Mendahulukan Orang Lain

Mendahulukan Orang Lain
Ilustrasi. Ist

ADA tiga film yang berkesan dan tak pernah bosan untuk saya tonton ulang, yakni Vertical Limit, Unstopable, dan Alangkah Lucunya Negeri Ini. Selain sederhana, cerita dalam ketiga film tersebut diangkat dari kisah nyata.

Pada tulisan kali ini, saya ingin menguraikan pelajaran yang dapat diambil dari film pertama, Vertical Limit. Dua film berikutnya, insya Allah akan saya uraikan pada kesempatan lain.

Film Vertical Limit dirilis sekitar tahun 2000. Martin Campbell sang Sutradara film  ini menampilkan  Chris O'Donnell, Bill Paxton, Stuart Wilson, Robin Tunney, dan  Scott Glenn sebagai pemeran utama. Film ini mengisahkan sebuah keluarga pendaki gunung.  

Pada awalnya, kedua anak Royce Garret, sang Ayah yang diperankan  Stuart Wilson tak menyukai  olah raga mendaki gunung. Namun karena karena sering mendengar kisah seru ayahnya, lambat laun dalam jiwa mereka tumbuh kegemaran seperti sang Ayah. Kedua anaknya  Peter yang diperankan Chris O’Donnell dan Annie  yang diperankan oleh Robin Tunney mulai gemar mendaki gunung. Mereka sering melakukan pendakian bersama teman-temannya yang memiliki kegemaran yang sama.

Suatu hari, mereka bertiga berpetualang bersama. Mereka mendaki sebuah gunung. Selain harus melewati berbagai lembah yang curam, untuk sampai ke puncak ketinggian gunung,  mereka pun harus memanjat tebing yang kemiringannya hampir 90 derajat.                                                                                                              

Meskipun kelelahan,  mereka nampak bahagia. Sesekali mereka bernyanyi dan bergurau.  Setelah menempuh perjalanan jauh,  sampailah mereka di bawah  tebing yang kecuramannya hampir 90 derajat. Tebing tersebut  merupakan satu-satunya  jalan yang dapat ditempuh untuk mencapai puncak ketinggian gunung.

Mereka pun mulai memanjat tebing, Annie memanjat lebih dulu, kemudian diikuti saudaranya, Peter, dan terakhir sang Ayah, Royce Garret. Mereka bertiga saling berpegangan pada seutas tali pengaman.  Awalnya, mereka lancar-lancar saja memanjat dan mendaki tebing tersebut. Namun,  tak disangka di atas puncak tebing sudah ada orang yang lebih dulu memanjat. Ia terpeleset yang menyebabkan beberapa batu besar jatuh dari atas tebing.

Ketegangan pun terjadi. Mereka berkali-kali meliuk-liukan tubuhnya untuk menghindari bongkahan longsoran batu.  Namun,  longsoran bongkahan batu bukannya reda, tapi semakin banyak. Mereka tak bisa berbuat banyak selain hanya bergelantungan pada tali pengaman. Mereka terombang-ambing di antara tebing berbatu runcing. Perjalanan mereka  untuk sampai  ke puncak tebing masih jauh, sementara untuk kembali turun pun sama jauhnya dan beresiko terkena longsoran bongkahan batu.

Meskipun kematian sudah ada di hadapan mereka,  sang Ayah terus memberi semangat kepada anak-anaknya untuk terus bergelantungan sambil  berupaya agar bisa mendekati tebing, dan bisa memanjatnya kembali. Karena lama bergelantungan, tak disangka-sangka, tali yang mereka pakai mulai nampak tak kuat lagi menahan beban. Kekuatan tali mulai terasa berubah, terasa akan putus. Jika dipaksakan, mereka bertiga akan menjadi korban. Apalagi  angin besar sering menerpa tubuh mereka bertiga. Tali semakin kencang bergoyang.

Ketika tali mulai terasa semakin rapuh dan terasa akan putus, sang Ayah menyuruh Peter untuk segera memotong tali. Hal ini dilakukan untuk mengurangi beban tali.  Jika tidak, mereka bertiga akan menjadi korban. Sambil bergelantungan diantara hempasan angin dan longsoran batu,   perdebatan panjang pun terjadi. Sampai akhirnya, dengan berat hati Peter memotong tali pengaman, dan membiarkan ayahnya jatuh dari ketinggian ratusan meter, dan tentu saja meninggal.

Kemudian mereka berdua melanjutkan perjalanan sampai ke puncak tebing dan bisa mencapai puncak ketinggian gunung. Ketika sampai di ketinggian puncak gunung bukan kebahagiaan yang mereka raih seperti biasanya, tapi kesedihan yang mendalam, karena mereka kehilangan sang  Ayah  tercinta.   Peristiwa tak menyenangkan yang baru saja  mereka alami menyisakan trauma bagi kakak beradik tersebut. Setelah peristiwa tersebut, Peter berhenti menjadi  pendaki dan menjadi fotografer satwa liar, sementara Annie tetap menjadi pendaki gunung, bahkan semakin terkenal.

Saya tidak akan menceritakan lebih panjang isi film tersebut. Satu pelajaran yang bisa diambil dari pelajaran tersebut adalah keberanian berkorban demi kelangsungan hidup orang lain.

Dalam ajaran Islam, keberanian berkorban untuk orang lain, mendahulukan kepentingan orang lain disebut itsar. Allah sangat menghargai orang-orang yang berani berkorban, menolong orang lain.

Dalam setiap masa selalu ada orang yang berkorban seperti dalam film Vertical Limit.  Peristiwa menyelamatkan orang lain seperti dalam film tersebut pernah terjadi dalam perang Yarmuk. Pada peperangan tersebut banyak sahabat Nabi Muhammad saw  yang gugur sebagai syuhada. Sementara para sahabat yang selamat pun banyak yang terluka parah.

Hudzaifah al-Adawi, salah seorang sahabat yang selamat mengisahkan. “Aku bersusah payah mencari air untuk menolong para sahabat yang terluka parah dan kehausan. Setelah sekian lama mencarinya, aku mendapatkan seceret air. Ketika aku akan memberi minum seorang sahabat yang terluka parah, dari jarak yang tidak begitu jauh terdengar seorang sahabat lain yang mengaduh dan berteriak minta air. ‘Berikan saja dahulu kepada orang tersebut, insya Allah, aku masih kuat bertahan hidup.’ “ Kata orang tersebut.

Hudzaifah segera berlari mendekati orang yang mengaduh tersebut. Ketika air sudah mendekati mulut orang yang mengaduh tersebut, dari jarak yang tidak begitu jauh terdengar lagi seorang sahabat lainnya yang mengaduh dan berteriak minta air. ‘Berikan saja dahulu kepada orang tersebut, insya Allah, aku masih kuat bertahan hidup.’ “ Kata orang kedua tersebut.

Ia segera berlari mendekati orang yang mengaduh tersebut. Namun didapatinya orang tersebut sudah meninggal.  Ia kembali kepada orang kedua dan orang pertama pun sama-sama sudah meninggal. Air yang dibawanya masih utuh. Ia tertunduk, menangis, menahan kesedihan.

Itulah itsar, rela mengorbankan diri demi kemuliaan dan kebahagiaan orang lain.  Dalam dunia militer sikap itsar ini disebut esprit des corpses. Dalam dunia psikologi, sikap itsar ini disebut kohesi kelompok. Dalam ajaran Islam, itsar merupakan puncak persaudaraan tertinggi, perekat persaudaraan.

Perilaku itsar yang dilakukan Abu Thalhah dan Ummu Sulaim, pasangan suami istri, sahabat Nabi Muhammad saw mendapat pujian dari Allah swt.  Semalaman,  mereka berdua rela menahan lapar demi menghormat tamu Rasulullah saw dan menjamunya meskipun mereka tak memiliki cadangan makanan lain. Allah meridai perbuatan mereka dan memberitahukannya kepada Rasulullah saw melalui surat Al-Hasyr : 9.

“Dan orang-orang Anshar yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka  terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Ibnu Qayyim Jauziyah mengatakan, itsar, rela berkorban, mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi merupakan salah satu barometer keimanan. Semakin tinggi tingkat itsarnya, semakin tinggi pula tingkat keimanannya. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah tingkat itsarnya, semakin rendah pula tingkat keimanannya.

Namun demikian, itsar itu hanya boleh dilakukan dalam ibadah ghoir mahdhah, yang berhubungan dengan sosial kemasyarakatan. Itsar menjadi makruh hukumnya jika dilakukan dalam ibadah mahdhah, seperti shalat, ibadah haji, shaum, dan lainnya. Dengan demikian, dalam ibadah mahdhah, sebaiknya kita tidak mendahulukan orang lain, tapi terlebih dahulu memperhatikan diri sendiri.

Kaidah fiqih menyebutkan, “Itsar, mendahulukan orang lain dalam urusan ibadah mahdhah hukumnya makruh, sedangkan itsar dalam urusan dunyawiyah (ibadah ghair mahdhah, sosial kemasyarakatan) merupakan perbuatan yang sangat terpuji” (Abu Harits al Ghazi, Mausuah Qawaid al Fiqhi, al Mujallid Awwal, hal. 336).

Kemajuan kehidupan, keluarga, agama, bangsa, dan negara dapat diraih manakala kita mampu mengorbankan kepentingan pribadi, mendahulukan kepentingan agama, bangsa, dan negara di atas kepentingan pribadi, keluarga, dan golongan.

 

Penulis, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Qurrata A’yun Samarang Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...