Melestarikan Endemis Kebaikan Ramadhan

Melestarikan Endemis Kebaikan Ramadhan
ilustrasi.islamic.art

“MEMANGNYA ada? Ini kan bukan bulan Ramadhan?” Demikian, jawaban seorang penjaga toko ketika seorang ibu menanyakan sebuah produk sari kurma. Kemudian, seorang konsumen lainnya menjelaskan,  “Ada,kok. Kini, sarikurma ada sepanjang tahun, bukan hanya pada bulan Ramadhan saja. Kurmanya asli dipanen di Arab, dan diolah di Indonesia.”

Dialog tersebut terjadi dalam sebuah iklan produk sarikurma dan madu terkenal yang sering diputar hampir di semua siaran televisi. Jawaban penjaga toko yang menganggap kurma ciri khas, hanya ada pada bulan Ramadhan merupakan gambaran endemis Ramadhan. 

Contoh lainnya, burung cenderawasih merupakan burung endemis tanah Papua, karena burung tersebut tidak ada di tempat lainnya. Dengan kata lain, endemis merupakan sesuatu yang secara tetap terdapat di tempat-tempat atau di kalangan orang-orang tertentu dan terbatas pada tempat atau mereka saja (Kamus Besar Bahasa Indonesia/KBBI, 2005 : 301).

Dalam bulan Ramadhan terdapat beberapa “endemis kebaikan” yang tidak terdapat dalam bulan-bulan lainnya. Pahala ibadah yang hukumnya sunat setara dengan pahala ibadah yang hukumnya wajib hanya ada pada bulan Ramadhan. Pahala ibadah umrah setara dengan pahala ibadah haji, hanya berlaku bagi orang-orang yang melaksanakan umrah pada bulan Ramadhan.

Demikian pula, lailatul qadar yang pahalanya setara dengan ibadah seribu bulan merupakan endemis kebaikan Ramadhan, karena keutamaannya hanya ada pada bulan Ramadhan, tak ada pada bulan-bulan lainnya. Salat tarawih juga merupakan endemis kebaikan Ramadhan, sebab salat yang harus dilaksanakan dengan tidak tergesa-gesa ini, wajib dilaksanakan dengan penuh ketenangan,  hanya ada pada bulan Ramadhan saja.

Namun demikian, tentu saja segala endemis kebaikan yang ada pada bulan Ramadhan ini merupakan latihan agar kita terbiasa melaksanakan berbagai kebaikan di luar bulan Ramadhan. Seperti halnya komentar seorang konsumen dalam dialog iklan yang dikutip pada awal tulisan ini, “kini,  kurma bisa dinikmati sepanjang masa, bukan hanya pada bulan Ramadhan saja.”

Analoginya, kebaikan yang telah kita “panen” selama bulan Ramadhan, kita telah memperoleh kenikmatan,  dan mudah-mudahan mendapatkan pahalanya, sejatinya kebaikannya tersebut tidak terhenti pada bulan Ramadhan saja, tapi harus ada sepanjang tahun. Berbagai endemis kebaikan Ramadhan ini harus kita lestarikan sepanjang masa agar ciri khasnya tetap melekat pada diri dan lingkungan kehidupan kita.

Siapapun  orangnya telah merasakan kenikmatan, kedamaian, dan kesejukan selama bulan Ramadhan. Kesalehan, kedermawanan, saling mengingatkan, menjaga akhlak baik, saling menghargai terdapat pada bulan nan suci ini. Berbagai tayangan di media massa, baik cetak maupun elektronik  penuh dengan ajakan kepada kebaikan, dan seruan moral untuk saling menghargai dan berbagi. Secara umum, toleransi antar pemeluk agama pun meningkat pada bulan nan suci ini. Pemeluk agama lain, pada umumnya menghormati umat Islam yang tengah melaksanakan ibadah puasa.

Suatu kenikmatan yang sulit digambarkan dengan kata-kata jika berbagai endemis kebaikan selama Ramadhan tersebut tetap nyata berada dalam lingkungan kehidupan kita sepanjang masa, tetap melekat pada setiap individu. Jika kondisinya demikian, sudah dapat dipastikan kehidupan kita akan penuh kedamaian, ketentraman, toleran, empati, dan saling membantu satu sama lainnya.

Bukan perjuangan yang ringan untuk mempertahankan berbagai endemis kebaikan selama Ramadhan di luar bulan Ramadhan. Kondisi lingkungan sosial kehidupan kita biasanya berubah total selepas Ramadhan. Jangankan mingguan atau bulanan selepas Ramadhan, menjelang datangnya perayaan Idul Fitri saja, perilaku kebanyakan orang sudah mulai berubah. Kesederhanaan berubah menjadi kemewahan, kedermawanan berubah menjadi kemaruk. Sikap empati beganti dengan sikap egois.   

Melaksanakan ibadah pada bulan Ramadhan itu terasa berat, namun lebih berat lagi melestarikan kebiasan ibadah dan  melestarikan endemis kebaikan Ramadhan di luar bulan Ramadhan. Padahal salah satu ciri kesuksesan pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan kita adalah manakala ibadah-ibadah dan akhlak baik kita meningkat lebih baik usai keluar dari bulan Ramadhan 

Istikamah, merupakan sikap yang harus kita perjuangkan agar dapat kita miliki dan melekat pada setiap amal ibadah kita, termasuk pada pelaksanaan ibadah selama dan pasca Ramadhan. Sikap istikamah inilah yang akan mendatangkan kecintaan Allah kepada kita. Malahan Rasulullah saw mencintai amal baik yang sedikit jumlahnya namun dilakukan secara istikamah. 

Merujuk kepada al-Qur’an, istikamah yang merupakan derivasi dari kata “istaqama” disebutkan sebanyak empat kali, yakni dalam surat At-Taubah : 7; Fussilat : 30; Al-Ahqaf : 13; dan Al-Jinn : 16. Dari keempat surat tersebut istikamah memiliki arti jujur; teguh pendirian; dan tetap berjalan lurus. Jika kita dituntut bersikap istikamah selama dan pasca Ramadhan, maknanya kita harus tetap jujur berada di jalan lurus (kebenaran), seraya teguh pendirian atas segala kebenaran pahala yang dijanjikan Allah.

Muhammad Husain Ya’qub dalam karyanya “Asrar al-Muhibbin” mengatakan, “Orang yang paling jelek adalah orang yang menjadi “hamba Ramadhan”. Ia yakin kepada Allah hanya pada bulan Ramadhan saja. Mereka rajin beribadah pada bulan suci tersebut karena keyakinannya pada bulan tersebut Allah sangat dekat dengan hamba-hamba-Nya. Namun, setelah Ramadhan usai, ibadah dan keyakinannya kepada Allah ikut usai juga. Ia tidak lagi rajin beribadah kepada-Nya.”

Kita harus memohon kepada Allah agar diberi kekuatan untuk bersikap istikamah, dan berharap menjadi orang yang  mampu melestarikan endemis kebaikan Ramadhan selama dan sesudah bulan suci Ramadhan,  dan benar-benar menjadi hamba Allah, bukan hamba Ramadhan. 

 

Penulis, Praktisi dan Pemerhati Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kp. Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.  

Komentar

Loading...