Memuliakan Guru

Memuliakan Guru
Ilustrasi sang guru

Oleh: Ade Sudaryat

“WAHAI Rasulallah! Mereka itu masih terhitung keluarga, paman,  kerabat, atau sahabat kita. Menurut pendapatku, hendaklah engkau meminta tebusan dari mereka, agar tebusan yang kita ambil dari mereka ini dapat mengokohkan kedudukan kita dalam menghadapi kaum kafir, dan semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka, sehingga mereka menjadi pendukung kita.” Demikian jawaban Abu Bakar r.a ketika diminta pendapatnya tentang tawanan perang Badar Kubra.

Singkat cerita, setelah bermusyarah panjang dengan para sahabat, Rasulullah saw menyetujui pendapat Abu Bakar. Para tawanan boleh membebaskan diri dengan membayar tebusan antara 1000 - 4000 dirham. Bagi orang yang tidak mampu membayar, dia tetap dapat bebas, dengan syarat ia harus mengajar membaca dan menulis kepada sepuluh orang pemuda Madinah. Jika pemuda yang mereka ajari sudah mahir membaca dan menulis, mereka bebas dari tawanan (Al-Mubarrakfuri, Ar-Rakhiqul Makhtum, 2007 : 229; Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad, Jilid 2 : 69; Muhammad Syafi’i Antonio, Muhammad SAW The Super Leader, Super Manager, 2007 : 186).

Dari sepenggal kisah tersebut kita dapat mengetahui, betapa Rasulullah saw sangat menghargai orang yang mengajar membaca/menulis atau guru. Tebusan 1000 - 4000 dirham (uang perak) merupakan tebusan yang besar. Jika dikonversikan ke dalam rupiah saat ini, satu dirham setara dengan Rp. 82.180 (www.logammulia.com, diakses tanggal 28 Mei 2020, jam 03:18 WIB), berarti jasa mereka dihargai setara Rp. 82.180.000  -  Rp. 328. 720. 000.

Dalam hal menghormati guru, Sayidina Ali bin Thalib r.a., pernah berujar, “Aku siap menjadi pelayan bagi orang-orang yang pernah mengajarkan ilmu kepadaku.”

Umar bin Khathab r.a. berkata, “muliakanlah orang-orang yang mengajari kalian.  Salah satu cara memuliakan guru adalah dengan memberikan upah yang layak. Karenanya, pada saat ia menjadi Khalifah, setiap guru dibayar sebesar 15 Dinar (uang emas).  Satu Dinar setara dengan 4,25 gram emas. Jika dikonversikan ke dalam rupiah saat ini, harga 1 dinar setara dengan Rp. 3.701.750 (www.logammulia.com diakses tanggal 28 Mei 2020, jam 03:25 WIB), maka gaji guru pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab setara dengan 15 x Rp. 3.701.750,- = Rp. 55.526.250,-. Suatu bayaran yang cukup besar. Namun, dalam sejarah tidak ada catatan, apakah bayaran tersebut diberikan per bulan atau per tahun?

Dalam sistem pendidikan nasional, dikenal tiga jalur pendidikan yakni pendidikan formal, nonformal, dan informal. Sementara gurunya, ada guru formal dan guru nonformal. Dalam memberikan penghargaan, pemerintah baru memberikan penghargaan kepada guru formal baik yang berada di lembaga pendidikan negeri maupun swasta. Sementara guru nonformal, sampai saat ini belum sepenuhnya mendapatkan perhatian pemerintah. Salah satu dari sekian banyak guru nonformal adalah keberadaan guru mengaji atau pengajar Al-Qur’an.

Namun demikian, meskipun masih jauh dari layak, sudah ada beberapa pemerintahan daerah yang memberikan penghargaan kepada guru mengaji dengan memberikan insentif berupa honor alakadarnya yang diberikan setiap enam bulan sekali. Padahal, sebelum ada guru-guru formal, merekalah yang berjasa memberikan pengajaran dan pendidikan kepada masyarakat, khususnya untuk bidang keagamaan dan pendidikan akhlak.

Sejarah telah membuktikan, salah satu faktor penyebab kemajuan suatu bangsa ditentukan adanya sosok guru. Ketika Nagasaki dan Hirosima hancur lebur dibom tentara sekutu, yang pertama dicari Kaisar  Hirohito pada waktu itu bukanlah sumber-sumber perekonomian, namun ia mencari sosok guru yang masih tersisa. Ia membangkitkan semangat para  guru agar mau memberikan pelajaran ilmu pengetahuan kepada masyarakat. Hasilnya bisa dilihat, Jepang menjadi negara maju.

Ajaran Islam melarang kita menyakiti orang-orang yang pernah mengajari kita. Mirisnya, sudah beberapa tahun terakhir ini, di beberapa daerah, banyak pelecehan terhadap profesi guru. Tak sedikit guru yang di-bully, dicerca, dihina, bahkan disakiti, baik oleh peserta didik, orang tua, maupun masyarakat. Namun demikian, kita pun tak memungkiri, banyak perilaku oknum guru yang melanggar kode etik keguruan. Hal ini mengundang peserta didik, orang tua, maupun masyarakat bertindak tidak senonoh kepada kaum guru. Karena itu, baik guru, peserta didik, orang tua, dan masyarakat secara bersama-sama harus tetap menghormati dan menjaga etika dunia pendidikan.

Sudah sejak lama, keberadaan guru di negara kita diakui laksana pelita dalam kegelapan. Kita  harus menghormati dan memuliakannya agar pelita yang dipancarkannya tetap bersinar terang. Dengan menghormati dan memuliakan guru, insya Allah kita akan menjadi pribadi dan negara yang maju, mulia, dan berwibawa. Semoga.***

 

Penulis, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Qurrata A’yun Samarang Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...