Memburu Makna Hidup

Memburu Makna Hidup
Ilustrasi.net

KETIKA memberi kata pengantar  terhadap buku “Man’s Search For Meaning” karya Viktore E. Fankle, Harold S. Kushner yang juga penulis buku-buku psikologi mengatakan, terdapat tiga kemungkinan makna suatu kehidupan yakni dalam kerja (melakukan sesuatu yang penting); dalam cinta (kepedulian terhadap orang lain); dan dalam keberanian di saat-saat sulit. 

Tulisan ini tidak akan membahas makna hidup dari perspektif psikologi, namun tulisan ini akan membedahnya dari sudut pandang Islam. Seluruh aspek aktivitas yang kita lakukan harus memberi makna terhadap kehidupan. Sangatlah rugi jika aktivitas yang kita lakukan hanya bernilai rutinitas belaka, tak menambah pundi-pundi makna hidup yang sarat pahala bagi bekal hidup di akhirat kelak 

Sejak nabi Adam a.s diturunkan ke muka bumi sampai diutusnya Nabi Muhammad saw, Islam  selalu mengajarkan agar setiap hamba Allah dapat memaknai kehidupannya. Setiap hamba harus meraih nilai manfaat dari kehidupan, baik bagi diri sendiri  maupun  orang lain.

Sebagai makhluk yang diciptakan dalam sosok paling baik, manusia diharuskan memiliki nilai pembeda dengan  makhluk lainnya. Jika tidak, manusia akan terperosok ke dalam kehinaan yang derajatnya lebih rendah daripada binatang sekalipun.

Surat at Takwir ayat 26 menyebutkan, “maka kemanakah kamu akan pergi?” merupakan isyarat untuk mencari makna dan tujuan dari kehidupan kita. Apapun yang kita lakukan harus memberikan makna terhadap kehidupan kita. Aktivitas apapun yang kita lakukan harus sarat pahala yang dapat memberi makna lebih dari kehidupan kita sebagai sosok makhluk terbaik.

Pekerjaan, cinta kasih, dan kesungguh-sungguhan kita dalam menjalani kehidupan merupakan upaya dalam memberi makna terhadap kehidupan. Jika asal bekerja, asal mencintai, dan asal bergerak, kita tak memiliki nilai pembeda dengan makhluk lainnya, dalam hal ini binatang. Jika asal bekerja, asal makan, asal bercinta, atau asal bergerak, binatang pun bisa. Malahan bisa lebih lincah daripada aktivitas yang kita lakukan.

Sementara itu, ibadah yang merupakan tujuan dari penciptaan  jin dan manusia (Q. S. adz Dzariyat : 56) pada intinya untuk memberikan nilai lebih atau makna kehidupan. Karenanya, aktivitas apapun yang kita lakukan harus mempunyai nilai ibadah.  Kita harus berupaya keras agar aktivitas  yang kita lakukan selama hidup di dunia ini menjadi pemberat timbangan amal kita kelak di akhirat.

Satu hal yang harus benar-benar diyakini, kehidupan di dunia ini hanya sementara. Kelak kita akan hidup di alam tanpa batas, yakni akhirat, dan kita harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita selama hidup di dunia. Sungguh berat pertanggungjawaban kita dan merupakan suatu penyesalan abadi manakala aktivitas selama di dunia ini tak memberi makna apapun terhadap kehidupan, apalagi jika hanya dilakukan sebagai aktivitas menabung dosa saja.

Karenanya, tidaklah salah jika kita menjabarkan konsep mencari makna hidup yang ditawarkan Viktor E. Frankel seperti dikutip pada awal tulisan ini.  Pekerjaan yang kita lakukan bukan hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup saja, tetapi pekerjaan yang kita lakukan harus bernilai ibadah.  

Niat ikhlas dalam bekerja demi bekal ketaatan kepada Allah dan memenuhi kebutuhan hidup harus selalu tertanam di hati sejak melangkahkan kaki ke tempat pekerjaan. Jika langkah-langkahnya seperti itu, maka cucuran keringat, penatnya bahkan sakitnya tubuh akan bernilai pahala. Sementara sungguh-sungguh dan profesional dalam melakukan suatu aktivitas merupakan nilai tambah yang akan menarik cinta Allah swt.

Lebih dari itu,  untuk memberi makna mulia terhadap kehidupan, kita pun harus mampu melakukan aktivitas yang bermanfaat seraya menjauhi aktivitas yang tidak bermanfaat, apalagi merugikan kehidupan. Kebermaknaan hidup seorang muslim adalah manakala ia mampu meninggalkan suatu perbuatan yang tidak memberi makna dan nilai tambah kebaikan bagi kehidupannya.

Mencintai dan mengasihi orang lain yang diwujudkan dalam kerelaan menolong orang-orang yang sedang kesusahan merupakan wujud dari kehidupan yang bermakna bagi dirinya sendiri dan orang lain. Disebut demikian, sebab manusia yang terbaik adalah manusia yang mampu memberikan manfaat bagi orang lain.

Agar dapat melakukan aktivitas dengan baik, tulus, ikhlas, dan memberikan cinta kasih kepada orang lain, kita harus memiliki keberanian dalam melakukan suatu aktivitas. Selain bersungguh-sungguh dalam melakukannya, ciri lain dari orang yang memiliki keberanian adalah tidak putus asa dan pantang menyerah ketika menghadapi kesulitan atau rintangan dalam melakukan suatu aktivitas.

Seseorang yang pemberani tidak akan sombong ketika berhasil dan meraih kesuksesan dalam melaksanakan aktivitasnya, juga tak pernah mengenal kata putus asa ketika menghadapi rintangan atau kegagalan. Semuanya dihadapi dengan senantiasa  menggantungkan harapannya kepada Yang Mahakuasa.

Orang-orang yang berharga di hadapan Allah adalah mereka yang berupaya keras memberi makna terhadap kehidupannya. Setiap desah nafas dan langkahnya selalu dihiasi niat tulus untuk berjalan menuju kepada peraihan rahmat dan rida-Nya.

Tuntunan Allah dan Rasul-Nya senantiasa menghiasai setiap aktivitasnya. Sebab hanya dengan meleburkan “warna-warni” perintah Allah dan Rasul-Nya saja suatu aktivitas akan memberi makna kehidupan kita di dunia dan kelak di akhirat. ***

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut. 

Komentar

Loading...