Memuliakan al Qur’an

Memuliakan al Qur’an
Ilustrasi

DARI masa ke masa selalu saja bermunculan orang-orang  yang menghina dan merendahkan Islam. Al Qur’an dan kenabian Nabi Muhammad saw selalu menjadi objek penghinaan mereka. 

Pada masa Rasulullah saw masih hidup, Musailamah al Kadzdzab merupakan tokoh  kafir di Makkah yang mengaku menjadi seorang nabi dan membuat al Qur’an palsu. Pengakuan menjadi Nabi dan membuat al Qur’an palsu merupakan penghinaan terhadap Islam.

Pada masa modern seperti sekarang ini semakin bermunculan orang-orang yang menghina al Qur’an dan mengaku-ngaku nabi.  Terlebih-lebih setelah merebaknya berbagai media sosial. Banyak alasan yang melatarinya, ada yang karena ingin viral di media sosial; ada yang memang karena kebodohannya tidak mengetahui hukum; ada pula yang karena pelampiasan emosi sesaat; dan ada pula yang benar-benar karena kebenciannya terhadap Islam dan umatnya.

Jika semuanya terliput media, di setiap tempat dan masa pasti ada saja orang yang menghina dan merendahkan al Qur’an. Hal ini harus menjadi tantangan bagi kita, umat Islam  untuk dapat membuktikan kemuliaan dan kebenaran al Qur’an.

Kasus terbaru penghinaan terhadap al Qur’an yang terjadi di Swedia, Jum’at (29/8/2020) dan di Norwegia, Sabtu (30/8/2020) merupakan bukti nyata akan masih adanya orang-orang yang membenci Islam. Memprotes, melawan, dan mengutuk perlakukan mereka merupakan suatu keharusan sebagai bukti akan adanya rasa cinta dan ghirah kita terhadap Islam. Namun demikian, kita pun harus kembali mengevaluasi diri kita masing-masing, jangan-jangan mereka berani menghina Islam dan berbagai atribut kemuliaannya  karena diri kita sendiri tidak atau kurang memuliakannya.

Terhadap al Qur’an misalnya, kita sudah meyakininya  sebagai kitab suci yang mulia dan pedoman hidup, namun mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing sudah sejauh mana kita menghormati dan memuliakannya? Apakah kehidupan kita sudah sesuai dengan nilai-nilai yang digariskan al Qur’an, setidaknya sudahkah kita  berupaya menyesuaikan diri dengan nilai-nilainya?

Benar kita sudah menghormati al Qur’an secara fisik. Seorang muslim yang taat tak mungkin akan menyimpan al Qur’an di tempat yang tidak layak. Jangankan menghinakannya, sekedar menyimpan suatu barang di atasnya saja tak akan berani melakukannya.

Namun demikian, menghormati dan memuliakan al Qur’an tidak boleh berhenti sampai disana. Salah satu bagian dari memuliakan al Qur’an adalah membaca dan mengkaji kandungannya. 

Mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing, kapan terakhir kali mengkhatamkan membaca al Qur’an? Berapa ayat atau berapa juz dalam sehari kita membacanya?

Jika kita masih jarang membacanya, bahkan mungkin hanya membaca pada bulan Ramadhan saja, jangan-jangan kita pun sedang merendahkan kemuliaan al Qur’an. Kita jarang  menyentuh untuk membacanya.

Kemudian mari kita merenungkan sikap dan perlakuan kita terhadap fisik al Qur’an, jika al Qur’an di rumah kita penuh debu bisa jadi al Qur’an tersebut jarang dibaca atau merupakan pertanda  kita sudah kurang peduli dengan kemuliaannya. Jika di rumah kita, di mushala,  atau masjid terdapat  al Qur’an yang jilidnya sudah sobek atau  rusak, adakah di hati kita keinginan untuk memperbaikinya atau kita tak memperdulikannya?

Beranjak ke masalah berikutnya. Apakah ucapan dan perilaku kita sering kita cocokan dengan tuntunan al Qur’an? Atau kita  menempatkan al Qur’an pada sisi yang berseberangan dengan ucapan dan perilaku keseharian kita?

Perlu kita yakini, umat Islam pada masa Rasulullah saw memiliki wibawa karena kehidupannya benar-benar berpedoman al Qur’an. Nilai-nilai kehidupan yang mereka jalani tak berseberangan dengan al Qur’an. Mereka menafsirkan al Qur’an dengan perilaku dalam berbagai lini kehidupan, baik sosial, ekonomi, bahkan politik. Lalu bagaimana dengan kita?

Harus diakui, ucapan dan perilaku kita masih banyak berseberangan dengan al Qur’an. Kecintaan terhadap  al Qur’an baru sebatas simbol kesalehan dengan menjadikan sebagian ayat al Qur’an sebagai ringtone dalam handphone, belum dijadikan “ringtone” dalam kehidupan keseharian. Seandainya al Qur’an benar-benar sudah dijadikan “ringtone” kehidupan,  nilai-nilai kehidupan kita akan lebih banyak menyesuaikan dengan nilai-nilai yang terdapat dalam al Qur’an.

“Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat beberapa kaum dengan kitab ini (al Qur’an) dan Dia akan menghinakan beberapa kaum lainnya dengan kitab al Qur’an” (H. R. Muslim).

Allah akan mengangkat derajat kemuliaan orang-orang yang membaca, mengkaji, dan mengimplementasikan nilai-nilainya dalam kehidupan. Allah pun akan menghinakan mereka yang merendahkan dan mencampakkan al Qur’an dalam kehidupannya.

Sampai kapanpun akan tetap ada orang atau kelompok orang yang berupaya mencampakkan,  merendahkan, dan menghina al Qur’an. Namun, jangan khawatir sampai kapan pun akan tetap ada orang  atau sekelompok orang yang akan membela kebenaran dan kemuliaannya.

“Akan tetap ada dari umatku sekelompok orang yang selalu berusaha menegakkan kebenaran. Tidak akan membinasakannya perbuatan orang-orang yang mencela dan menyia-nyiakannya sampai Allah mendatangkan kepada mereka ketetapan-Nya, sedangkan mereka tetap dalam kondisi seperti itu (membela kebenaran)” (H. R. Muslim).

Sekemampuan yang kita miliki, kita harus menjadi bagian dari orang-orang yang membela dan memuliakan al Qur’an yakni dengan mempelajari, membaca, mengkaji, dan mengimplementasikannya dalam kehidupan. Allah akan memuliakan orang-orang yang membela al Qur’an, dan Allah akan membinasakan orang-orang yang menghina dan merendahkannya.

Semoga kita menjadi bagian dari orang yang istikamah dalam membela kebenaran termasuk dalam memuliakan al Qur’an. “Jika ada seribu orang yang membela kebenaran, aku berada diantaranya. Jika ada seratus orang yang membela kebenaran, aku berada diantaranya. Jika ada sepuluh pembela kebenaran, aku tetap ada di barisan itu. Dan jika hanya ada satu orang yang tetap membela kebenaran, maka akulah orangnya” (Umar bin Khattab r.a).

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah  Cisurupan Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...