Memuliakan Orang Tua

Memuliakan Orang Tua
Ilustrasi-berbakti-kepada-orang-tua. Wordpress.com

Oleh: Ade Sudaryat

SEORANG laki-laki menghadap Rasulullah saw. Ia bermaksud mendaftarkan diri ikut berjihad bersama pasukan Rasulullah saw. Singkat cerita, setelah orang tersebut mengikuti serangkaian test kekuatan fisik, keterampilan menunggang kuda, bermain pedang, dan berenang. Ia dinyatakan lulus. Namun, sebelum orang tersebut dinobatkan menjadi bagian dari prajurit pasukan muslim, Rasulullah saw memanggilnya, kemudian bertanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?”

“Masih ya Rasulullah, keduanya masih hidup. Hanya saja sudah tua renta,” jawab orang tersebut.

“Jika kamu berangkat ke medan perang, siapa yang akan mengurus kebutuhan mereka?” Tanya Rasulullah saw selanjutnya.

“Tidak ada, ya Rasulullah! Mereka akan tinggal di rumah berdua saja,” jawab orang tersebut. 

Rasulullah saw menghela nafas, kemudian berkata, “Kembalilah kamu ke rumahmu. Berbuat baiklah kepada kedua orang tuamu! Dengan cara seperti itu, kamu akan memperoleh pahala jihad” (Ash-Shan’ani, Subul al Salam, Juz III : 42).

Pada kesempatan lainnya, seorang laki-laki lainnya menghadap Rasulullah saw. Ia bertanya tentang berbakti kepada kedua orang tua. “Ya Rasulullah! Ibuku sudah hampir pikun. Aku sangat menghormati dan menyayanginya. Ketika ibuku mau makan, aku menyuapinya seperti ibuku menyuapiku ketika aku kecil. Ketika ia mau keluar atau ke jamban, aku menggendongnya. Pokoknya aku menyayangi dan berbuat baik kepadanya. Aku selalu menjaga perilaku dan ucapanku agar tidak menyakiti perasaan ibuku. Apakah dengan cara seperti itu, aku telah membalas jasa-jasa baik dan kasih sayang ibuku kepadaku?”

“Belum! Bahkan kasih sayangmu belum mencapai satu persen dari kasih sayangnya kepadamu. Hanya saja dengan cara seperti itu, kamu telah berbuat baik dan akan mendapat pahala dari Allah Swt.” (Muhammad bin Ibrahim al Samarqandi, Tanbihul Ghafilin, hal.  43-44).

Dari dua kisah tersebut, kita mengetahui betapa besarnya pahala berbuat baik kepada kedua orang tua. Kasih sayangnya kepada kita tak akan bisa terbalas dengan pemberian apapun. Benar kata peribahasa, kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah.

Beberapa tahun lalu, sekitar awal tahun 2017, kota Garut Jawa Barat  digemparkan dengan kasus gugatan seorang menantu dan anak kepada ibu kandungnya yang sudah berusia hampir 85 tahun. Gugatan utang piutang yang konon tak masuk akal, Rp. 1,8 miliar. Satu hal yang menjadi perhatian semua pihak bukan masalah utang piutangnya, tapi azas kelayakan. Layakkah seorang anak menggugat ibu kandung yang telah mengandung dan menyayanginya selama puluhan tahun? Apakah sang anak tidak menyadari akan kasih sayang yang telah diberikan ibu kandungnya?

Dalam persidangan di Pengadilan Negeri Garut, 30 Maret 2017, sang menantu sebagai penggugat  mengatakan, jika majelis hakim memenangkan gugatannya, ia akan memberikan sebesar 50 persen dari nilai gugatannya kepada Ibu mertuanya, demikian pula kata sang anak yang sama-sama sebagai penggugat (HU Galamedia, Bandung Jabar,  31 Maret 2017). Dari sumber lain diperoleh keterangan, sang anak dan menantu mengatakan, pemberian 50 persen tersebut merupakan paket kasih sayang kepada ibu kandungnya sebagai trauma healing, serta akan mengajaknya untuk pergi haji atau berlibur ke luar negeri. Namun, pada akhirnya gugatan sang anak kalah baik di tingkat Pengadilan Negeri maupun di tingkat banding dan kasasi.

Kini,  pada akhir Mei 2020, kasus anak yang menistakan kedua orang tuanya mencuat kembali. Sebuah media daring nasional terpercaya menyajikan sebuah berita,  seorang anak yang sudah lulus menjadi dokter tega memutuskan hubungan kekeluargaan dengan kedua orang tuanya. Sang Anak memasang iklan di sebuah koran nasional yang isinya menyatakan bahwa ia sudah tidak memiliki hubungan dengan kedua orang tuanya, dan segala perbuatan dan akibat hukum akan menjadi tanggung jawab masing-masing.

Kita hentikan berita kedua kasus tersebut sampai di sini. Satu hal yang jelas dari kasus tersebut, dari sudut pandang apapun tak akan ada yang membenarkan perilaku sang anak yang terdapat dalam kedua kasus tersebut. Setinggi apapun kedudukan seorang anak, dan sehina apapun derajat orang tua, sang anak tetap memiliki kewajiban untuk menghormati kedua orang tuanya.

Salah satu cara menghormati kedudukannya adalah dengan memberikan kasih sayang, tidak membuat ruwet pikirannya, dan tidak menyakiti perasaannya. Perlakuan seperti ini merupakan paket kasih sayang utama yang nilai pahalanya setara dengan ibadah umroh/haji mabrur dan jihad.

“Tidaklah seorang anak memandang kedua orang tuanya (memelihara mereka) dengan penuh kasih sayang, kecuali Allah Swt akan memberinya pahala seperti pahala haji mabrur” (H. R. Imam Rafi’i dari Ibnu Abbas).

Berbahagialah orang-orang yang masih memiliki kedua orang tuanya  masih hidup. Ia masih bisa meminta dido’akan, masih bisa memeluk dan duduk bersimpuh meminta maaf kepadanya. Pemberian maaf dan ridanya akan menjadi kunci kebahagiaan hidup dan pembuka pintu surga dan keridaan-Nya.  

Diantara sekian banyak do’a mustajab yang langsung Allah kabulkan adalah do’a orang tua kepada anak-anaknya.“Tiga doa yang tidak akan ditolak Allah, yaitu doa orang tua, doa orang yang berpuasa, dan doa seorang musafir (orang yang sedang di perjalanan/pengembaraan),” (H. R. al Baihaqi dalam Sunan al Kubro).

Kita harus yakin sepenuh hati, kedua orang tua kita tak memerlukan pemberian paket kasih sayang berupa harta benda, apalagi jika mereka sudah tua renta. Mereka hanya memerlukan perhatian, akhlak mulia, do’a, ucapan halus nan tulus, penghargaan dan pengakuan dari lubuk  hati kita akan jasa-jasa besar mereka. Hanya doa dan perbuatan baik kita yang akan berharga bagi mereka berdua di dunia dan akhirat.

Semoga Allah Swt memberikan kesabaran dan kekuatan kepada kita untuk berbakti kepada para orang tua kita, dan semoga orang-orang yang sedang memusuhi dan mendurhakai kedua orang tuanya diberi kelembutan hati, sehingga mereka menyadari akan kekeliruan perilakunya. ***

 

Penulis, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Qurrata A’yun Samarang Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...