Menahan Diri

Menahan Diri
Ilustrasi.net

KARENA berbagai tekanan, menahan dan mengendalikan diri merupakan sikap yang sulit dilakukan kebanyakan orang pada saat ini, bahkan bisa jadi diri kita sendiri yang mengidap sikap tersebut. Banyak orang yang bertindak di luar kendali diri sendiri.

Misalnya, sikap konsumtif  menjadikan seseorang jarang lagi memperhatikan antara keinginan dan kebutuhan. Ia membeli setiap barang yang diinginkannya, dan jarang mempertimbangkan kemampuan finansialnya.

Demikian pula, karena kemudahan menggunakan media sosial, kini banyak orang yang begitu gampang menumpahkan segala perasaannya, baik masalah yang bersifat pribadi maupun umum, masalah agamis maupun politis. Kebanyakan pengguna media sosial jarang menyadari, akibat dari yang ia lakukan di media sosial, baik akibat secara sosial, spiritual, legal, maupun politik.

Karena emosi sesaat, banyak orang yang mengunggah masalah pribadinya ke akun media sosial. Padahal sejatinya, masalah yang ia hadapi hanya layak dikonsumsi diri dan keluarganya saja.

Masih mendingan ketika masalah tersebut diunggah mendapatkan komentar simpatik yang memberikan solusi terhadap masalahnya, namun tak jarang malah mendapatkan cacian, umpatan, dan kata-kata kasar yang melecehkan. Alih-alih mendapatkan solusi, ia malah mendapatkan masalah lainnya, yakni sakit hati karena komentar dan cibiran dari para netizen.

Demikian pula, karena kekesalan atau emosi sesaat, baik terhadap pribadi, lembaga swasta maupun pemerintah, banyak orang yang mengungah komentarnya di media sosial. Entah mereka menyadari atau tidak, unggahannya tersebut dibaca dan diperhatikan hampir semua kalangan netizen.

Jika unggahannya  berisi penghinaan atau fakta dan data yang diunggah tidak sesuai dengan kenyataan, akibatnya bisa parah. Perbuatannya  melanggar hukum yang berujung kepada pemberian sanksi hukum.

Sebenarnya, sudah banyak unggahan netizen yang berujung di meja pengadilan dan dijatuhi sanksi hukum. Namun demikian, karena keasyikan dan keterlenaan menggunakan media sosial,  kasus-kasus yang telah terjadi sebelumnya tak pernah dijadikan pelajaran.

Kasus terbaru, kolase Wapres RI, K. H. Ma’ruf Amin – “Kakek Sugiono” merupakan contoh aktual karena emosi sesaat dalam mengunggah ungkapan pribadi terhadap suatu masalah. Tak tanggung-tanggung,  pelakunya  Sulaiman Marpaung, ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) tingkat kecamatan Sei Tualang Raso Tanjungbalai, Sumatera Utara (Sumut), yang notabene “makmum” dari Wapres RI yang sebelumnya adalah ketua umum Majelis Ulama Indonesia.

Ketika masalahnya sudah diketahui publik, sang pelaku barulah menyadari akan apa yang ia lakukan. Setelah polisi terjun tangan menangani dan menangkapnya, penyesalan tinggalah penyesalan, karena ia harus berhadapan dengan hukum. Permintaan maaf pun ia lontarkan kepada Wapres RI.

"Saya mohon maaf kepada Pak Kiai tentang yang telah saya lakukan, saya khilaf dan berharap kepada Kiai,  saya diberikan maaf, tidak ada sakit hati karena dia ulama saya. Saya lihat dia masalah K-Pop itu aja," ujarnya (Tiba di Bareskrim, Pengunggah Kolase Ma'ruf-Kakek Sugiono Minta Maaf detik.com, Jumat, 02 Okt 2020 20:21 WIB).

Apakah Wapres RI akan memaafkan  orang yang pernah menjadi “makmumnya tersebut”? Hal tersebut merupakan hak dari Wapres RI sendiri. Namun demikian, kini pelaku tengah berhadapan dengan masalah hukum.

Pelaku dipersangkakan dengan Pasal 45A ayat (2) jo pasal 28 ayat (2) dan atau Pasal 45 ayat (3) juncto pasal 26 ayat (3) UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan UU Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), dengan ancaman pidana penjara 6 tahun dan atau denda paling banyak 1 miliar, sedangkan  untuk Pasal 45 A dan untuk Pasal 45 ayat 3 dengan ancaman pidana penjara 4 tahun dan atau denda 750 juta.

Selayaknya para netizen, khususnya para pengguna media sosial mengambil pelajaran dari kasus ini maupun kasus-kasus sebelumnya.  Mengunggah komentar dengan emosional tanpa dakta dan fakta yang utuh hanyalah menambah panjang persoalan, bukan memberikan jalan keluar terbaik.

Sejatinya, kita dapat bertindak bijak ketika akan mengomentari perilaku, sikap, maupun pernyataan orang lain. Selayaknya komentar dan ketidaksetujuan kita disampaikan dengan kata-kata yang sopan.

Dengan berbagai kasus yang terjadi, kita dapat merenungkan kata-kata Imam Ghazali, “kata-kata lebih tajam daripada pedang”, bisa melukai diri sendiri dan orang lain. Masih mendingan kalau hanya melukai diri sendiri, tapi parahnya jika kata-kata kita melukai perasaan orang lain dan berujung pada pelanggaran terhadap hukum.

Berpikir ulang sebelum melontarkan kata-kata, membaca kembali tulisan,  komentar , opini, atau ungkapan perasaan sebelum kita mengunggahnya di media sosial merupakan tindakan bijak. Tindakan ini selain akan mengurangi kegaduhan sosial, juga menghindari benturan kita dengan hukum, lebih dari itu agar kita terhindar dari perbuatan dosa.

Sementara itu, menjaga lisan,  baik yang dilontarkan melalui ucapan maupun tulisan sering diwasiatkan Rasulullah saw. Uqbah bin Amir, salah seorang sahabat Rasulullah saw pernah mendapatkan wejangan dari Rasulullah saw, “salah satu kunci keselamatan hidup adalah menggenggam lidah”. Orang yang menggenggam lidah adalah orang yang memiliki kemampuan mengendalikan diri dari berbicara atau memberi komentar,  apalagi mengomentari sesuatu hal yang belum pasti kebenarannya, dan ia sendiri tidak memahaminya.

“Jika kalian akan mengerjakan sesuatu, maka pikirkanlah terlebih dahulu akibatnya. Jika kebaikan akan diperoleh dari perbuatan tersebut, maka kerjakanlah. Namun, jika kejelekan yang akan diraih sebagai akibat dari perbuatan tersebut, maka tinggalkanlah perbuatan tersebut” (H. R. Ibnu Mubarak,  Sayyid Ahmad al Hasyimi, Mukhtar al Hadits al Nabawiyah, Huruf Hamzah, halaman 9).

Meskipun sebagian ulama menganggap hadits ini lemah, namun tidak ada salahnya jika kita selalu mempertimbangkan segala perbuatan kita, termasuk dalam berbicara atau mengunggah komentar, opini, atau pernyataan di media sosial. Berpikir ulang, memperhatikan akibat dari perbuatan kita merupakan tindakan bijak agar kita tidak terjerumus ke dalam perbuatan melanggar hukum dan perbuatan dosa.    

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.  

Komentar

Loading...