Breaking News

Melayari Bahtera Puisi Perempuan Bahari

Melayari Bahtera Puisi Perempuan Bahari
Antologi puisi Perempuan Bahari segera akan terbit.

Oleh: Nana Ernawati

SEBUAH draf buku dengan judul Perempuan Bahari saya terima ketika keadaan negara dalam siaga menghadapi pandemi. Masyarakat dilarang bepergian, berkumpul apalagi bertamasya. Sesuatu yang tidak mungkin kita lakukan dalam situasi seperti sekarang. Kehadiran draf buku kumpulan puisi Perempuan Bahari tentu saja membuat hati saya senang, karena dengan buku ini, saya segera membayangkan melakukan pelayaran, mengitari laut Indonesia, mengunjungi pulau-pulau yang indah dan cantik lewat puisi-puisi yang ditulis oleb penyair-penyair perempuan.

Saya membayangkan tentang bagaimana kehidupan perempuan pesisir yang setiap hari bergelut dengan kehidupan laut. Orang-orang yang tidur berbanjar di atas hamparan pasir, keunikan perempuan pesisir yang ikut serta membongkar muatan ikan ketika suaminya pulang melaut. Atau gambaran perempuan pesisir yang setiap hari dalam kerasnya kehidupan masih harus mencari nafkah, tidak hanya menunggu suaminya pulang melaut. Atau juga gambaran perempuan pesisir yang mengolah hasil laut.

Halaman demi halaman draf buku Perempuan Bahari saya buka perlahan-lahan. Sebuah bayangan pasar apung di sepanjang sungai Musi Banjar Baru menyergap pikiran saya, dan diam-diam pun saya berharap segera menjumpainya dalam puisi yang dikuratori dan diedit oleh Nia Samsihono, Endang  Werdiningsih, dan Ariany  Isnamurti. Saya tidak tahu pasti, impian bersua perempuan-perempuan pesisir berikut tentang bahari tidak kunjung saya jumpai.

Beruntung, ketika pelayaran saya tiba di Pekanbaru saya bersua Kunni  Masrohanti. Melalui "aku" lirik, dalam puisi "Menimbang Laut", Kunni memperlihat pergulatan "aku" yang sepenuh hati mencintai dan akan terus merawat apa yang "aku" miliki sekalipun, "....segala  aduh// katamu  diam-diam// tundukku  paling  pelan// menghunjam  ke  dalam  paling  liang// aku  telah  menjadi  laut,"

Dari Pekanbaru, saya layari lautan Indonesia Timur, Nusa Tenggara Timur. Di sana, saya bersua penyair Mezra  E.  Pellondou, melalui puisinya, "Perempuan-Perempuan Laut Mati". Selanjutnya pelayaran saya lanjutkan ke Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Teluk Jakarta. Di Jakarta, saya berharap melihat masyarakat pulau seribu, juga reklamasi. Tapi, entah kenapa, sampai lembaran terakhir saya tak menjumpai apa yang saya bayangkan.

***

Dalam bentangan samudera perpuisian Indonesia tema-tema tentang kemaritiman memang nyaris tidak terdengar suaranya. Indonesia sebagai negara maritim tentu menarik dieksplor lebih jauh ke dalam karya sastra, puisi khususnya.

Kehadiran Perempuan Bahari adalah bukti betapa unik dan menariknya Indonesia, alangkah kaya literatur sastra Indonesia jika saja pada hari-hari berikutnya Perempuan Bahari berkelanjutan tidak sekadar selesai dalam penerbitan dan peluncuran dalam acara-acara seremonial. Akan tetapi, lebih jauh dari hal-hal gerakan seremonial semata. Tapi juga mampu mengadakan gerakan-gerakan edukatif sehingga literatur kemaritiman bisa diserap dan dinikmati bersama sebagaimana kita kerap menikmati laut Indonesia.

Selanjutnya, mari kita lanjutkan pelayaran, mengarungi bahtera bahari puisi perempuan Indonesia lewat puisi Nia Samsihono, "Akulah Laut". Lewat puisi "Akulah Laut" , Nia seolah pengejawantahan dari bagaimana seorang perempuan dipandang oleh laki-laki. Demikian juga dalam puisi Linda Djalil, "Amarah Seorang Ipar". Puisi Linda Djalil berkisah tentang keberhasilan, kemenangan, dan keunggulan wanita saat  mereka diinjak harga dirinya.

Sekali lagi, meskipun gambaran tentang pesisir dan dunia laut masih sangat samar di dalam antologi puisi Perempuan Bahari ini, tetapi masih ada  puisi-puisi yang bicara tentang lanskap perjalanan manusia, tentang perempuan-perempuan yang tersisihkan dan dinomorduakan. Ada pula yang mengisahkan kehidupan pesisir meski sebatas pada sudut pandang bagaimana perempuan berbicara lebih terbuka dan berperilaku lebih jujur.

Terlepas dari sisi kekurangan dan kelebihan draf buku Perempuan Bahari, Tentu kita berharap, kedepan tema perempuan  bahari muncul tidak hanya sebagai judulnya saja, tetapi benar-benar bisa mengupas tentang perempuan bahari.

Selamat untuk ibu Nia Samsihono dan kawan-kawan penyair yang puisi-puisinya termuat dalam buku Perempuan Bahari ini.

Jakarta ,  Juni 2020

Nana Ernawati,  penyair dan ketua lembaga seni & sastra Reboeng, sebuah lembaga yang bergerak di bidang sastra dan literasi anak. Selain dikenal sebagai penyair, Nana Ernawati juga menulis cerpen. Penulis yang banyak membidangi kegiatan-kegiatan kesenian dan kebudayaan ini juga senang melakukan perjalanan. Saat ini penulis kelahiran Yogyakarta ini tinggal di Jakarta.

Iklan Duka Cita Ibunda Bupati Nagan Raya

Komentar

Loading...