Mendemonstrasikan Ajaran Islam

Mendemonstrasikan Ajaran Islam
Ilustrasi.net

BUKAN  sekedar basa-basi, hidup ini sarat perjuangan. Setiap saat, kita selalu berhadapan dengan hitam-putihnya kehidupan. Pertentangan salah dan benar, pujian dan hinaan, saling membangun dan saling merobohkan, perang dan damai, selamanya mewarnai kehidupan.

Selama nafas bersemayam di jiwa, semua itu pasti akan terjadi, tak terkecuali dengan pujian dan cercaan terhadap Islam. Setiap tahun berganti, selalu saja ada orang atau kelompok yang mengusik ajaran Islam. Para pelakunya berasal dari orang yang mengaku muslim dan nonmuslim. Keyakinan terhadap Nabi, Ketuhanan Allah, keberadaan malaikat, terutama eksistensi malaikat Jibril, dan kedatangan hari kiamat merupakan hal-hal yang sering menjadi sasaran pelecehan mereka.

Dari kalangan orang yang mengaku muslim, setiap saat selalu ada saja orang yang mengaku menjadi nabi. Hampir di setiap daerah selalu ada “orang pintar” yang mengaku mendapatkan wahyu, bertemu dengan malaikat Jibril yang mengangkatnya sebagai nabi. Malahan tak tanggung-tanggung, ada pula orang yang mengaku sebagai jelmaan malaikat Jibril.

Kasus Lia Eden dengan jamaah Salamullah, sekte kerajaan Tuhan yang  sempat menghebohkan negeri ini beberapa tahun silam (sekitar 1997-an) merupakan contoh dari orang atau kelompok yang mengaku muslim yang mencoba mengusik ajaran Islam. Dalam pengakuannya, ia pernah bertemu dengan malaikat Jibril, mendapat bimbingan dan ajaran langsung dari malaikat Jibril.  Ia diperintah untuk mendirikan dan memimpin kerajaan Tuhan.  Tak tanggung-tanggung, ia pun mengklaim anaknya, Ahmad Mukti,  sebagai reinkarnasi Nabi Isa a.s.

Ahmad Moshaddeq mendirikan sebuah jamaah yang diberi nama al Qiyadah. Ia mendakwahkan pergerakan ini secara terang-terangan setelah mengaku mendapatkan mimpi selama melakukan puasa dan menyepi selama 40 hari di Gunung Bunder, Bogor, Jawa Barat.  Berdasarkan uswah dari Nabi Musa as dan Nabi Isa as, pada 23 Juli 2007, ia mengaku sebagai nabi utusan Allah.

Tak jauh berbeda dengan para pendahulunya, pada tahun 2012, Sensen Komara di Garut Jawa Barat mengaku sebagai seorang Rasul dan Presiden Negara Islam Indonesia. Ia mengaku punya syahadat sendiri, dan salah satu syari’atnya adalah melaksanakan ibadah shalat menghadap ke arah timur. 

Di luar negeri yang mayoritas nonmuslim, kasusnya lain lagi. Mereka tidak mengakui sebagai nabi dan rasul atau malaikat Jibril,  karena mereka menyadari,  secara intelektual mengakui menjadi nabi dan malaikat merupakan  suatu tindakan kemustahilan dan kebodohan. Namun, dengan berbagai dalil logika nan penuh kebencian,  mereka melakukan penghinaan dan pelecehan terhadap keyakinan dan kesucian ajaran Islam.

Kasus penghinaan terhadap sosok dan eksistensi Nabi Muhammad saw sering menjadi topik utama pelecehan mereka terhadap Islam dan  umatnya. Pernyataan, Emmanuel Macron, Presiden Perancis  yang melecehkan Islam pada salah satu pidatonya merupakan bukti nyata pelecehan dan kebencian Barat terhadap ajaran Islam.

Satu bulan sebelum Macron berpidato, sekitar September 2020, tabloid Charlie Hebdo di Paris-Perancis bersitekad menerbitkan kembali kartun Nabi Muhammad saw seperti yang pernah diterbitkan pada tahun 2015.  Mereka mengaku tak gentar dengan kecaman siapapun. “Kami tidak akan pernah mundur. Kami tidak akan menyerah,” tulis Direktur Charlie Hebdo, Laurent 'Riss' Sourisseau. Presiden Macron yang berpidato satu bulan kemudian seolah-olah menguatkan dan mendukung apa yang dilakukan Charli Hebdo.

Seperti pernah saya tulis dalam kolom  “Kultum” sebelumnya (Cakradunia, 15 September 2020), sejak dahulu sampai saat ini, negara-negara Barat tak pernah berhenti menyudutkan ajaran Islam dan umatnya. Durante  Degli Alighieri yang terkenal dengan sebutan Dante  (1265 – 1321) dalam karyanya Commedia Divina artinya kurang lebih Komedi Ketuhanan bercerita tentang “Maometto” plesetan dari nama Nabi Muhammad saw yang dikisahkan  akan menjadi penghuni neraka paling bawah setelah para pembunuh  dan penghina Tuhan.

Salman Rushdi, penulis keturunan India berkebangsaan Inggris, menorehkan karyanya dalam judul “Satanic Verses” atau Ayat-Ayat Setan. Isinya hampir tidak berbeda dengan karya Dante, memplesetkan ketuhanan Islam dan  menghina kenabian Nabi Muhammad saw.

Dalam kehidupan sosial-politik, negeri-negeri Barat selalu sinis dalam memandang ajaran Islam dan umatnya. Negeri-negeri yang mayoritas berpenduduk muslim selalu dianggap negeri terbelakang. Penduduknya masih diselimuti kemiskinan dan kebodohan. Demikian pula  halnya dengan tindak kekerasan yang dikenal terorisme selalu disudutkan kepada umat Islam.

Sejak peristiwa pengeboman gedung World Trade Center (11 September 2001) di Amerika, umat Islam selalu menjadi “tertuduh” dalam berbagai gerakan teror di dunia.  Padahal entah siapa dalang teror yang sebenarnya. Dari peristiwa ini lahirlah gerakan “Islamophobia”. Gerakan yang sengaja dibuat agar orang-orang di dunia mewaspadai ajaran Islam dan “wajib” merasa takut terhadap ajaran dan segala aktivitas yang dilakukan umat Islam.

Namun demikian, tidak semua orang Barat merasa phobia terhadap Islam. Buktinya masih ada orang-orang  Barat yang simpati terhadap ajaran Islam dan umatnya. Mereka tertarik mempelajari dan memahami ajaran Islam, bahkan tak sedikit dari mereka yang memeluk Islam. Misalnya saja, masjid Sahaba yang berlokasi di jantung pinggiran kota kelas menengah Creteil di Paris-Perancis, dikenal sebagai masjid para mualaf. Sekitar 150 acara pengucapan syahadat dilakukan setiap tahun di masjid tersebut (Republika.co.id, Senin 02 Nov 2020 15:19 WIB).

Tantangan, hinaan, dan berbagai tindak pelecehan terhadap ajaran Islam harus menjadikan diri kita lebih mencintai Islam dan bersikap dewasa serta melakukan introspeksi dalam menghadapinya. Kita patut bersyukur, umat Islam di seantero dunia masih memiliki ghirah, semangat, dan kecintaan terhadap Islam. Hampir setiap ada kasus yang melecehkan kemuliaan ajaran Islam, umat Islam di dunia mampu bersatu, sehaluan, dan memiliki pandangan yang sama untuk membela kemuliaan ajaran Islam.

Demonstrasi selalu dilakukan kepada para pelaku atau negara yang melakukan pelecehan terhadap kemuliaan ajaran Islam. Namun demikian, disamping kita bersatu untuk melakukan demonstrasi, memprotes para peleceh ajaran Islam, kita pun harus bersatu dan berupaya keras untuk mendemonstrasikan ajaran Islam dalam berbagai aspek aktivitas kehidupan sehari-hari.

Kita memiliki kewajiban untuk membuktikan kemuliaan  ajaran Islam. Tak ada jalan lain untuk membuktikannya kecuali dengan mendemonstrasikan nilai-nilai luhur ajarannya dalam seluruh aspek kehidupan. Hanya dengan cara seperti ini kita akan dapat membuktikan bahwa Islam itu “ya’lu wa la yu’la alaih”. Islam itu tinggi dan mulia, tak akan ada yang bisa menandingi kemuliaannya. Namun, jika kita tidak  mau mendemontrasikannya dalam seluruh aspek kehidupan, Islam, ajaran, dan umatnya akan selalu menjadi sasaran pelecehan dan penghinaan. ***

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...