumah petak yang marginal,memiliki seperasaan senasib, kuat menyatu karena  tingkat kemampuan ekonomi yang terbatas, namun sangat peka dalam hal sentuhan persaudaraan hidup bertetangga,saling menghargai,menyayangi,tolong menolong,saling mengawasi dan sangat kompak.  Hal itu sangat terasa ketika mereka semua, penghuni rumah petak itu menerima kehadiran seorang lelaki tigapuluh tahun asal Sumatera yang menumpang tinggal di ruah petak tersebut setelah lari dari kampung halamannya meninggalkan bangku kuliah juga pekerjaannya hanya ingin mencari tokoh pengarang idolanya yang dianggap sebagai guru kehidupannya.  Sang lelaki itu gagal menemukan sang pengarang  karena telah hijrah ke luar negeri lantaran belum berkembangnya industri buku dan perbukuan di negerinya sendiri. 

Gagal menemukan sang pengarang pemuda tiga puluh tahun itu terdampar  bersama seorang janda pelayan bar di rumah petak itu. Rasa kecewa yang mendalam berakibat lelaki itu sakit keras dan perlu dibawa ke rumah sakit dan ditangani seorang psikiater. Lelaki itu kesehariannya memilih  tidur di atas karton bekas beralas tikar berbantal sebuah ban luar /ban  bekas mobil.Saat ditemukan dalam keadaan sakit, lelaki itu diketahui sedang  menulis sebuah novel yang belum selesai berjudul Percakapan dengan Ban. Justru di saat-saat sakit dan butuh  uang untuk makan dan berobat,lelaki 30 tahun dengan kesadaran tinggi kehabisan uang itu akhirnya menawarkan novel tulisan tangan karyanya yang belum selesai pada warga masyarakat rumah petak. Jalan moral ini yang dipilih lelaki atau pemuda pengarang tersebut. 

Dengan kesadaran senasib dan sepenaggungan,seorang tukang pijat buta, salah satu warga rumah petak yang  hobi mendengarkan cerita pendek dan novel yang dibacakan isteri dan anak-anak tersebut tertarik dan membeli naskah tersebut seharga lima ribu. Jalan moral kah atau sebuah pemenuhan kepuasan psikologis  untuk mendapatkan bahan bacaan yang bisa dibacakan padanya oleh isterinya?. Seorang tetangga rumah petak lainnya yaitu seorang  lelaki muda yang suka menulis cerita pun ikut membayar beberapa ribuan untuk cerita tersebut setelah meminta orang membacakan halaman pertama dari kisah tersebut. Akhirya lelaki tiga puluh tahun  yang sakit berhasil mengatasi kendala absurdnya,berhasil di bawa ke rumah sakit agar bisa sembuh dan   melanjutkan hidupnya. 

Kendala absurd dalam cerita ini diawali dengan perihal “urusan perut”,  yang memang rata-rata merupakan perjuangan berat masing-masing warga masyarakat rumah petak tersebut. Akhirnya, setelah sembuh, pemuda tokoh utama dalam cerita ini  membuka usaha warung, yang menurut saya sebuah kelanjutan darai jalan moral yang dipilih anak muda tersebut. Pemuda tersebut tidak sendiri, ia merintis usaha warungnya    bersama I’Is janda  penghuni rumah petak yang bekerja sebagai  pelayan bar, serta I’In sahabat janda tersebut agar  bisa menolong para  perempuan bar yang miskin. Tampak sekali, Gerson benar-benar menyiapkan tokoh pemuda ini dengan sebaik-baiknya sebagai seorang anak muda yang sangat sadar memilih jalan moral saat berhadapan dengan berbagai kendala absurd dirinya dan sekelilingnya. Bahkan untuk mempertegas jalan moral tokoh pemuda ini, Gerson Poyk sebagai pengarang memilih “mematikan” tokoh penting yang selama ini telah berkontribusi menjadi salah satu mitra kunci  pemuda tersebut dalam merintis  usaha warungnya. Gerson mungkin ingin mempertanyakan “kepedulian, dan belas kasihan” manusia bumi yang konon mulai  sangat langkah diperlihatkan pada zaman yang semuanya serba uang ini. 

Perhatikan cara Gerson menempatkan tokoh pemuda itu berkomitmen melangkah di jalan moralnya, dengan kelanjutan cerita yang menggambarkan usaha warung maju pesat, kehidupan warga Rumah Petak beranjak menjadi lebih membaik. Bahkan kadang tukang pijat buta juga harus melayani order pijat di warung, serta para warga rumah petak bisa makan dan berhutang. Sayangnya, I’Is harus tewas ditabrak mobil dan usaha warung dilanjutkan oleh orangtua,dan anak-anak serta saudara I’Is yang datang dari kampung. Lelaki tiga puluh tahun itu harus “bertanggungjawab” pada delapan orang hanya untuk menggantikan seorang I’Is yang meninggal. Jika pemuda itu tidak komitmen pada jalan moral, tidak mungkin ia merasa harus “bertanggungjawab” pada delapan orang hanya untuk menggantikan seorang I’Is. 

Pada bagian pengisahan ini, bisa saja refleksi kritis  sebagian pembaca memosisikan tokoh pemuda itu sebagai manusia “tidak waras, manusia bodoh dalam berbisinis ” yang berani mengeluarkan (membiayai) sebanyak-banayaknya untuk hasil yang tidak seimbang. Ya, hukum ekonomi kadang tidak dipakai dalam logika belas kasihan. Belas kasihan itu yang dipilih tokoh pemuda, untuk terus  berkomitmen di jalan moralnya.  Sang Pengarang Gerson Poyk  tidak henti-hentinya menyebarkan ajaran “kasih” dan belas kasihan untuk mematahkan hukum ekonomi, bahkan untuk  menumbangkan keserakahan. Gerson sedang berbicara pada pembaca perihal sejatinya manusia tidak boleh diperbudak oleh material dan menghancurkan kemanusiaan. 

Namun jika manusia-manusia yang berkontak dengan tipikal tokoh pemuda bermoral itu tidak memiliki jalan moral atau   tidak diperlihatkan tanggungjawab moralitasnya sebagai manusia yang sudah menggantikan I’is,  tidak bersyukur dan bekerja keras bersama sang pemuda merintis jalan hidup yang baik untuk melanjutkan kehidupan di muka bumi ini dengan lebih bermartabat, maka  secara tidak langsung orang-orang yang berada di jalan moral telah “menciptakan” manusia-manusia tamak dan rakus, serta  bermental subsidi. Mereka akan menjadi generasi yang  memberlakukan hukum timbal balik pada porsi yang tidak tepat dan tidak berperikemanusiaan dan berkeadilan sosial. Satu berbanding delapan, sungguh tidak seimbang secara ekonomi apalagi  digambarkan delapan orang tersebut bukan hanya orangtua I’Is  namun juga keluarga dan kenalan. 

Hal menarik dan memotivasi manusia mengupayakan dirinya sebagai manusia unggul dalam hal berbelas kasihan dengan memiliki nilai kemanusiaan yang tinggi memang harus berproses dalam serentetan kerumitan. Pengarang Gerson Poyk tidak membuat para tokoh ceritanya sebagai manusia-manusia yang muda menyerah dan berputus asa. Bahkan seseorang  dalam kondisi yang sangat  buruk sekalipun behasil menyelamatkan hidup lebih banyak orang lagi. Hal ini belum tentu bisa dilakukan oleh orang normal  yang kaya raya dan berkelimpahan materi.Terbukti ketika di akhir cerita memperlihatkan kedatangan orangtua si lelaki tiga puluh tahun itu dari Sumatera yang ternyata sangat kaya- raya dan memiliki usaha pertambangan dan perminyakan. Mereka membeberkan kisah yang memilukan dan tragis ternyata lelaki tiga puluh tahun yang merupakan anak mereka itu mengidap penyakit jiwa dan lari dari rumah. Otaknya pernah dirontgen dan sedang dijadwalkan untuk dibedah di Singapura. Refleksi kritis segelintir pembaca yang berpihak pada tokoh lelaki tersebut akan mempertanyakan “penyakit jiwa”. Mungkinkah seorang yang berpenyakit jiwa bisa “mengelola” sumber daya manusia-manusia Rumah Petak dalam lingkaran kerumitan hidup yang tidak pernah selesai?Mungkinkah cara pandang bisa menimbulkan klaim, maka sesungguhnya yang mengidap  “penyakit jiwa”, tokoh orangtuakah atau tokoh pemuda itu?.  

Tampak sekali Gerson Poyk  membentuk tokoh-tokohnya dalam berbagai absurditas dan kemustahilan. Kendala absurd tokoh lelaki tiga puluh tahun yang mencari pengarang idolanya untuk dijadikan guru kehidupannya melewati berbagai kemustahilan-kemustahilan atau ketidakmungkinan.Absurditas kemustahilan sudah tampak sejak lelaki dengan peringkat tertinggi di sekolahnya dan sempat mengenyam pendidikan perguruan tinggi harus meninggalkan semua itu hanya  untuk mencari seorang pengarang yang hanya dikenal lewat karya-karya yang dibacanya. Sangat kontradiktif karena lelaki itu  pergi ke belantara  Jakarta  hanya bermodal karya sang pengarang yang tersimpan di otaknya bukan alamat. Nama sang pengarang dan karyanya  menjadi modal lelaki itu  menanyakan alamat pengarang tersebut pada  setiap orang  yang ditemuinya di Jakarta. Mungkin kita bisa menunduk sejenak, dan mengangguk kecil bahwa komitmen pada sebuah impian, entah cita-cita,harapan atau sekadar keinginan membutuhkan komitmen yang kadang di mata orang-orang pesimis komitmen seperti yang dijalani pemuda itu merupakan sebuah kegilaan. Ya, Penyakit Jiwa, menurut Bahasa orangtua si pemuda.

 Dilihat dari rekam jejak perjalanan tokoh pemuda itu memperlihatkan informasi yang didapat  selalu tidak pasti, berbeda, dan  selalu berubah-ubah namun lelaki itu  terus mencari sang pengarang itu bahkan hingga ke kolong jembatan dan jalan layang  kota Jakarta. Orang-orang  yang ditelpon  untuk ditanyakan alamatnya pun harus gusar dan marah sehingga  mengatakan cari sendiri   alamatnya di Indonesia, atau di kotak-kotak pos namun lelaki itu tidak pernah berhenti mencari, hingga akhirnya dia berhenti dan terdampar di rumah petak  dalam kekecewaan karena informasi terakhir yang diperoleh sang pengarang telah hijrah  ke luar negeri. 

Kendala absurd yang lain muncul, ketika lelaki muda itu sakit dan hendak berobat namun tidak memiliki uang. Kesadaran (kerinduan)  untuk sembuh membuatnya menjual novel  tulisan  tangannya yang belum selesai ditulisnya. Gerson menampilkan tokoh-tokoh eksistensial yang membantu tokoh lelaki pengarang novel itu agar bisa menemukan jalan keluar, yaitu munculnya tokoh Tukang Pijat Buta yang membeli seharga  lima ribuan novel yang belum selesai dituis tersebut karena kegemarannya adalah dibacakan cerpen dan novel oleh anak-isterinya. Muncul tokoh eksitensial lainnya yaitu seorang pemuda yang rela membayar beberapa ribuan  untuk mendengar orang lain membacakan halaman pertama dari novel  Percakapan dengan Ban itu.   

Cara Gerson Poyk menciptakan tokoh-tokohnya saat bertindak menghadapi absurditas dan kemustahilan adalah menerimanya menjadi sebuah eksitensi hidup. Seandainya sang tokoh  lelaki pengarang novel itu tidak mempertahankan hidupnya dengan menerima tiga tokoh yang bermain dalam kehidupannya, tidak mungkin sang tokoh bisa memenangkan hidup. Terbukti setelah sembuh dari sakit, lelaki  muda yang semula   kecewa itu akhirnya bisa  menerima berbagai kendala absurd sebagai eksistensi dirinya sebagai manusia,bahkan  sang tokoh mampu memenangkan tokoh-tokoh lain,menerima dan memberdayakan mereka melanjutkan hidup dengan membuka warung. Kesempurnaan atau kesuksesan usaha warungnya diperoleh melalui ketidaksempurnaan para tokoh lainnya yang dajak berkongsi, misalnya seorang pelayan bar yang selalu pulang dinihari kadang tanpa hasil atau uang tips dari tamu. Dalam ketidaksempurnaan itu mereka berkongsi. Pelayan bar akhirnya berfokus pada usaha  warung dan kehidupan perlahan bisa lebih membaik. Bahkan hingga akhir cerita pun masih  menggantung kontradiksi lantaran menurut orangtua dari anak lelaki 30 tahun,sang anak   lari dari perawatan di rumah sakit jiwa  lantaran penyakit jiwanya sering kumat. “banyak terimakasih . Bapak telah menolong anak kami. Sebenarnya, di kota kami, ia dirawat di rumah sakit jiwa. Tetapi, ia lari tak tentu rimba setelah  agak sembuh” kat si ibu.

Dari puisi-puisi yang sempat ditulis sang anak tentang orangtuanya, tergambar jelas bahwa sakit jiwa  sang anak adalah kendala absurd bagi orangtuanya yang kaya raya itu, dan penolakan atas eksitensi diri sang anak oleh orangtuanya membuat sang anak selalu kumat berada di rumahnya sendiri. 

“Orang gila saja yang mengira dunia ini surga” kata sang ayah yang kaya itu .  

 “Selama ia tinggal di petak itu,apakah ia pernah kummat?” tanya sang ibu

“Tidak pernah tampaknya”,kataku

  Tampak pengarang menggerakkan tokoh lelaki itu sebagai lelaki yang baik  peduli dan welasa sih dengan  warga masyarakat rumah petak yang rata-rata memang  kuat sentuhan persaudaraan,saling menghargai,saling mengasihi,merasa senasib dan sepenanggungan.  Sang anak menemukan dan menerima eskistensi diri semua penghuni rumah petak, juga sebaliknya mereka menerima eksitensi diri sang anak tanpa harus menjadi sama.

Eh, aku tersadar dari lamunanku Ketika melihat janda  tetanggaku menggelatakan tubuhnya di lantai dan kepalanya termuat di ban. Ia segera tertidur nyenyak,tampak ia sangat lelah. Mulutnya berbau minumman keras,entah bir entah wiski. Anak-anaknya sedang apa di petak sebelah? Aku bangun dari dudukku dan melihat anak-anak itu. Ternyata keduanya sudah tidur di lantai. Di pinggir tubuh mereka ada dua bungkus nasi goreng yang kertasnya sudah terbuka. Masih ada nasi pada masing-masing kertas yang terbuka,cukup untuk makan besok tetapi celakanya ada kecoak yang hinggap di nasi goreng itu. Aku segera membungkusnya dan menggantungnya di dinding gedek. Esok aku harus menyuruh  mereka memanaskan dulu nasi goreng sisa itu sebelum mereka memakannya 

Berbagai kontroversi paradoks,antinomi,konflik,sengketa yang muncul saat pemuda pengarang itu berusaha menyatu dalam kehidupan rumah petak namun justru sang pemuda sangat  diterima oleh semua warga di sana. Paradoks dan kontraversi   juga tampak  dalam berbagai hubungan perkongsian membuka warung antara dirinya dengan janda yang dulunya pelayan bar  serta para pembeli atau  pelanggan warung yang rata-rata bukanlah manusia yang sempurna menurut kacamata normatif manusia namun  saling memahami dan bisa bekerjasama. Penerimaan esksitensi diri bukan berarti membuat sebuah penyatuan dan menjadikannya sama, namun memperkuat penghargaan, saling membutuhkan  dan saling peduli. Hal itu berhasil dilakukan oleh laki-laki muda atau sang pemuda yang oleh orangtuanya diklaim  sebagai anak yang mengidap Penyakit Jiwa.

Perhatikan monolog tokoh lelaki muda  (aku)  tentang  janda, yang menjadi  sahabat teman kongsi tokoh lelaki muda itu  merintis warung di rumah petak berikut ini.

” Ia adalah perempuan tertatih-tatih memikul beban hidupnya   siang malam menuju puncak penderitaan bernama ajal. Sebelum ajal tiba,tubuh jiwanya telah setengah hidup. Sebagian dari hidupnya telah mati dan aku sangat prihatin pada situasi kemanusiaan yang demikian”

Sebelumnya saat janda itu tertidur dalam kelelahan, sang pemuda itu juga sempat bermonolong berikut ini:  ”Jadi, kalau  aku melihat janda di sebelah rumahku ini, kalau aku melihat anak-anaknya tidur di tikar,maka bersatulah duka mereka dengan dukaku,jadilah ia salib yang sangat berat dalam batinku dan aku tidak dapat memikul dan membuangnya,kecuali memikulnya dengan tabah,mengiring penebus dunia……

Bagi pengarang Gerson Poyk, berada di jalan moral,  penerimaan terhadap kendala absurd tidak identik dengan menjadi sama dan serupa. Ada upaya pengarang menciptakan  “sempurna” lewat moralitas tokoh pemuda yang “tidak sempurna” menurut pandangan orangtuanya  untuk menyelamatkan “ketidasempurnaan” para penghuni rumah petak dan warga   lingkungan sekitar. Bahkan moralitas memperlihatkan kesetiaan yang juga dijunjung tinggi oleh tokoh pemuda itu. laki-laki muda  diciptakan pengarang sangat berakhlak pada janda - metafora pada orang-orang terbuang- sama kuatnya seperti pada kekasih -metafora pada orang-orang terdekat. Ini sungguh langka ditemukan pada manusia-manusia modern yang saling asing, tidak peduli, saling curiga dan cenderung berkhianat pada suara hati.      

 ….oh setiap  langkah manusia dalam detik-detik kefanaan di malam rumah gedekku,adalah beban kehidupanku. Aku tidak mau terlibat dengan lumpur yang dibawahnya dari luar,dalam malam gemerlapan bar yang kejam. Aku takut pada Aids. Aku tak mau membawa lumpur Jakarta dalam tubuh janda itu, ke tunanganku  di kampung kelak.   

Manusia-manusia yang  cenderung menolak eksistensi  diri kadang cenderung pula memilih jalan tidak bermoral. Hal ini  tergambar jelas dalam tokoh yang tampak terlihat bermartabat sebagai manusia normal, sukses dan kaya raya pada cerita ini namun telah memosisikan kelas-kelas sosial untuk mematikan langkah manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Tampak tipikal itu dominan pada  orangtua sang lelaki tiga puluh tahun ini.  Orangtua sang anak sulit menerima eksisternsi diri sang anak. Saat ayahnya menemukan anaknya di rumah petak  bersama warga lainnya dengan berbagai tipikal dan profesi, perhatikan apa yang ayahnya katakan? Sekali lagi penolakan terhadap sang anak diucapkannya dengan lantang oleh sang ayah.

“inilah anak lelaki saya di antara anak-anak saya yang jadi dokter ,insinyur,dan direktur pabrik,.. yang membikin malu keluarga”

Penolakan sang ibu hampir mirip walau diucapkan dengan kesombongan yang samar 

“Sudahlah, jika ia  mau tinggal di sini,kita beli saja seluruh rumah petak ini”

Sebagai orangtua yang kaya raya, mereka mengira harta dan kekayaan (uang) bisa membeli segalanya dan bisa digunakan untuk “membunuh” atau melenyapkan  tokoh ketiga, bernama kendala absurd dari panggung  kehidupan. Seberapa keras pun mereka berusaha  justru semakin besar kemustahilan dan ketidakmungkinan berlomba memasuki pikiran dan kehidupan mereka. 

   Orangtua sang anak berprinsip bahwa tidak mungkin kesempurnaan bisa diperoleh dari  ketidaksempurnaan. “dulu otaknya sudah dirontgen di luar. Terpaksa kami harus memberangkatkannya lagi ke tempat yang dahulu untuk segera dioperasi”  Dengan prinsip seperti itu sang orangtua hanya  bisa memberi panggung pada  dua tokoh kehidupan yaitu kesadaran (kerinduan) dirinya untuk menyatu dengan dunia sang anak namun sekaligus  telah “membunuh” sang anak dengan menolak eskistensi diri sang anak.

Membaca novelet, Autobiografi Sebuah Ban seakan ingin memastikan bahwa saya sedang membaca diri sendiri, serta setiap manusia yang selalu bergulat mengatasi kendala-kendala absurd dalam bentuk dirinya sendiri, waktu maupun dunia atau semesta yang begitu rumit. Pengarang memilih menerima kesadaran dirinya sebagai pengarang untuk terus menulis agar bisa menyatu dengan  pembacanya dan kehidupan  dunia, dan menerima semua kemustahilan dan kontradiktif hidup   menjadi beban salib atas kehidupannya. 

Tokoh-tokoh dalam novelet Autobiografi Sebuah Ban secara umum benar-benar menggambarkan manusia adalah petualang di bumi Tuhan dan memiliki kehendak bebas untuk kreatif dengan pilihannya menerima  berbagai kendala absurd sebagai kenyataan eksistensial dirinya. Walau begitu, tampak sangat jelas perbedaan sikap tokoh Anak (pemuda) dan Orang Tua (orang tua dari sang pemuda) ketika  disodorkan untuk berdamai dengan dunia. 

Tokoh anak (pemuda pengarang) memilih berdamai dengan dirinya sendiri sejak mulai lari dari rumah hingga  gagal menemukan pengarang idolanya dan harus terkapar di rumah  petak dalam kondisi sakit yang mengenaskan dan kesulitan finansail. Saat pemuda itu telah tuntas berdamai dengan dirinya, ia bahkan “sukses” atau mampu  dengan kesadaran penuh  menerima dan mengelola  “dunia” baru dalam berbagai eksistensi  tipikal manusia dengan profesinya masing-masing mulai dari tukang pijat buta ,janda,pelayan bar tidak bergaji hanya mengandalkan tips dari tamu/pengunjung. Para tokoh itu beranak pinak memenuhi rumah petak, hingga ada juga yang  berstatus orangtua,  selain anak-anak hingga pemuda. Dalam eksistensi ketidaksempurnaan diri dan juga dunia yang memang tidak sempurna ini,  tokoh laki-laki  pemuda tersebut tidak memilih menantang  kepahitan  kehidupan termasuk kematian  agar bisa terus bertahan hidup; tidak juga  menerima kepahitan hidup dan menunggu hingga saatnya kepahitan hidup mematikannya dan ia telah siap menjalaninya,termasuk kematian. 

Namun tokoh pemuda itu ,menunjukan karakter eksistensi manusia-manusia ketimuran yang khas,menerima menderita,bahkan tidak nyinyir,tetapi rela menerima  ketakutan terhadap maut sekalipun, namun  tanpa harus memosisikan diri sebagai pejagal atau penyingkir paling sadis. Dalam kehidupan yang sangat mengenaskan sekalipun, laki-laki pemuda itu  tidak pernah sampai pada suatu pilihan atau perbuatan  seorang skeptik yang membunuh diri (sucide) ataupun membunuh orang (murder)  sekalipun harus berhadapan dan terbungkus dengan kondisi absurditas atau kendala-kendala  absurd yang sangat rumit, dan peluang untuk itu terbuka lebar untuk bisa dilakukannya. Gerson Poyk memilih jalan tengah pada tokoh pemuda itu,membiarkan “tokoh lain”, atau “peristiwa lain” ikut  menyelesaikan sebuah kerumitan dibandingkan tokoh pemuda  menyelesaikannya dengan cara suicide. 

Memang, beberapa peristiwa kecelakaan berakibat kematian dalam cerita terjadi namun mematikan tokoh oleh persitiwa tidak terduga, dan oleh kecelakaan lebih dipilih pengarang untuk beberapa peristiwa yang sesungguhnya merupakan hal tidak terduga. Jadi  bukan sebuah rencana atas sebuah kesadaran diri tokoh cerita  melenyapkan orang lain untuk sebuah eksistensi.  Gerson Poyk bahkan selalu saja berulang kali meyakinkan kita, saat berdiskusi dengan penulis, bahkan ketika menuliskan pemikiran-pemikiran eksistensialisme ia selalu mengatakan dengan sangat tegas  bahwa tindakan meniadakan adalah semata cuma sebuah nihilisme belaka, karena pada dasarnya tidak ada yang benar-benar sempurna dan tidak ada yang benar-benar nihil. Manusia dengan konsep monistik tidak dapat dipisahkan dari kenyataan Tuhan. Kesempurnaan bisa diperoleh melalui ketidaksempurnaan,keseluruhan merupakan rekonstruksi dari bagian-bagian,kebaikan diperoleh dan dipahami  justru dari pemahaman dan pengalaman manusia akan keburukan setan. Dan seperti itulah eksistensi hidup.  Rupanya semua pemikiran eksistensialime tersebut nampak sekali dari cara pengarang menggerakkan perjalanan kehidupan tokoh pemuda dalam cerita   Autobiografi Sebuah Ban.

            Tokoh Orangtua dalam kisah Autobiografi Sebuah Ban, justru sebaliknya memperlihatkan sikap berbeda  dengan sang anak ketika menghadapi eksistensi diri sang anak (Pemuda) dan  lingkungan sosial dan psikolis sang anak.  Sang orang tua cenderung berupaya    melenyapkan (menyangkal eksistensi diri sang anak)  dan mencoba membanding-bandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain yang rata-rata dokter, insinyur dan direktur pabrik  dan  semuanya sukses. Orang tua dalam kisah ini  cenderung menuntun anak berpikir secara monistik, termasuk ketika menemukan perubahan diri positif pada diri sang anak pun orangtua masih saja ingin “mengembalikan” sang anak pada “masa lalunya”, dan tidak mengakui eksistensi diri sang anak di masa kini “dulu otaknya sudah dirontgen di luar. Terpaksa kami harus memberangkatkannya lagi ke tempat yang dahulu untuk segera dioperasi”

Orang tua laki-laki pemuda  dalam kisah Autobiografi Sebuah Ban juga bersikap tidak membiarkan tokoh  absurditas (kendala absurd) lebih eksis dari kedua tokoh lainnya (tokoh kesadaran dan  tokoh dunia); bahkan orangtua sangat tidak sudi  menerima ketiga tokoh tersebut (kesadaran, dunia, kendala absurd) dalam kehidupan dirinya dan keluarganya sebagai sebuah kenyataan eksistensial manusia. 

            Membaca cerita  Autaobiografi Sebuah Ban, tampak untuk kesekian kalinya  pengarang Gerson Poyk konsisten dan berkomitmen menggerakan tokoh-tokoh ceritanya mengatasi berbagai kendala absurd. Sang pengarang dengan kesadaran penuh menggunakan logika rasional dan logika hati nurani (irasional) sebagai kendaraannya untuk bisa memilih jalan moral yaitu menerima ketiga tokoh kehidupan tersebut sebagai kenyataan eksistensial manusia. Gerson menyebutnya sebagai sebuah salib kehidupan. Orang Tua dalam cerita ini  tidak memilih jalan moral tersebut namun membebankan semua beban salib dipikul sendiri oleh anak laki-laki mereka yang terlanjur diklaim sebagai pemuda Penyakit Jiwa. Seumur hidup menghadapi anaknya yang diklaim Penyakit Jiwa itu,  Orang Tua menggenggam nihilisme , sedangkan  sang anak  selalu “menang tender”  menaklukan  setiap kendala absurd  kehidupan  karena selalu menerima eksistensi dirinya,orang lain dan lingkungan sekitar untuk diterima, dihadapi, disyukuri  dan dikelola agar menjadi bermakna bagi dirinya sendiri,orang lain dan lingkungan sekitar.  Semoga kisah dalam novelet Autobiografi Sebuah Ban bisa menjadi refleksi kritis bagi kehidupan kita semua.Amin. 

Mezra E. Pellondou, lahir dan menetap di Kupang-NTT. Mengajar di SMA Negeri 1 Kupang. Pendiri dan Penggagas Taman Baca BundaMezra dan Komunitas Sastra UKIM (Uma Kreatif Inspirasi Mezra) dan memiliki acara khusus Bincang-Bincang Buku dan Berpuisi di Pro2 FM RRI Kupang dengan tajuk Numpang_Nampang Literasi setiap hari Sabtu. Penulis merupakan penerima Adi Acarya Award dari GMBI (2020) sebagai Penulis Berdedikasi dan Pengembangan Pendidikan Literasi Terbaik, Pemenang Pertama Penghargaan Sastra untuk Pendidikdari Badan Pengembangan Bahasa RI (2012), Penerima penghargaan NTT Award (2013) Kategori Sastra dan Humaniora. 

Karya tulis yang telah diterbitkan antara lain Kitab Puisi Sujud Selembar Daun (2020), Beta Indonesia Keliling Tanah Air dengan Puisi (2018), Likurai dari Negeri yang Membatu (2017), Tujuhpuluh kali tujuh kali (2015), Kekasih Sunyiku (2013). Empat buku kumpulan cerpennya antara lain Kuda dan Sang Dokter (2017), Menjahit Gelombang (2020), Negara Te Au Na (2020) dan Makhpela (2020). Buku Essai Sastra, Dari Suri Ikun Bu Ikun hingga Tuan Kamlasi (2018). 

Naskah Film/Sinetron Anak berjudul Merah Putih di Ujung Tiang (2019), telah difilmkan dan dipublikasikan TVRI NTT dan TVRI Nasional 11 Oktober 2019. Empat Novel yang telah terbit yaitu Surga Retak (2007), Loge (2008), Nama Saya Tawwe Kabotta (2008), Perempuan dari Lembah Mutis (2012) serta terlibat dalam puluhan antologi bersama sastrawan/penyair Indonesia. Karya-karya Mezra lolos muat dalam berbagai koran cetak dan portal sastra, serta memenangkan berbagai lomba karya sastra. 

Cerpen Perempuan di Tengah Cincin Api (2020) menjadi pemenang cerpen Menulis dari Rumah saja yang diselenggarakan oleh Kominfo Kementerian Pariwisata Ekonomi Kreatif RI. Puisi Mezra  berjudul Cerita Obed dan Patrisius (2020) memenangkan Juara Tiga Lomba Cipta Puisi Suara Hati Guru di masa Pandemi yang diselenggarakan oleh Dermaga Seni Buleleng kerjasama dengan Pemda Bali. 

Puisinya berjudul Pulang ke Rahim Haik (2020) masuk Sepuluh Nominasi Puisi Terbaik Lomba Menulis Puisi Group FB Hari Puisi Indonesia (HPI) 2020.Menulis berbagai kritik Sastra dalam bentuk buku, tunggal maupun dalam bentuk prolog maupun epilog dalam karya buku penulis/penyair Indonesia lainnya.[]

Komentar

Loading...