Memurnikan Moral

Memurnikan Moral
Ilustrasi.net

MESKIPUN  tolak ukurnya berbeda, baik moral maupun akhlak memiliki tujuan yang sama, yakni memperhalus perilaku hidup manusia. Tolak ukur moral berasal  dari norma atau kebiasaan hidup suatu masyarakat, sementara akhlak bersumber dari ajaran agama. Akhlak Islami sudah pasti sumbernya adalah al Qur’an maupun sunnah nabi saw.

Moral termasuk kepada adat yang berkembang dalam budaya kehidupan suatu  masyarakat. Tujuan dari moral ini adalah untuk  mengatur tata kehidupan manusia agar bisa hidup serasi, baik dengan manusia maupun lingkungannya. 

Jika moral yang berkembang di suatu masyarakat tidak bertentangan dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya,  moral tersebut bisa naik statusnya  menjadi bagian dari akhlak Islami.  Al’urf muhakkamah. Kebiasaan baik yang berkembang di masyarakat bisa menjadi bagian dari hukum. Demikian ketentuan qaidah fikih.

Baik moral maupun akhlak harus benar-benar diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat demi keserasian hidup bersama. Tatanan kehidupan manusia akan tenteram dan damai manakala tatanan kehidupannya diatur sesuai dengan norma-norma yang telah disepakati.

Akhlak Islam ditetapkan dengan tujuan agar manusia bisa hidup serasi dengan tuntunan Allah dan bisa menciptakan kedamaian hidup bersama makhluk lainnya. Bahasa yang lebih populer, akhlak Islami ditetapkan supaya manusia bisa memperoleh kehidupan yang seimbang dan teratur antara kehidupan spiritual (hablum minallah) dan kehidupan sosial (hablum minannas). 

Keserasian antara kehidupan spiritual yang kemudian diimplementasikan dalam kehidupan sosial yang real ini akan bermuara kepada implementasi ajaran Islam yang rahmatan lil’alamin. Ajaran islam yang membumi, diliputi kasih sayang bagi seluruh makhluk Allah yang ada di muka bumi. Namun demikian, seiring dengan liku-liku kehidupan yang tidak selamanya murni, implementasi moral maupun akhlak Islami dalam kehidupan terkadang tidak murni demi kemanusiaan, bahkan demi keagungan agama Islam sekalipun. Berbagai kepentingan dan pencitraan sering menjadi “penumpang”  utama dalam pengimplementasian moral maupun akhlak Islami. 

Moral yang baik maupun  akhlak Islami dijadikan alat tukar untuk meraih suara dan simpati para pemilih dalam dunia politik. Demikian pula dalam dunia ekonomi, moral atau akhlak Islami  yang baik menjadi alat tukar kedua setelah uang, bahkan menjadi alat tukar utama sebelum melakukan transaksi. 

Senyuman selamat datang dari seorang pelayan toko di sebuah mall, di restauran, atau tempat bisnis lainnya, sering dilakukan bukan karena senyum ketulusan, namun sebagai senyum pengikat bagi pelanggan agar datang kembali ke tempat usahanya. Tak sedikit seorang pelayan di sebuah tempat perbelanjaan atau suatu perusahaan begitu ramah, senyum penuh kehangatan, namun dalam kehidupan di luar tempat bekerjanya, ia begitu kecut, senyuman ramahnya begitu “mahal” didapat darinya. 

Lebih dari semua itu, kini kita tengah hidup di tengah kondisi yang serba terbalik, serba permisif. Kehidupan kita berada di tengah-tengah-tengah kondisi tanpa batas. Kata “pamali” atau “tabu” di tengah-tengah kehidupan masyarakat sudah tidak berlaku lagi. Hal yang tabu, pamali,  yang tidak boleh diperlihatkan di depan umum, kini dengan bebas dipertontonkan. Semua khalayak, tanpa batas usia bisa mengaksesnya. Permasalahan pribadi yang seharusnya disembunyikan dalam-dalam, kini diposting di media sosial, dan menjadi konsumsi publik.

Kini,  kita tengah hidup di tengah-tengah kondisi yang sebagian masyarakatnya tengah menghancurkan benteng-benteng tabu, benteng-benteng moral, dan benteng-benteng akhlak Islami. Sebagian orang sudah tidak malu lagi ketahuan melakukan perbuan nista. Mereka malah merasa menjadi orang hebat. Kini bukan rahasia lagi, banyak orang jujur yang hidupnya tak mujur, dan sengaja “dikubur’. Sementara orang-orang yang fujur (hidup bergelimang kenistaan dan kebohongan), malah menjadi orang mujur dan dipuja-puja.

Julia Kristeva (1982) dalam karyanya Powers of  Horror an Essay on Abjection menyebut kondisi kehidupan yang serba terbalik dan menghancurkan benteng-benteng moral yang baik dengan istilah abjeksi moral. Sederhananya, abjeksi moral adalah kehidupan masyarakat yang sudah tidak lagi membedakan baik dan buruk, tidak lagi membedakan halal dan haram, dan tidak lagi bisa membedakan benar dan salah. Dalam kondisi masyarakat yang sudah masuk kepada putaran abjeksi moral, hasrat dan hawa nafsu menjadi “tuhan” dan pedoman hidupnya. Gaya hidup,kemewahan hidup, dan popularitas  menjadi ukuran kehebatan seseorang.

Melihat kondisi kehidupan seperti sekarang ini, tak ada jalan terbaik yang harus kita lakukan, kecuali kita harus kembali kepada pedoman hidup yang baik. Kita harus segera kembali kepada rel-rel kehidupan yang semestinya kita jalani. Rel-rel kehidupan tersebut  tiada lain adalah ajaran agama. Sudah menjadi kewajiban, bagi seorang muslim untuk kembali menelaah dengan baik ajaran Islam dan mengimplementasikannya dalam kehidupan nyata. 

Semua orang, terutama umat Islam dan pasti sering mengingatnya, tugas yang diemban  Rasulullah saw di tengah-tengah kehidupan masayarakat Arab pada waktu itu adalah memperbaiki akhlak kehidupan masyarakat. Rasulullah saw dibebani tugas untuk menyeimbangkan akhlak kehidupan masyarakat agar kehidupannya serasi dengan “Sang Pencipta’, bisa hidup berdampingan dengan manusia dan alam secara tenteram dan damai, seimbang antara hablum minallah dan hablum minannas.

Diakui oleh semua kalangan, nilai-nilai moral tertinggi berada dalam ajaran agama, terlebih-lebih dalam ajaran Islam. Akhlak menjadi kunci utama kesempurnaan iman seseorang,  diterima segala amal ibadahnya, bahkan akhlak menjadi kunci untuk membuka pintu sorga. Batas-batas baik dan buruk, boleh dan tidak boleh, halal dan haram hanya bisa dinilai dengan ajaran agama. Kehidupan akan kembali tenteram dan damai manakala hasrat,  hawa nafsu, dan segala keinginan lainnya kembali tunduk kepada ajaran agama. 

Ibadah shaum Ramadhan yang akan kita laksanakan  satu bulan ke depan merupakan ‘kawah candradimuka” untuk membersihkan hasrat negatif, hawa nafsu, dan berbagai keinginan jahat lainnya. Tujuannya tiada lain  agar moral atau  akhlak dalam kehidupan kita  kembali murni didasari keimanan dan ketakwaan yang benar-benar murni pula.

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.  

Komentar

Loading...