Mencintai Lingkungan Hidup

Mencintai Lingkungan Hidup
Ilustrasi Merpati Baitullah.

“Ayo…terbang…! Ayo…terbang…! Ayo…terbang…!” Sahut seorang anak sambil melepaskan seekor burung yang salah satu kakinya diikat benang panjang.  

Tatkala burung itu terbang, dengan asyiknya sang anak menarik-narik benang layaknya bermain layang-layang. Suara burung yang menjerit-jerit kesakitan tak dihiraukannya. Semakin burung itu menjerit, sang anak semakin menarik keras benangnya.

Sedang asyik-asyiknya bermain, sang anak dikejutkan oleh suara seorang laki-laki yang menyapa di belakangnya.

“Nak, apa yang berada di tanganmu itu?”

Si anak mendongak sekilas dan menjawab. “Tidakkah tuan lihat, ini adalah seekor burung.” Jawabnya polos.

Sang lelaki memandang ke atas, raut wajahnya memperlihatkan perasaan iba mendengar suaru burung yang menjerit-jerit dengan suara yang sudah parau.

“Burung itu tentu sangat ingin terbang bebas dan anak ini tidak mengerti jika mahluk kecil ini teraniaya.” Gumamnya dalam hati.

“Nak, bolehkah aku membeli burungmu? Berapapun harganya akan aku bayar. Aku sangat ingin memilikinya.” Kata lelaki tersebut.

“Aku tak akan menjualnya.” Jawab si Anak sambil terus menarik-narik benang.

Suara jeritan burung semakin parau. Mendengar suara jeritan burung, sang lelaki itu semakin iba. Kemudian ia berkata lagi, “Nak, aku mempunyai beberapa keping uang. Aku beli saja burungmu. Kamu mau, kan?”

Setelah dibujuk, sang anak mau menjual burungnya. Tanpa menunggu lama, sang Lelaki tersebut merogoh saku jubahnya yang sudah kusam warnanya. Beberapa keping uang diberikan kepada sang anak.

Sang lelaki membawa pergi burung tersebut menjauhi sang Anak. Dengan hati-hati ia membuka ikatan benang di kaki burung tersebut, kemudian ia berkata, “Bismillahirrahmanirrahim. Wahai burung kecil, terbanglah! Kini engkau bebas.”

“Kok burungnya dilepaskan?” Tanya sang Anak penuh keheranan.

Belum sempat menjawab, sang Lelaki melihat sang Anak dipanggi seseorang menjauh darinya. Sayup-sayup terdengar olehnya orang tersebut bertanya kepada anak yang menjual burung tadi.

“Nak, tahukah engkau siapa yang membeli burungmu itu? Tahukah engkau siapa lelaki mulia yang kemudian membebaskan burung itu ke angkasa? Dialah Khalifah Umar bin Khattab r.a., Amirul Mukminin, nak!”

Sang Anak bengong. Tak percaya bahwa ia bertemu Khalifah Umar bin Khattab r.a. yang dikagumi dan disegani. Ia hanya memandang beberapa keping uang sebagai ganti burung kecil yang sudah dilepaskan Khalifah Umar.

Mungkin sebagian dari kita bertanya, “Apakah tak boleh kita memelihara burung atau binatang lainnya untuk kita koleksi?”

Jawabannya, “boleh”. Namun dengan syarat harus memberikan hak-hak binatang yang kita pelihara. Kita tak boleh menyia-nyiakannya.Merupakan suatu perbuatan dosa apabila kita membiarkan burung atau binatang lainnya yang kita pelihara, kemudian binatang tersebut mati karena kita tidak memberikan hak-haknya.

“Barangsiapa yang membunuh seekor burung karena menyia-nyiakannya, pada hari kiamat, burung tersebut akan menjerit mengadu kepada Allah, ‘Tuhanku, si Fulan telah membunuhku, namun ia tak memanfaatkanku.’ ”  (H. R. Muslim, Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, Juz III : 186).

Menyayangi semua makhluk Allah yang ada di muka bumi ini, termasuk mencintai lingkungan, merupakan salah satu jalan untuk mendapatkan kasih sayang para malaikat yang selalu mendo’akan kepada kita.

“Sayangilah makhluk-makhluk yang ada di muka bumi, maka para makhluk yang ada di langit (para malaikat) akan menyayangimu.” (H. R. ath-Thabrani, Muhammad Nashiruddin al Bani, Shahih al Jami’u, hadits nomor 896).

Penulis, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Qurrata A’yun Samarang Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...