Memakmurkan Fase Akhir Ramadhan

Memakmurkan Fase Akhir Ramadhan
Ilustrasi.net

SEPULUH hari pertama dari bulan Ramadhan merupakan fase yang dipenuhi rahmat Allah. Fase kedua, dari tanggal 11-20 merupakan fase yang dipenuhi maghfirah Allah, dan fase ketiga dari tanggal 21 sampai akhir Ramadhan merupakan fase Allah menjauhkan hamba-hamba-Nya yang berpuasa dari siksa api neraka. 

Sebagian ulama menganggap hadits pembagian fase-fase Ramadhan tersebut sebagai hadits dhaif atau lemah. Namun demikian, hadits tersebut, maknanya tidak bertentangan dengan hadits lainnya yang menerangkan keutamaan bulan Ramadhan. Bulan suci ini merupakan bulan yang diliputi rahmat Allah. Ampunan Allah akan dicurahkan kepada orang-orang yang ikhlas dalam melaksanakan ibadah dalam bulan suci Ramadhan. Puncak dari rahmat Allah tersebut  adalah menjauhkan hamba-hamba-Nya dari siksaan api neraka. 

Jika boleh diilustrasikan, fase pertama dari bulan Ramadhan laksana babak penyisihan dari suatu perlombaan. Pada babak ini, semua peserta memiliki semangat yang tinggi untuk mengikuti perlombaan. Semarak perlombaan pun terasa begitu hebat.

Seleksi perlombaan pun berlangsung. Setelah perlombaan berlangsung sekian lama, jumlah peserta yang mengikuti perlombaan tersebut, satu per satu mulai berkurang.   Dalam babak penyisihan ini, terdapat peserta yang dapat melanjutkan perlombaan, ada pula yang  terekstradisi, keluar dari perlombaan. Ia tak mampu memasuki fase berikutnya. 

Seperti itulah kondisi Ramadhan kita pada umumnya. Pada awal-awal bulan Ramadhan, semarak menyambut dan beribadah pada bulan suci ini begitu semarak. Namun, setelah bulan Ramadhan berjalan, terdapat orang-orang yang menyisihkan diri dari “arena ibadah”  pada bulan suci ini. Semangatnya mulai menurun, rakaat shalat tarawih dan jumlah halaman tadarus al Qur’an  ikut menurun, bahkan ada orang yang berhenti total dari melaksanakan ibadah pada bulan suci ini.

Sebagian lagi, terdapat orang-orang yang mampu memasuki kepada fase kedua, tahap semi final. Mereka berupaya istikamah dalam melaksanakan ibadah,  dan sangat berharap ibadah yang mereka lakukan menjadi jalan meraih ampunan Allah. Pada fase ini, jumlah orang yang dapat istikamah beribadah pada bulan suci Ramadhan mulai berkurang.

Fase ketiga dari bulan Ramadhan layaknya babak final dari sebuah perlombaan. Hanya orang-orang terpilih saja yang bisa melanjutkan “perlombaan”. Fase ini merupakan ajang pembuktian orang-orang pilihan untuk meningkatkan ketaatannya kepada Allah. Disebut orang-orang pilihan, sebab tidak semua orang  mampu memaksimalkan ibadah pada fase ketiga dari bulan Ramadhan ini. Hanya sedikit sekali jumlah orang-orang yang mau memakmurkan malam-malam terakhiri dari bulan suci ini.

Bagi orang-orang yang benar-benar memahami akan keutamaan fase terakhir dari bulan Ramadhan pastis akan memaksimalkan diri beribadah pada malam-malam sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan. Tingkat paling minimal mereka akan memakmurkan malam-malam ganjil pada fase ketiga ini sebagaimana dianjurkan Rasulullah saw.  

Pada salah satu malam ganjil tersebut Allah akan menurunkan lailatul qadar, malam kemuliaan. Bagi mereka yang memakmurkan malam-malam ganjil tersebut, dan ibadahnya bertepatan dengan  turunnya lailatul qadar, orang tersebut berhak mendapat kemuliaan dari Allah, salah satunya adalah pahala ibadahnya  dinilai setara dengan ibadah seribu bulan  atau setara dengan ibadah selama 83 tahun lebih tanpa melakukan kemaksiatan.

Malam-malam ganjil inilah yang sering Rasulullah saw peringatkan kepada sahabat dan umatnya agar berupaya keras untuk tidak melewatkannya. Jika pada fase kesatu dan kedua ibadah kita biasa-biasa saja, maka pada fase ketiga ini, ibadah kita harus lebih ditingkatkan dari biasanya.  Memperbanyak shalat sunat, berzikir, dan bersedekah merupakan cara terbaik untuk membuka peluang mendapatkan keutamaan lailatul qadar.

Pada malam-malam ganjil, 23, 25, dan 27, Rasulullah saw melaksanakan shalat berjamaah bersama para sahabat, juga melaksanakan ibadah shalat sunat, dan memperbanyak berzikir. Khusus pada malam 27,  Rasulullah mengikutsertakan keluarga dan para istrinya untuk beribadah di masjid.

Imam Thabrani meriwayatkan sebuah hadits dari Ali bin Abi Thalib, bahwa Nabi saw membangunkan keluarganya pada sepuluh  malam terakhir bulan Ramadhan untuk beribadah, diantaranya melaksanakan shalat sunat.

Sufyan ats-Tsauri berkata, “Yang paling aku sukai, apabila telah masuk sepuluh malam yang terakhir dari bulan Ramadhan ialah bertahajjud dan bersungguh-sungguh di dalamnya.” Ia juga membangunkan istri dan anak-anaknya untuk mengerjakan ibadah shalat sunat, jika mereka mampu melakukannya.

Jika melihat kalender, hari ini Selasa  (4/5/2021)  beretepatan dengan tanggal 22 Ramadhan 1442 H, dan Rabu malam nanti bertepatan dengan tanggal 23 Ramadhan 1442 H.  Sesuai dengan yang dicontohkan  Rasulullah saw, selayaknya kita mulai memakmurkan malam-malam Ramadhan sampai berakhirnya bulan Ramadhan. Jika kita tidak mampu memakmurkan keseluruhan malam-malam tersebut, setidaknya kita dapat memakmurkan malam-malam yang bertepatan dengan tanggal 23, 25, 27, dan 29 Ramadhan sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw.

Ketika berbuka puasa nanti, selayaknya kita mengurangi porsi makanan agar perut kita tidak terlalu kenyang, sehingga kita mampu melaksanakan ibadah, baik shalat Isya berjama’ah, shalat tarawih, dan ibadah lainnya, tanpa rasa ngantuk atau kelelahan karena terlalu banyak makan. Alangkah lebih baiknya jika kita juga mempersiapkan diri sejak siang hari agar mampu mulai melaksanakan i’tikaf nanti malam.

Qailullah, tidur siang hari yang diniatkan agar mampu melaksanakan shalat tahajud atau i’tikaf di malam hari, insya Allah akan menjadi tidur yang berpahala. Untuk itu, mulai hari ini, sudah selayaknya apabila kita mempersiapkan segala sesuatunya semampu kita untuk lebih meningkatkan ibadah pada malam-malam terakhir dari bulan Ramadhan.

Semoga Ramadhan tahun ini merupakan Ramadhan terbaik bagi kita, ibadah kita maqbul, diterima Allah seraya meraih keutamaan lailatul qadar. 

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kp. Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat. 

Komentar

Loading...