Memberi Teladan

Memberi Teladan
Ilustrasi.net

GARIS besarnya terdapat dua faktor keberhasilan dakwah Rasulullah saw yang kemudian diikuti oleh para sahabat, dan sebagian para tabi’in serta orang-orang pengikut berikutnya. Kedua faktor tersebut adalah mulai dari diri sendiri dan memberi teladan.

Jauh sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul, Muhammad telah memberikan contoh yang baik. Kejujuran, keuletan dalam bekerja, dan akhlak baik lainnya senantiasa melekat pada dirinya. Gelar al-Amin, orang yang dapat dipercaya merupakan gelar yang tak pernah diberikan orang kafir Quraisy kepada siapapun, kecuali kepada Muhammad calon Nabi dan Rasul Allah pada waktu itu.

Setelah diangkat menjadi Nabi dan Rasul, kemuliaan akhlaknya semakin meningkat. Wahyu Allah yang kemudian dibukukan menjadi kitab suci al-Qur’an benar-benar menjadi pedoman hidup kesehariannya. Ucapan, perilaku, dan tindakan  Rasulullah saw bukanlah berdasarkan hawa nafsu, namun berdasarkan wahyu Allah. Ia tak akan bertindak dan berucap apapun kecuali jika sudah digariskan dalam al qur’an. Tidaklah mengherankan jika Siti Aisyyah r.a mengatakan, “Akhlak Rasulullah saw itu adalah segala aturan yang telah digariskan dalam al Qur’an.

Ia selalu menjadi orang yang pertama dalam melaksanakan perintah Allah sebelum siapapun. Jangankan dalam ibadah, dalam kehidupan bermasyarakat pun dialah yang selalu menjadi orang pertama dalam melaksanakan tugas kemasyarakatan. Ketika membangun masjid yang kemudian sekarang kita kenal dengan sebutan Masjid Nabawi, dialah orang pertama yang meratakan tanah untuk pembangunan masjid tersebut.

Ketika terjadi peperangan khandaq, ia tak segan-segan turun tangan, bahu membahu bersama para sahabat iku menggali parit. Ia tak segan-segan ikut menghancurkan batu-batu besar, dan memindahkannya. Sebaliknya dalam hal pembagian makanan atau kepentingan untuk khalayak banyak yang berupa sandang, pangan, maupun papan, dialah orang yang terkahir mendapat bagian. 

Dalam suatu perjalanan menunaikkan umrah, ia bersama para sahabat singgah di Hudaibiyah.  Ia menunggu kabar berita izin diperbolehkan masuk kota Makkah. Namun, setelah ia dan para sahabat menunggu berminggu-minggu, keputusan kaum kafir Quraisy tak membolehkan umat Islam untuk melaksanakan ibadah umrah pada tahun tersebut.

Mendengar keputusan tersebut, selain menjadi penyesalan yang mendalam, hampir 1400 orang yang ikut bersama kafilah Rasulullah saw mulai kehabisan bekal dan kekurangan air. Akhirnya Rasulullah saw mengeluarkan mukjizatnya, ia menancapkan panah ke suatu sumur, dan airnya keluar melimpah. Ia mempersilakan para sahabat untuk memanfaatkan air tersebut, dan ia menjadi orang terakhir dalam menggunakannya.

Masih dalam peristiwa Hudaibiyah, dialah orang yang pertama melakukan tahallul (menggunting rambut) dan memotong hewan Qurban agar para sahabat mengikuti terhadap apa yang telah ia lakukan. Karena perbuatan yang dicontohkan Rasulullah saw tersebut para sahabat pun mengikutinya.  Padahala sebelumnya ketika ia hanya memerintahkannya hanya berupa kata-kata tanpa contoh nyata, tak ada seorang pun sahabat yang mau melakukannya.

Itulah keteladanan. Satu contoh nyata atau keteladanan yang diperlihatkan di hadapan khalayak akan lebih tajam daripada ribuan kata yang keluar dari mulut kita. Orang akan lebih gampang meniru perbuatan seseorang setelah ia melihat contoh  melakukannya.

Kondisi pada hari ini, kita berada pada situasi banyak bicara sedikit bekerja, bahkan pembicaraannya pun tanpa didukung fakta. Berita hoaks mengalahkan berita yang sebenarnya. Banyak bicara tanpa kerja nyata lebih diamini daripada kerja nyata. Khalayak pun sudah terbiasa terpukau, dininabobokan pembicaraan hoaks yang mengundang perdebatan hebat sampai pertengkaran yang disorot kamera. Demikian pula dengan keteladanan, pada saat ini kita hidup di tengah-tengah masyarakat dengan pemimpin yang miskin memberikan keteladanan yang baik.

Benar, kita sering membahas riwayat hidup orang-orang hebat, mulai dari Nabi, Rasul Allah, filosof, sampai pemimpin bangsa-bangsa  di dunia, bahkan riwayat hidup para pendiri negeri ini, tapi itu hanya di atas mimbar. Dengan retorika yang baik, penuturan keteladanan-keteladanan tersebut membuat semua orang terpukau. Namun, lagi-lagi miskin implementasi. Retorika di atas  mimbar bertentangan dengan perilaku dalam kehidupan nyata. Hedonis, egois, bahkan hipokrit menyelimuti ucapan dan perbuatan dalam kehidupan keseharian kita.

Mary Belknap (2019 : 62) dalam karyanya “Homo Deva” memaparkan bahwa generasi manusia pada saat ini tengah dilanda kesakitan, terutama di kalanagan anak-anak muda penerus kehidupan. Mulai dari penyakit fisik, jiwa, buruknya moral sampai penyalahgunaan narkoba tengah melanda kaum millenial.

Menurutnya, obat untuk semua itu sebenarnya hanya satu. Kita tak perlu mencari obat-obat ajaib yang sulit untuk digambarkan. Obat tersebut tiada lain adalah memberikan teladan yang baik. Perilaku para pemimpin, orang dewasa, orang tua, harus lebih baik daripada perilaku para generasi muda. Semua kalangan harus memberikan teladan yang baik, membicarakan apa yang harus dibicarakan, melakukan apa yang harus dilakukan, dan menajalani yang terbaik yang kita tahu ada dalam diri kita sendiri, dengan kata lain melakukannya terlebih dahulu sebelum menyuruh orang lain untuk melakukannya.

Masing-masing diri kita adalah pemimpin. Seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memberikan keteladan baik kepada khalayak yang dipimpinya. Oleh karena itu, layak kita renungkan nasihat filosofis dari Cicero, seorang filosof, ketika ia berjalan-jalan di pasar ikan Macellum, Romawi. ‘Tuan-tuan  semua, ingatlah! Ikan itu membusuk dari kepala ke ekor.” (Robert Haris, 2007:73, dalam karyanya “Imperium”). 

Mari kita merenung, seraya tak perlu menyalahkan siapapun. Jika kondisi lingkungan kita pada saat ini jelek, kondisi sosial, budaya, politik, ekonomi, dan berbagai lini kehidupan lainnya jelek, jangan-jangan kita sudah benar-benar hidup di tengah-tengah masyarakat yang miskin keteladanan, seraya diri kita sendiri malah senang berbuat onar, bersikap nanar, dan kikir memberikan teladan yang baik kepada keluarga, anak-anak, dan khalayak.

 

Penulis, Pemerhari dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut. 

Komentar

Loading...