Menegakkan Keadilan

Menegakkan Keadilan
Ilustrasi. kartunmartono.wordpress.com

TANPA alasan yang pasti, Socrates ditahan pihak kepolisian. Sang Filosof yang terkenal dengan kata-kata bijaknya tersebut dituduh melakukan tindak kejahatan. Meskipun telah menyodorkan berbagai alibi, sang Filosof tetap harus menjalani hukuman.

Sementara itu, Creto, seorang pengusaha yang pernah menja­di muridnya merasa iba dengan nasib yang menimpa sang Guru. Dengan berbagai cara ia akan berupaya membebaskannya.

Untuk mempercepat pembebasannya, satu-satunya cara yang dapat dilakukan adalah dengan menyuap pihak berwajib dan petugas penjara. Sebelum melakukannya, ia terlebih dahulu meminta pendapat dari sang Guru. Tatkala ia menyatakan niatnya untuk menyuap petugas penjara dan pihak berwajib untuk membebaskannya, dengan tegas Socrates meno­laknya.

“Keadilan, apapun resikonya, harus tetap ditegakkan. Keadilan harus menjadi milik semua orang. Aku yakin mereka yang ditahan dalam penjara ini, banyak yang bernasib seperti aku.

Mereka belum tentu bersalah, namun karena kecongkakan para ponggawa hukum­lah mereka tetap masuk penjara tanpa memperoleh keadilan. Kamu jangan menyuap penegak keadilan demi kebebasanku. Selain akan menodai hukum, kasihan mereka yang tak memiliki uang!”

“Menyuap merupakan tindak kejahatan. Jika kamu melakukannya, perbuatanmu akan membuka peluang bagi orang lain di kemudian hari untuk melaku­kan cara yang sama, yakni menegakkan keadilan dengan melakukan kejahatan.” Demikian lanjut Socrates.

Sementara itu, dalam perjalanan dakwah Rasulullah saw pernah terjadi kasus yang menggemparkan. Seorang wanita dari  Bani Makhzum menggelapkan perhiasan emas. Ketika dilakukan penyelidikan, ia membantah telah melakukannya. Namun, setelah didatangkan para saksi dan barang bukti, ia tak dapat mengelak. Ia terbukti telah melakukan perbuatan tersebut untuk memperkaya diri sendiri.

Peristiwa ini nembuat pusing  para pemimpin Quraisy. Betapa tidak, sang pelaku berasal dari Bani Makhzum, salah satu suku yang sangat terhormat, berwibawa, disegani kawan dan lawan. Terlebih-lebih, sang pelaku masih memiliki tali persaudaraan dengan tokoh dan pemimpin suku tersebut. Sementara hukumannya sudah pasti,  potong tangan.

Untuk mencari solusi atas perkara tersebut, pemuka Quraisy mengutus Usamah r. a,  salah seorang sahabat yang dianggap dekat dengan Rasulullah saw. Tujuannya untuk meminta keringanan hukuman, agar sang pelaku tidak dijatuhi hukum potong tangan.

Setelah mendengarkan permohonan tersebut,  Rasulullah saw menjawab dengan tegas: “Apakah kamu meminta pertolongan (keringanan) dalam masalah hudud (ketetapan hukum  Allah)?”

Kemudian Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya umat sebelum kamu sekalian dihancurkan karena ketidakadilan, apabila orang elit mencuri, mereka membiarkanya, namun apabila orang “alit” mencuri maka ditegakkanlah hukum pidana (had). Demi Allah, seandainya Fatimah anak Muhammad mencuri akan aku potong tangannya.” Kemudian, Rasulullah saw memerintahkan agar wanita dari Bani Makhzum tersebut dipotong tangannya.” (H. R.  Bukhari dan Muslim).

Kisah yang dialami Socrates dan peristiwa yang terjadi pasa masa Rasulullah saw menegaskan kepada kita, tak ada kompromi dalam hukum. Siapapun yang melanggar hukum, maka wajib baginya mendapatkan  hukuman yang setimpal.

Hukum harus benar-benar tajam bagi semua orang. Tidak boleh tajam ke bawah, tumpul ke atas. Siapapun harus sama kedudukannya di hadapan hukum. Kaum elit maupun kaum “alit” memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum.

Suap menyuap untuk “membeli” putusan hukum sangat dilarang dalam ajaran Islam. Perbuatan ini akan melukai rasa keadilan bagi semua orang. Islam melabeli perbuatan suap menyuap dengan hukum haram dan perbuatan yang tergolong dosa besar.

Namun kini, suap menyuap sudah dianggap suatu perbuatan yang dianggap wajar, sekalipun hukumnya tetap sebagai tindak kejahatan. Karena suap menyuap, hukum sering menjadi tumpul atau hukum sering menjadi seperti sarang laba-laba. Ia hanya dapat menjerat serangga-serangga kecil saja, se­mentara serangga besar luput dari jeratannya.

Rasulullah saw telah mengingatkan, manakala hukum di suatu negeri sudah menjadi permainan, suap menyuap sudah dianggap tradisi yang halal, bersiap-siaplah untuk menerima kehancuran. Na’udzu billahi min dzalik. ***

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidkan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan.

Komentar

Loading...