Mendengarkan Suara Sunyi

Mendengarkan Suara Sunyi
Ilustrasi.net

“PERGILAH ananda ke hutan itu sendirian, tak boleh ada siapapun yang menemanimu. Tinggallah di sana beberapa hari. Tugas ananda hanya satu, dengarkanlah suara-suara yang ada di sana. Setelah ananda dapat mendengarkan suara-suara tersebut barulah ananda boleh pulang lagi ke sini.” Demikian perintah seorang sesepuh penasihat  kerajaan yang sudah dianggap guru oleh seluruh penghuni istana.

Ia diminta sang Raja untuk mendidik putra mahkota kerajaan yang beberapa tahun ke depan akan menggantikan kedudukannya sebagai seorang raja. Sang ayah mengharapkan anaknya menjadi seorang pemimpin yang baik, bijak, bajik, adil, dan menyayangi bangsa dan rakyatnya.

Singkat cerita, dengan bekal secukupnya putra mahkota tersebut pergi ke hutan yang ditunjukkan sesepuh penasihat istana. Ia tinggal di tengah-tengah hutan belantara. Setiap hari, pagi, siang, dan malam ia berusaha menangkap berbagai suara yang ada di hutan.

Ia begitu bahagia ketika mendengarkan suara burung berkicau, jeritan suara kera yang bersahutan, lolongan anjing hutan di malam hari yang membuat bulu kuduknya berdiri, serta suara auman raja hutan yang menggetarkan. Ia pun merasa terhibur dengan suara jangkrik yang selalu bernyanyi di kesunyian malam, dan suara katak yang terbahak-bahak ketika menyambut datang lebatnya hujan.

Kebahagiaan terbesit di hatinya. Ia merasa berhasil melaksanakan tugas dari sesepuh penasihat istana sebagai guru spiritualnya. Karena sudah merasa berhasil mendengarkan suara-suara di hutan, ia pun pulang menemui sang Penasihat.

Sesampainya di kediaman sang Penasihat, ia mengemukakan berbagai suara yang ia dengar selama tinggal di hutan belantara. Sang Penasihat kerajaan mendengarkannya dengan seksama sambil sesekali tersenyum mendengarkan kelucuan cerita sang Putra Mahkota.

Setelah sang Putra Mahkota selesai menceritakan semua pengalamannya, ia berkata, “Hanya itu saja suara-suara yang ananda dengar selama tinggal di hutan belantara?”

“Ya itu saja, guruku.” Jawab sang Putra Mahkota dengan singkat.

“Kalau hanya suara-suara tersebut  yang mampu ananda dengar, semua orang pun bisa melakukannya.  Ananda belum berhasil menangkap suara-suara yang aku tugaskan. Ananda harus kembali tinggal di hutan belantara dalam waktu yang cukup lama. Minimal tiga bulan,  ananda harus tinggal  di sana. Ananda harus mampu mendengarkan suara-suara sunyi yang jarang didengarkan kebanyakan orang. Agar ananda mampu mendengarkannya, ananda harus menyatukan jiwa dengan alam. Enyahkan sikap egomu, bersihkan nafsu serakah, dan lenyapkan keinginan untuk populer. Redam dalam-dalam sikap dan perbuatan yang dilakukan sekedar untuk pencitraan.“ Demikian perintah sang Penasihat istana tersebut.

Meskipun kelelahan masih nampak di raut wajahnya, tanpa berkata-kata dan penolakan, sang Putra  Mahkota kembali lagi ke hutan belantara. Ia berupaya keras melaksanakan perintah dan nasihat dari gurunya. Ia berusaha menangkap suara-suara sunyi yang diperintahkan sang Guru. Pagi, siang, malam, berhari-hari, dan  berminggu-minggu ia terus berusaha mendengarkan suara-suara sunyi, namun yang terdengar hanya suara-suara yang pernah ia dengar seperti ketika ia pertama kali tinggal di hutan belantara tersebut.

Ia berusaha menyatukan diri dengan alam, memokuskan pikiran, dan meluruskan niat. Setelah berusaha keras, pada suatu malam yang sunyi ia dapat mendengarkan suara-suara sunyi yang jarang didengarkan kebanyakan orang. Ia mulai mendengar nyanyian semilir angin dan nada-nada indah air embun yang jatuh dari dedaunan. Ia pun mendengar suara-suara bunga yang mekar dan suara  pucuk-pucuk daun pepohonan yang tumbuh mengembang. Pada pagi hari ia pun dapat mendengar gemerciknya aliran air jernih ketika bersinggungan dengan bebatuan. Ia pun mampu mendengarkan suara-suara kumbang bernyanyi menyambut datangnya malam.”

Setelah merasa cukup mendengarkan suara-suara sunyi, serta merasa yakin akan keberhasilan melaksanakan tugas dari gurunya, ia pun pulang untuk menemui sang Guru. Sesampainya di hadapan sang Guru, dengan penuh rasa hormat, ia menceritakan pengalamannya.

Dengan seksama, sang Guru mendengarkannya. Tak lama kemudian, ia berkomentar, “Kali ini, ananda telah berhasil mendengarkan suara-suara sunyi. Tugas yang aku berikan merupakan latihan menjadi seorang pemimpin.  Kelak jika ananda menjadi seorang  pemimpin, ananda harus mampu mendengarkan suara-suara sunyi dari rakyat seperti ananda mampu menangkap suara-suara sunyi selama tinggal di hutan belantara. Ananda harus mampu menyatukan jiwa dengan rakyat, menghapus sikap egois, mengenyahkan perbuatan yang sekedar pencitraan, dan mengenyahkan rasa haus akan kekuasaan. Suara-suara sunyi kemiskinan dan penderitaan rakyat jauh lebih banyak daripada suara-suara kemiskinan dan penderitaan rakyat yang muncul ke permukaan.”

Kita hentikan sampai di sini cerita sang Putra Mahkota dengan sang Guru spiritualnya. Kisah tersebut mengingatkan saya akan kata-kata Jalaluddin Rumi, sang ulama sufi dalam karyanya “Fihi Ma Fihi”, “Seseorang yang tidak memiliki kekuatan mendengarkan yang baik, maka ia tidak akan bisa memberikan orang lain alasan untuk berbicara.”

Seorang pemimpin yang baik adalah orang yang mampu menyatukan perasaannya dengan  perasaan rakyatnya sepanjang masa, bukan lima tahun sekali ketika membutuhkan suara rakyatnya. Seorang pemimpin yang baik adalah orang yang mampu mengalahkan egonya. Perbuatan yang dilakukannya benar-benar ikhlas, kesederhanaan hidup benar-benar menjadi gaya hidupnya bukan sekedar pencitraan demi meraih simpati rakyat.

Seorang pemimpin yang baik selayaknya dapat menangkap suara-suara sunyi rakyatnya yang hidupnya berkubang dalam kemiskinan dan  penderitaan. Suara-suara sunyi kemiskinan dan penderitaan rakyat yang tidak muncul ke permukaan, jauh lebih banyak daripada suara-suara kemiskinan dan penderitaan rakyat yang lantang muncul ke permukaan.

Seorang pemimpin yang baik adalah orang yang membiarkan rakyatnya berbicara, mengungkapkan perasaannya tanpa rasa takut, dan menjamin mereka tidak  akan dituntut di muka hukum. Seorang pemimpin yang baik adalah orang yang mau mendengarkan suara rakyatnya, kemudian ia mencarikan solusi atas permasalahan yang tengah dihadapi rakyatnya.

Seperti dikatakan sang Guru dalam kisah tadi, bukanlah hal yang mudah untuk menjadi seorang pemimpin yang baik, bijak, dan bajik.  Tugas berat dari seorang pemimpin adalah kemampuan mendengarkan suara-suara sunyi dari rakyatnya,  kemampuan menyatukan jiwa dengan perasaan rakyat, kemampuan menghapus sikap egois, kemampuan mengenyahkan perbuatan sekedar pencitraan, dan benar-benar memiliki kemampuan  mengenyahkan rasa haus akan kekuasaan.

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam, tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...