Memahami Fikih Pandemi

Memahami Fikih Pandemi
Ilustrasi.Unsplash/Adam Niescioruk

SEDERHANANYA,  Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara khusus menggunakan istilah pandemi untuk merujuk kepada penyakit baru yang kebanyakan orang tidak miliki kekebalan terhadap penyakit tersebut dan telah menyebar ke seluruh dunia. Dengan demikian, Covid-19 disebut pandemi karena hampir semua  orang tidak kebal terhadap penyakit ini, dan penyakit ini telah menyebar ke seluruh dunia.

Terlepas dari berbagai tuduhan konspirasi dan berbagai tudahan lainnya, pandemi ini secara nyata telah mengancam keselamatan hidup manusia di seluruh dunia. Jutaan korban di seluruh dunia  telah berjatuhan. Sampai  2 Desember 2020 ini di negara kita, orang terkonfirmasi Covid-19 berjumlah  543. 975 orang, kasus aktif sejumlah 72. 015 orang, sembuh sebanyak  454. 879 orang,  dan meninggal sebanyak 17,081 orang (https://covid19.go.id, akses tanggal 2 Desember 2020, Jam 05:17 WIB).

Sedangkan di dunia kasus Covid-19 sebanyak 64.112.156  orang ,  Meninggal sebanyak 1.484.641 orang, dan sembuh sejumlah 44. 322. 183 orang  (https://www.worldometers.info, akses 2 Desember 2020, Jam 05:25 WIB). Selain itu, pandemi ini telah pula mempengaruhi berbagai aspek kehidupan.
 
Sampai saat ini, sambil menunggu ditemukannya vaksin dan obat yang dapat menangkal atau mengobati penyakit ini, hanya ada satu cara terbaik yang dapat kita lakukan yakni  mencegah agar tidak terpapar penyakit ini. Semua orang harus memahami pandemi ini, tingkat paling minimal mengetahui cara menghindarkan diri agar tidak terpapar penyakit ini. Dengan istilah lain, kita harus memahami “fikih pandemi”.

Terdapat  beberapa istilah yang harus dipahami dalam menghadapi pandemi dari sudut pandang Islam. Pertama, karantina, isolasi, lockdown. Sejak merebaknya Covid-19,  kata karantina, isolasi, lockdown menjadi kata yang populer di masyarakat. Tujuan dari lockdown ini adalah untuk mencegah mobilitas orang yang masuk atau keluar dari suatu daerah/wilayah, sehingga  pandemi suatu penyakit tidak cepat menular ke wilayah lainnya.

Secara tersirat, Rasulullah saw sudah meletakkan dasar-dasar lockdown apabila suatu wabah penyakit menyerang suatu wilayah. Wabah yang sudah ada pada masa Rasulullah saw diantaranya, kusta, dan diare (sakit perut).  Praktiknya mendekati kebijakan lockdown seperti saat ini.

Jika di suatu kampung terjadi serangan suatu wabah penyakit, penduduk dan siapapun yang tinggal di  kampung tersebut dilarang keluar dari kampung tersebut. Sementara itu,  orang dari luar  kampung tersebut dilarang masuk.

“Jika kalian mendengar wabah penyakit tha‘un tersebar  di suatu tempat,  maka janganlah kalian mendatangi tempat tersebut. Jika penyakit tersebut mewabah di suatu tempat, sementara kalian berada di situ maka janganlah kalian keluar dari kampung tersebut karena lari dari wabah tersebut” (H. R. Bukhari).

Imam Nawawi memberi syarah/penjelasan terhadap hadits tersebut dalam Syarah Shahih Muslim Juz XIV : 205-207,  “Hadits-hadits ini menunjukkan larangan berkunjung ke daerah yang terkena wabah dan larangan keluar dari tempat yang terkena wabah. Adapun keluar  karena ada keperluan (misalnya berbelanja, berobat, atau keperluan lainnya yang bersifat mendesak), maka tidaklah mengapa.”

Ibnu Hajar al ‘Asqalani dalam salah satu karya tulisnya Badl al Ma‘un fi Fadl al Tha‘un (halaman 230) menuliskan sebuah kisah tentang upaya lockdown yang dilakukan Khalifah Umar bin Khattab r.a.  Suatu ketika, ia  akan  melakukan kunjungan ke  kota Syam. Sebelum keberangkatannya, tersiar kabar di kota  tersebut sedang terserang wabah suatu penyakit.

Peristiwa itu terjadi antara bulan Muharram dan Shafar. Setelah bermusyawarah dengan para tokoh masyarakat dan pemuka agama, ia membatalkan kunjungannya sebagai langkah antisipasi terpapar wabah tersebut, baik ketika di kota Syam, maupun menjadi media pembawa penyakit ketika kembali ke kota tempat tinggal khalifah.

Kedua, menjaga jarak, tidak berkerumun,  social distancing. Upaya ini merupakan bagian dari pencegahan semakin terpaparnya suatu penyakit. Prinsip-prinsip dasar dari menjaga jarak ini telah diterapkan para sahabat Rasulullah saw.  Mereka meyakini, salah satu cara terpaparnya suatu penyakit  adalah ketika seseorang yang sehat berkumpul dengan orang yang menderita suatu penyakit menular.

Ketika terjadi wabah cacar di Syam yang menelan korban sekitar 25.000 - 30.000 orang meninggal, termasuk dua  gubernur sebelumnya yakni  Abu Ubaidah bin Al Jarrah dan Mu’adz bin Jabal yang juga sahabat  Rasulullah saw meninggal terpapar wabah tersebut.  Amr bin ‘Ash yang menjadi gubernur menggantikan mereka berdua  memerintahkan kaum muslimin agar berpencar dan pergi untuk tinggal sementara di gunung-gunung, saling menjauh, menjaga jarak  satu sama lainnya.

Ia berkata,  “Wahai manusia, sesungguhnya wabah ini terjadi seperti api yang menyala  (penyakit ini akan semakin dahsyat jika bahan bakarnya berkumpul, berkerumun), hendaknya kalian menyebar tinggal di gunung-gunung”  (Musnad Ahmad  Juz III hadits nomor 1697).

Orang-orang yang berkumpul,  bercampur  antara yang sehat dan yang sakit, dapat menjadi pemicu semakin tersebarnya suatu wabah. Amr ibnu al ‘Ash memerintahkan kepada semua orang yang ada di kota Syam agar saling menjauh, menjaga jarak satu sama lainnya. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa pada saat ini, perintah Amr ibnu al ‘Ash ini disebut  social distancing alias menjaga jarak atau tidak berkerumun.

Ketiga, tidak bersentuhan atau berjabat tangan.  Apabila  ada orang yang masuk Islam, kebiasaan Rasulullah  saw menuntun membaca dua kalimah syahadat sambil bersalaman dengan orang tersebut.

Suatu ketika datanglah sekelompok orang utusan dari Bani Tsaqif.  Mereka akan berikrar masuk Islam. Sebelum kedatangan mereka, Rasulullah saw telah mendapat kabar, di kota  asalnya mereka sedang terpapar penyakit lepra.

Setelah mereka datang, Rasulullah saw keluar dari kebiasaannya. Ia hanya mengirim utusan sahabat menemui mereka untuk menuntun membaca dua kalimah syahadat, dan menyampaikan pesan bahwa mereka telah dibai’at dan menjadi muslim meskipun tanpa bersalaman. 

“Dahulu ada utusan dari Bani Tsaqif  yang  terpapar  penyakit kusta. Nabi Saw mengirim pesan melalui seorang  sahabat, “Sungguh kami telah membaiat Anda, maka pulanglah” (H. R. Muslim, Shahih Muslim Kitabu al Salam, Bab Ijtinab al Majdum wa Nahwihi, hadits nomor 2231).

Shafiyyu  Rahman al Mubarakfury dalam karyanya Minat al Mun’im fi Syarhi Shahih Muslim, Juz  III : 126, mengatakan, apa yang dilakukan Rasulullah saw merupakan  upaya untuk memutus rantai penyebaran penyakit,  menghindari berpindahnya penyakit antar orang melalui sentuhan anggota badan (bersalaman).

Keempat, disiplin dan mengikuti saran para ahli kesehatan. Disiplin menjaga kebersihan, mengikuti saran dari pihak berwenang, dan para ahli kesehatan akan  sangat membantu mencegah terpaparnya suatu wabah penyakit.

Berkenaan dengan kedisiplinan mengikuti saran dan petunjuk dari para pakar kesehatan, Asy Syahrastani dalam karyanya Al Milal wa Nihal Juz III (hal.  432) mengutip pendapat Abqarat alias Hippocrates seorang peletak dasar ilmu kedokteran Yunani.

Suatu ketika, Abqarat alias Hippocrates mendatangi orang sakit. “Aku, kamu, dan penyakit adalah tiga pihak. Jika engkau membantuku untuk melawannya dengan menerima apa yang aku lakukan, niscaya kita akan menjadi satu, sementara penyakit berada di pihak lawan, sehingga kita lebih kuat untuk mengalahkannya. Apabila dua pihak bergabung menjadi satu untuk melawan satu pihak, niscaya kita akan dapat mengalahkannya.”

Menjaga kemaslahatan, termasuk di dalamnya mencegah tersebarnya suatu  penyakit merupakan bagian dari pelaksanaan  ajaran Islam. Mengedepankan kemaslahatan umat yang dapat menjaga citra,  wibawa, dan kemuliaan  Islam harus didahulukan di atas kepentingan apapun.

Semoga Allah segera mengangkat pandemi Covid-19 ini agar kita bisa merasakan kembali nikmatnya keamanan dan kenyamanan dalam beribadah dan melakukan aktivitas keseharian kita.

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...