Memaknai Musibah

Memaknai Musibah
Ilustrasi. .ummi-online.com

BERBAGAI cara dilakukan para nelayan Jepang agar ikan yang mereka tangkap di tengah samudra bisa bertahan hidup sampai ke daratan. Hal itu dilakukan setelah para konsumen komplain akan kualitas ikan tangkapan mereka yang mati dan tak segar lagi.

Ikhtiar awal yang mereka lakukan adalah membawa freezer dalam kapal mereka. Ikan yang mereka tangkap langsung dimasukkan ke dalam freezer atau bongkahan es balok. Sampai ke daratan, meskipun ikan-ikan tersebut mati, tapi masih nampak segar. Namun demikian, para konsumen masih tetap komplain, karena meskipun nampak segar, rasa ikannya jadi berubah.

Setelah mendengar kembali keluhan konsumen, para nelayan melakukan upaya lain. Ketika pergi melaut, mereka membawa beberapa tong besar. Ikan-ikan yang ditangkap dimasukan hidup-hidup ke dalam tong tersebut. Setiap tong diisi penuh sampai ikan berjejal-jejal. Tujuannya agar ikan berdesak-desakan, tetap bergerak, dan diharapkan tetap hidup sampai merapat di daratan. Namun sayang, banyak ikan yang lemas, dan mati ketika sampai di daratan. Ikan yang hidup pun tak bisa bertahan lama, akhirnya mati. Usaha yang kedua ini pun masih tetap belum memuaskan dan memenuhi keinginan para konsumen.

Akhirnya, para nelayan mencoba cara yang agak ekstrim. Ketika melaut mereka tetap membawa beberapa tong besar. Di tengah lautan tong-tong tersebut diisi air.  Beberapa orang nelayan ditugaskan mencari ikan hiu kecil. Setelah mendapatkan, masing-masing tong diisi ikan hiu kecil.

Beberapa saat kemudian, para nelayan mengangkat jaring. Kemudian ikan-ikan tangkapan yang masih hidup tersebut dimasukkan ke dalam tong yang berisi ikan hiu kecil. Agar tidak berdesak-desakan, setiap tong hanya diisi sedikit ikan.

Dalam tong tersebut ikan terus bergerak karena dikejar-kejar sang hiu kecil. Beberapa ekor ikan menjadi santapannya, sementara ikan yang lainnya terus bergerak menghindari gigitan sang hiu kecil. Alhasil, ketika sampai ke daratan ikan-ikan di dalam tong masih banyak yang hidup. Ketika dikeluarkan, ikan-ikan tersebut tetap hidup dan nampak segar. Para konsumen  pun senang mendapatkan ikan hidup yang masih segar.

Kehidupan kita di dunia ini laksana para nelayan yang mencari ikan di tengah lautan. Tak selamanya mendapatkan air yang tenang dan semilir angin yang membuat diri terlena menikmatinya. Adakalanya ketika sedang menikmati air yang tenang dan semilir angin, tiba-tiba datang badai dan gelombang besar yang membuat kapal oleng, dan hampir tenggelam.

Demikian pula kehidupan kita. Tatkala  sedang menikmati kebahagiaan dan ketenangan hidup, tanpa diperhitungkan sebelumnya, tiba-tiba musibah yang menyakitkan menyapa. Menerpa, melenyapkan ketenangan dan kebahagiaan yang tengah kita peluk erat.

Tak sedikit orang yang kehilangan arah ketika musibah menimpa. Mereka menyesali, menyalahkan takdir, bahkan menyalahkan Allah. Tak sedikit pula yang berputus asa, sampai-sampai mereka memaksa nyawa agar segera lepas meninggalkan raga.

Ada beberapa hal yang harus kita lakukan dalam menghadapi musibah yang tiba-tiba menyapa. Pertama,  kita harus meyakini musibah yang menyapa kita merupakan ketentuan yang telah Allah tetapkan kepada diri kita.  “Allah mencatat takdir setiap makhluk 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (H. R. Muslim, Shahih Muslim, hadits nomor  2653)

Kedua, musibah merupakan ujian untuk meningkatkan derajat keimanan. Formulanya sederhana, semakin tinggi derajat keimanan seseorang, semakin berat pula ujiannya. Ibarat dalam dunia pendidikan, semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin tinggi pula ujian yang harus ditempuhnya. “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman’, dan mereka tidak diuji” (Q. S. Al-Ankabut : 2). 

Ketiga,  musibah itu terukur. Seperti telah disebutkan sebelumnya, kehidupan kita di dunia ini ibarat sedang menempuh pendidikan. Banyak liku-liku dan soal-soal ujian yang harus kita selesaikan. Kurikulum atau silabusnya telah Allah tetapkan bagi setiap hamba-Nya sesuai dengan tingkatan kelasnya.

Dalam dunia pendidikan, sesuatu hal yang jauh kemungkinan terjadinya,  seorang peserta didik Taman Kanak-Kanak (TK) dibebani  dengan soal ujian peserta didik SMA. Demikian pula ketika peserta didik dinyatakan lulus dari lembaga pendidikan setelah menempuh ujian,  kualitas lulusannya berbeda-beda tingkatannya. Kualitas lulusan  TK akan jauh berbeda dengan kualitas lulusan SMA.

Demikian pula dengan musibah yang menimpa kita, Allah telah mengukur kekuatan dan kemampuan para hamba-Nya. Mustahil Allah memberikan suatu musibah atau beban lainnya di luar batas kemampuan para hamba-Nya. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuan/kesanggupannya” (Q. S. Al-Baqarah : 286).

Keempat, musibah bagian kasih sayang Allah. Kita harus meyakini, kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya melebihi kasih sayang para orang tua kepada anak-anak-Nya. Ia Mahatahu akan segala kebutuhan hamba-hamba-Nya.

Allah memberi musibah kepada hamba-Nya sebagai bentuk kasih sayang agar hamba-Nya dapat bertahan hidup, mampu memecahkan masalah, dan yang paling utama mampu mendekatkan diri kepada-Nya. Orang yang sedang terkena musibah, biasanya ia akan selalu mendekatkan diri kepada-Nya melalui berbagai zikir dan ibadah lainnya, memohon agar dirinya segera dikeluarkan dari musibah atau masalah tengah dihadapinya.

Musibah itu ibarat hiu kecil seperti kisah pada awal tulisan, dan kita adalah ikan yang  dimasukkan ke dalam “tong kehidupan”. Ketika “hiu kecil” mengejar, kita dituntut untuk bersabar, bergerak,  dan terus bergerak.

“Hiu kecil” harus dijadikan cambuk untuk  meningkatkan kualitas diri. Pilihan ada pada diri kita, apakah kita akan menyerah dan mati karena gigitan “hiu kecil” atau kita terus bergerak dan menjadi hamba berkualitas ketika keluar dari “tong kehidupan” ini.

Yakinkanlah, ujian atau musibah yang menimpa kita, seberat apapun merupakan “hiu kecil” yang sengaja Allah berikan kepada kita, untuk membuktikan bahwa diri kita masih hidup. Seorang Filosof mengatakan, “Musibah atau ujian yang datang kepada kita merupakan salah satu tanda bahwa kita masih hidup.” Filosof lainnya, Aristoteles, mengatakan “jika seseorang hidup di dunia ini tanpa pernah mengalami ujian atau musibah, maka kualitas hidupnya layak dipertanyakan atau diragukan.”

 

Penulis, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Qurrata A’yun Samarang Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...