Memperbaiki Akhlak

Memperbaiki Akhlak
Ilustrasi.net

AKHLAK yang baik merupakan muara akhir dari ketaatan kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, bukti dari keimanan dan ketakwaan kita diwujudkan dalam  akhlak yang baik. Kelak, timbangan amal baik kita di hadapan Allah akan semakin bertambah manakala kita memiliki akhlak yang baik. 

Tidak ada kesempurnaan iman, bahkan dinilai tak beriman, orang-orang yang tidak berakhlak baik. Menghormati tetangga, menghormati tamu, dan berkata baik yang dianggap perbuatan biasa, dalam ajaran Islam ditempatkan sebagai perbuatan mulia sebagai indikator kesempurnaan iman.

Memberi bantuan kepada anak yatim dan kaum miskin, menolong orang yang kesulitan merupakan akhlak baik yang menjadi tanda ketaatan seseorang terhadap ajaran Islam. Seseorang dianggap pembangkang terhadap ajaran agama, tidak sempurna keimanannya manakala ia membiarkan anak-anak yatim dan kaum miskin di sekitarnya hidup terlantar, padahal ia mampu untuk menolongnya.

Demikian pula, seseorang dianggap tidak sempurna keimanannya manakala ia membiarkan tetangganya kelaparan, padahal ia mengetahui dan mampu menolongnya. Seseorang yang rajin beribadah kepada Allah, semua ibadahnya akan ditolak manakala ia sering menyakiti tetangganya.   

Bukan kepada sesama manusia saja, ajaran Islam mengajarkan kita untuk berakhlak baik kepada seluruh makhluk Allah, termasuk kepada lingkungan hidup. Dikisahkan dalam sebuah hadits, seorang wanita masuk neraka gara-gara lupa melepaskan kucing yang dikurungnya.  Kucing tersebut mati karena tidak bisa mencari makanan sendiri, sementara ia lupa tidak memberinya makan.

Rasulullah saw memberikan teladan kepada kita, ia sangat mencintai kebersihan lingkungan hidup. Ia menghargai orang-orang yang mencintai lingkungan hidup. Ia melarang umatnya mengotori sungai yang airnya dipakai kebutuhan masyarakat. Rasulullah saw menghargai Ummu Mahjan seorang perempuan tua yang setiap hari menjaga kebersihan masjid. Ia juga menghargai orang-orang yang menanam pohon untuk menyuburkan lahan dan menyedekahkan hasilnya untuk kepentingan umum.

Dengan dalih ada petugas kebersihan  kita sering membuang sampah seenaknya.  Padahal  disiplin dalam membuang sampah  merupakan bagian dari akhlak mulia dan bagian dari kesempurnaan iman.

Keimanan  itu memiliki 60-70 cabang. Cabang tertinggi adalah keyakinan kepada Allah  “laa ilaaha illa Allah”, dan cabang terendah adalah membuang duri atau sampah yang membahayakan, mengotori lingkungan,  atau jalan umum.

Hari  ini, kita sedang kehilangan akhlak yang baik. Salah satu bagian yang hilang dari akhlak baik di sekitar kita adalah penggunaan kata-kata yang baik. Saling cerca, saling hina, dan saling tuduh terjadi hampir setiap hari dalam setiap lini kehidupan.  Tata krama saling menghargai yang muda kepada yang tua, saling hormat antara rakyat dan pejabat, saling hormat antar  tokoh agama dan masyarakat,  rasa hormat murid kepada guru, rasa hormat orang tua kepada anak, pada saat ini sedang sakit.

Hampir setiap hari muncul hinaan dan cercaan satu pihak kepada pihak lainnya. Semua ini, pada akhirnya berujung kepada hilangnya kasih sayang antar sesama, dan tumbuhnya berbagai kebenciaan di sekitar kita.

Ketika rasa kasih sayang sudah hilang, tak sedikit yang berujung kepada murahnya harga nyawa manusia. Hampir setiap hari kita mendengar berita pembunuhan manusia, mulai dari bayi yang dibuang di tempat yang tak layak, mayat yang dikubur secara keji, atau mayat yang dibuang di tempat sampah layaknya membuang bangkai tikus.

Hari ini, harga nyawa manusia nampak murah sekali. Dengan masalah sepele saja  nyawa manusia bisa melayang. Kata mutilasi menjadi kata yang tak menakutkan lagi. Nilai-nilai kemanusiaan mati digilas nafsu amarah dan keserakahan.

Sementara itu, tingkat kejahatan dan berbagai kemunkaran baik secara  tersembunyi maupun terbuka meningkat dari hari ke hari. Peredaraan minuman keras, penggunaan narkotika, dan jenis barang-barang yang merusakan otak dan jiwa manusia semakin berani menampakkan diri.

Dengan alasan kesulitan hidup, himpitan berbagai problema kehidupan, minuman keras, penggunaan narkotika, dan barang sejenisnya menjadi pelarian. Para penggunanya sudah tak merasa takut lagi berhadapan dengan sanksi hukum. Mereka sudah menduga, hukumannya paling-paling dilarikan ke tempat rehabilitasi. 

Demikian pula dengan tindak pidana korupsi. Dari waktu ke waktu bukannya semakin hilang, namun semakin menjadi-jadi dengan berbagai modifikasi modusnya agar tak terdeteksi sebagai perbuatan korupsi.

Kini,  sudah banyak yang terjerat kasus korupsi,  mulai dari pejabat tingkat rendah sampai pejabat tinggi dan telah mendapat vonis hukuman. Namun  kasus korupsi tetap ada, kemungkinan besar karena hukumannya yang tak membuat jera dan menakutkan bagi para pelakunya.

Sementara itu, kejujuran tergilas kebohongan. Fakta tergilas berita-berita fiksi atau hoax yang sengaja diciptakan untuk mengaburkan bahkan menutupi fakta yang  sebenarnya. Orang  jujur terkubur,  pembohong dan pengecut malah bisa hidup subur dan makmur.

Banyak orang yang akan marah jika kehidupan kita  disandingkan dengan kehidupan jaman jahiliyah. Tapi fakta kehidupan kita tak bisa kita tolak, perilaku kehidupan sebagian dari kita nampak seperti jaman jahiliyah, masa-masa sebelum Rasulullah saw hadir di tengah-tengah umat.

Sudah saatnya, para tokoh  agama, tokoh bangsa, para penegak hukum, bergandengan tangan untuk bersama-sama memperbaiki kehidupan. Sudah saatnya, semua komponen bangsa melepaskan sikap egosentrisnya, dan menyatukan tujuan yang sama untuk  memperbaiki akhlak.

Akhlak yang baik merupakan modal utama kemajuan suatu bangsa. Sumber daya alam yang melimpah, anggaran pembangunan negara yang besar, tak akan berpengaruh apa-apa terhadap kemajuan suatu bangsa,  jika dikelola oleh sumber daya manusia yang berakhlak jelek.

Sudah saatnya kita berhenti dulu sejenak dari perdebatan-perdebatan yang nihil dari hasil. Mari kita arahkan fokus kita untuk memperbaiki akhlak. Perbaikan akhlak diri sendiri harus kita dahulukan sebelum memperbaiki akhlak orang lain.

Sebelum melangkah lebih jauh melaksanakan tugas manusia untuk memakmurkan bumi ini, mari kita kembali kepada visi dan misi Rasulullah saw, yakni mengajak manusia untuk bertauhid, memperbaiki, dan menyempurnakan akhlak. “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak” (H. R. Bukhary, al Hakim, dan al Baihaqy).

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kp. Pasar Tengah Cisurupan  Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...