Memuliakan Anak Yatim & Orang Miskin

Memuliakan Anak Yatim & Orang Miskin
Ilustrasi

HIJRAH Rasulullah saw dari Makkah ke Madinah merupakan proses menuju kemuliaan agama, umat, dan  diri orang yang melakukannya dengan ikhlas. Proses awal untuk memperoleh kemuliaan dalam hijrah adalah mempererat tali  persaudaraan dan menebar kasih sayang. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan ketika umat Islam tiba di kota Madinah, langkah pertama yang dilakukan Rasulullah saw setelah membangun masjid adalah ta’aakhi, saling mengikat tali persaudaraan.

Buah dari pengikatan tali persaudaraan tersebut adalah rasa saling menghormati dan saling menyayangi. Tak mungkin akan ada perasaan  saling menghormati dan menayayangi manakala tidak ada ikatan persaudaraan.

Lahirnya agama Islam pada intinya untuk mengikat persaudaraan seakidah antar pemeluk Islam, saling menghormati,  dan hidup rukun dengan siapapun. Secara akidah, seorang mukmin dengan mukmin lainnya  itu bersaudara. Idealnya, ketika seseorang sudah menyatakan ikrar akan keimanannya, ia haram diganggu harta dan jiwanya, bahkan haram untuk dihina dan dijelek-jelakan harkat dan martabatnya.

Sehina apapun seseseorang dan  serendah apapun kedudukannya di hadapan kita, manakala ia sudah berikrar iman kepada Allah dan Rasul-Nya, ia merupakan orang mulia di hadapan Allah dan Rasul-Nya. Ia memiliki kedudukan dan derajat yang sama dengan mukmin lainnya.

Memperlakukan orang lain dengan mulia tanpa melihat status dan kedudukannya inilah yang dilakukan Rasulullah saw ketika tiba di kota Madinah. Ketika Rasulullah saw akan mendirikan masjid,  ia mendapatkan informasi,  tanah yang akan dipakai mendirikan masjid tersebut merupakan tanah milik dua orang anak yatim di bawah perwalian As’ad bin Zararah. Ia tak segera melakukan pembangunan masjid tersebut, namun ia bermusyawarah dahulu dengan pemiliknya.

As’ad bin Zararah merasa bangga ketika mendengar kabar tersebut.  Ia segera berbicara dengan kedua anak yatim yang berada di bawah perwaliannya.  Mereka berdua mengizinkan tanahnya dihibahkan untuk  bangunan masjid. Hal ini segera dikabarkan As’ad kepada Rasulullah saw.  

Rasulullah saw sangat gembira mendengarnya, namun ia menolak jika tanah itu dihibahkan setelah mengetahui harta kedua orang anak yatim hanya sebidang tanah tersebut. Akhirnya, tanah tersebut tetap dipakai bangunan masjid setelah Rasulullah saw dan para sahabatnya membelinya seharga sepuluh dinar.

Peristiwa ini merupakan bukti betapa Rasulullah saw mengajarkan kepada kita untuk senantiasa menghormati hak-hak orang lain sekalipun kedudukannya lebih rendah daripada kita. Kedudukan Rasulullah saw  yang mulia tidak digunakannya secara sewenang-wenang. Sebaliknya, kedudukannya yang mulia tersebut digunakan untuk memuliakan orang lain. Terlebih-lebih jika ia berhadapan dengan anak yatim.

Rasulullah saw sangat mewanti-wanti kepada kita agar selalu memuliakan anak yatim. Saking sayangnya ia kepada anak-anak yatim, ia mendapat gelar Abu al Yatim, bapaknya semua anak yatim.

Dalam salah satu sabdanya, ia menjamin kedudukan yang mulia di surga bagi orang-orang yang menyantuni, menghormati, dan memuliakan anak yatim. Kelak ia akan duduk berdampingan dengan Rasulullah saw di surga. Saking dekat duduknya dengan Rasulullah saw, ia diibaratkan seperti dekatnya jari telunjuk dan jari tengah.

Perilaku mulia lainnya yang mengikuti proses hijrah adalah menghormati, menyantuni, dan memuliakan orang-orang miskin. Keberadaan mereka di tengah-tengah kehidupan kita bukan untuk dihina, dicerca, atau dicampakkan dari tengah-tengah kehidupan. Namun, keberadaannya merupakan jembatan bagi kita untuk memperoleh kemuliaan hidup di dunia dan akhirat.

Ketika kita menolong mereka dengan tulus, Allah telah mempersiapkan  ribuan pahala bagi  kita. Malahan bisa jadi, terkabulnya do’a  kita lantaran jeritan do’a orang-orang miskin yang kita bantu.

Kenyangnya perut mereka sehingga mereka bisa nyenyak tidur pada malam hari karena bantuan makanan dari kita,  merupakan wujud dari kesempuraan keimanan kita. Sementara laparnya perut mereka sampai mereka tak bisa tidur pada malam hari, padahal kita mengetahuinya, dikhawatirkan merupakan wujud dari ketidaksempurnaan keimanan kita. Sebabnya, Rasulullah saw pernah bersabda, tidaklah sempurna keimanan seseorang yang membiarkan tetangganya kelaparan dan tak dapat tidur, padahal orang tersebut mengetahuinya.

Pendusta agama merupakan gelar bagi orang-orang yang membiarkan anak-anak yatim  dan kaum miskin terlantar dan kelaparan. Sementara itu, merupakan perbuatan yang tergolong  dosa besar bagi orang-orang yang memakan harta anak yatim dan orang-orang miskin. Ibadah shalat kita  tak akan bernilai sedikit pun di hadapan Allah, manakala kita masih membiarkan anak-anak yatim dan kaum miskin di sekitar kita terlantar dan kelaparan seraya kita mampu menolongnya.

Secara politis, kehidupan berbangsa dan bernegara kita sangat menghormati dan memuliakan  kaum miskin dan anak yatim. Hal ini terbukti pada pasal 34 ayat 1 dan 2 Undang-undang Dasar (UUD) 1945 yang menyebutkan,  “(1) Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara; (2) Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan.

Jika kedua konsep bernegara tersebut benar-benar dilaksanakan dengan baik, kemuliaan hidup berbangsa dan bernegara akan segera kita peroleh. Kita bisa bercermin dari kemuliaan hidup Rasulullah saw dan para sahabatnya di Madinah. Kemuliaan hidup dan kesejahteraan masyarakat  di Madinah pada waktu itu, salah satunya diperoleh dengan cara memuliakan dan membantu meringankan beban kehidupan  anak-anak yatim dan kaum miskin.

Kemuliaan akan diperoleh siapapun di negeri ini, manakala ia mampu mengangkat derajat kehidupan anak-anak yatim dan kaum miskin. Sebaliknya kehinaan  akan diperoleh siapapun, manakala ia menghinakan, menghardik, apalagi jika sampai merampas, menguasai, dan memakan  hak-hak anak yatim dan kaum miskin.

Bulan Muharram yang mulia merupakan saat yang tepat untuk selalu menghidupkan spirit hijrah. Salah satu spirit tersebut adalah memuliakan dan  membantu meringankan beban kehidupan anak-anak yatim dan kaum miskin.

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Mereka itulah orang yang menghardik anak yatim; dan tidak mendorong memberi makan orang miskin; maka celakalah orang yang shalat; yakni orang yang lalai terhadap shalatnya; yang berbuat ria; dan enggan memberikan bantuan” (Q. S. al Ma’un : 1-7). ***

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kp. Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.  

Komentar

Loading...