Masyarakat Jangan Terpengaruh Simbol & Tontonan Dagelan

Masyarakat Jangan Terpengaruh Simbol & Tontonan Dagelan
Ilustrasi.net

INDONESIA yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 merupakan konsensus nasional. Artinya NKRI tidak akan dijual dengan harga berapa pun, tentu menjadi komitmen bersama oleh semua komponen bangsa. Indonesia adalah rumah kita bersama, harus dijaga, dirawat, agar nyaman dan tentram sebagai tempat tinggal keluarga besar bangsa kita. MKF-MNI mengajak kepada semua elemen masyarakat baik aparatur Pemerintah maupun TNI-Polri untuk selalu komitmen pada prinsip yaitu menyangkut tentang kedaulatan rakyat, bentuk, dasar dan tujuan bernegara, yang bersumber dari teks proklamasi 17 Agustus 1945 dan pembukaan UUD 1945.

Namun, semua praktek penyelenggaraan negara yang bertentangan dengan kedua dokumen historis tersebut merupakan bentuk pengkhianatan yang wajib dihindari oleh segenap komponen bangsa. Jika bentuk penyelewengan tersebut dibiarkan berlalu begitu saja, maka Indonesia akan kehilangan arah dan jatidirinya sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat.

Kita sangat menyadari, bahwa bangsa ini masih menghadapi jalan panjang dan berliku untuk mencapai keadilan, kemakmuran dan sampai kepada level kesejahteraan. Karena itu dibutuhkan kehadiran pemerintahan negara kepada rakyat bukan sekedar memenuhi “Standar Pelayanan Minimal”. Namun, wajib mentargetkan “Standar Pelayanan Maksimal” dan Smart Planning, hal ini perwujudan salah satu visi misi Jokowi-Ma’ruf yaitu pembangunan sumber daya manusia (SDM) kunci untuk Indonesia agar menjadi lebih maju. Dan ini harus pula dibarengi dengan reformasi tata kelola sumber daya alam dan sumber daya manusia yang berpihak kepada rakyat bukan kepada konglemerat dan pejabat.

Menyahuti hal demikian pemerintah secara bertahap sedang melakukan reformasi penyelenggaraan negara dalam berbagai aspek, momentum ini dimanfaatkan oleh sekelompok masyarakat untuk melakukan perlawanan, menghasut terhadap pemerintahan dengan tanpa mempertimbangkan rusaknya tatanan sosial masyarakat, namun hanya mengutamakan popularitas “kepentingan” kelompoknya saja. Dalam suasana demikian kita berharap masyarakat jangan mudah terpengaruh dan mudah terprovokasi serta tersulut emosi seolah-olah apa yang mereka lakukan itulah yang benar karena hanya melihat “simbol dan bendera” yang dikibarkan, tapi harus jeli dan teliti tentang esensi dan eksistensi yang disampaikan juga yang dipertontonkan.

Dalam Islam, mencari kebenaran atau meluruskan suatu hal disebut dengan tabayyun dan/atau telitilah. QS. Al-Hujurat ayat 6 dijelaskan : "jika ada seorang faasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian". Tabayyun merupakan salah satu perilaku dan tradisi umat islam yang dapat dijadikan solusi untuk memecahkan, menyelesaikan masalah yang terjadi dalam masyarakat, mengklarifikasi serta menganalisis masalah dengan harapan mendapatkan hasil yang lebih bijak, arif dan lebih tepat sesuai keadaan masyarakat sekitarnya.

Di era digital atau era revolusi industri 4.0 sekarang ini media sosial dapat diakses dengan mudah serta informasi yang datang dari segala sumber, baik terpercaya atau tidak sangatlah memerlukan tabayyun karena dampak era revolusi industri 4.0 ini tentu sangat besar bagi dunia industri juga perilaku di masyarakat. Kita selaku anak bangsa yang memiliki akal sehat, seharusnya bisa memfilter serta menelaah informasi atau sebuah permasalahan yang terjadi.

Melakukan tabayyun, bukan saja terhadap kebenaran sebuah informasi, tetapi juga kesiapan orang yang akan menerima informasi tersebut. Bagi orang-orang yang keilmuannya belum mapan, sesuatu yang sederhana justru dapat menjadi awal dari bencana.

Sayyidina Ali berkata, “Andai orang yang tak berilmu mau diam sejenak, niscaya gugur perselisihan yang banyak.” Sementara Untuk informasi yang baik pun, Rasul memberi teladan agar tetap berhati-hati untuk menyebarkannya, konon lagi untuk informasi yang belum tentu kebenarannya. “Janganlah kamu menceritakan sesuatu kepada suatu kaum sedang akal mereka tidak mampu menerimanya. Karena cerita tersebut (justru dapat) menimbulkan fitnah pada sebagian dari mereka.” (HR. Muslim). Menelaah suatu permasalahan sangat penting dilakukan agar tidak terjadi perpecahan dalam masyarakat dan hal itu sangat dibenci dalam islam.


Drs. Ridwan Hasan, Ketua Majelis Kehormatan Forum Masyarakat Nusantara Indonesia (MKF-MNI) Provinsi Aceh

Komentar

Loading...