Masih Ada Waktu: Single Terbaru Ebiet di Pandemi Corona

Masih Ada Waktu: Single Terbaru Ebiet di Pandemi Corona

CAKRADUNIA - Oleh: Muhammad Subarkah

Mengapa Ebiet tidak membuat sesuatu yang baru di tengah situasi ‘lockdown’ karena pandemi Corona ini? Pertanyaan ini diajukan lewat obrolan melalui telepon kepada manajer Ebiet G Ade, Sakti, semalam menjelang dini hari.

Atas pertanyaan itu Sakti yang juga sekaligus putra sulung Ebiet menjawab bila pihaknya lebih memilih berkonstrensasi menjaga kesehatan. Apalagi bapak sudah berusia di atas 60 tahun.’’Ibu dan bapak keduanya sudah sepuh. Jadi harus jaga diri dan kami juga harus menjaganya,’’ lanjut Abie.

‘’Ingat rumah kami berada di bilangan Ciganjur, Jakarta Selatan, termasuk zona merah. Kami harus semakin cermat dan hati-hari melihat keadaan. Apalagi kediaman kami berada di tepi ruas jalan besar,’’ ujarnya.

Namun untungnya, warga dilingkungannya melakukan pengamanan wilayah sendiri. Mereka melakukan ‘Lockdown secara pribadi. Dan penyemprotan disinfektan juga dilakukan secara rutin.

‘’Itu untungnya. Meski kami berusaha mengurangi menonton tayanan televisi karena terlalu banyak berita Corona yang malah membuat kami merasa khawatir. Apalagi ada juga yang membuat suasana  sedikit mencekam. Pengumuman dari pihak RT di lingkungan kami yang rutin akan melakukan berbagai pencegahan Corona, kadang juga membuat kami tertekan. Untuk itu kami pun harus pasang sikap batin yang makin ekstra waspada. Kami anggap ini sisi hikmah dan baiknya,’’ kata Sakti.

Meski begitu, lanjutnya, pada masa sulit akibat pandemi Corona ini ada satu singgle lagu baru yang sekarang ini dirilis. Bahkan lagu itu sudah bisa didengarkan di Youtube.

”Ternyata label Musica Studio meluncurkan lagu ‘Masih Ada Waktu yang dinyanyikan bertiga antara Ebiet G Ade, Adera, dan Segara (keduanya penyanyi sekligus putera Ebiet,red) sekarang. Padahal rencana awalnya singgle ini akan diluncurkan pada bulan Ramadhan nanti. Rupanya pihak Musica berubah pikiran. Mereka memilih meluncurkan lagu itu awal April ini di tengah suasana pandemi Corona di mana orang tengah membatasi diri beraktivitas dengan diam di rumah,’’ katanya.

Sembari berkata seperti itu Sakti kemudian mengirimkan rilis dari Musica soal peluncuran single terbaru Ebiet G Ade yang sebenarnya lagunya sudah di rekam seja Januari silam. Isinya  rilis itu sebagai berikut:

Ebiet G Ade, Adera, dan Segara Ajak Pendengar Untuk Introspeksi Diri Melalui Lagu

Salah satu lagu populer milik Ebiet G Ade yang berjudul “Masih Ada Waktu” saat ini pasti masih diingat oleh banyak orang. Dirilis pertama kali pada tahun 1988, lagu tersebut sukses mencuri hati para penikmat musik tanah air.

Kini Ebiet merilis kembali single tersebut dengan mengajak serta kedua putranya yaitu Adera dan juga Segara. Dalam lagu “Masih Ada Waktu” kali ini, Ebiet mempercayakan aransemen musiknya kepada Afif Gifano dan gitar dimainkan oleh Andre Dinuth.

Pesan dalam lirik yang kuat dipadukan dengan aransemen yang modern berhasil menghadirkan nuansa musik yang berbeda namun tetap mempertahankan ciri khas musik Ebiet ditambah dengan vokal yang berkarakter dari Adera dan Segara. Aransemen lagu tersebut pun juga seolah mengajak seluruh pendengarnya untuk bernostalgia sekaligus introspeksi diri.

 Lagu ini rencana nya akan dirilis di seluruh digital music platform dan juga youtube channel Musica Studios pada 3 April 2020.

****

Pada sisi lain, seperti sudah diketahui secara luas Ebeit G Ade adalah penyanyi balada yang melantunkan tembang bertema rakyat keseharian dan alam. Langkah alunmi SMA I Muhammadyah Yogyakarya di awali ketika menyanyikan sajak Emha Ainun Nadjib yang merupakan sahabat dan kakak kelasnya. Bahkan mereka pernah punya grup musik untuk menyanyi berduet dengan Emha. Kala itu grup ini sudah terkenal di Yogyakarta dan menyanyi dari kampus ke kampus.

Lagu pertama Ebiet bahkan merupakan lagu dari sajak Emha 'Ku Bakar Cintaku'.  Nyanyian lain yang kala itu ialah adalah lagu 'No Body' yang memakai syair penyanyi terkenal Amerika Serikat, Emile Dickinson. Lagu ini dinyanyikan bersama secara duet dengan Emha.

''Aku hanya kala iu hanya menemani Ebiet nyanyi saja,'' kata Emha merendah ketika bercerita soal duetnya dengan Ebiet dahulu. Ini dikatakan Emha pada peluncuran buku karibnya Eko Tunas (dulu ada sosok 4E di Jogja, yakni Emha, Eko Tunas (penyair di Tegal), Eha Kartanegara (jurnalis Republika) dan Ebiet G Ade, red).

Dan terkait soal lagu di kala bencana, ada satu lagu Ebiet yang mendapat sebutan lagu abadi (immortial song). Lagu ini adalah 'Berita Kepada Kawan' yang ditulisnya pada tahun 1979 di kala terjadi bencana alam berupa keluarnya gas beracun di kawah Sinila di Pegunungan Dieng, Jawa Tengah. Lagu ini malah oleh 'Majalah Rolling Stones Indonesia' di awal dekade pertama tahun 2000-an sempat ditetapkan sebagai salah lagu terbaik di Indonesia dalam kurun 100 tahun terakhir, atau pada kurun Indonesia moderen. Lagu ini berada pada peringkat lagu abadi kedua.

''Saya sama sekali tak menduga apa lagu berpikir bila lagu itu kemudian hari digemari dan dinobatkan sebagai salah satu lagu abadi. Sama sekali tak ada pikiran ke sana ketika membuatnya. Lagu ini ditulis ketika saya saya tinggal di Jogja.  Kala itu mendengar bencana Sinila melalui koran dan radio. Kebetulan bapak saya bertugas di dekat kawasan itu sebagai camat. Maka kemudian saya tulis lagu itu. Mengalir begitu saja,'' kata Ebiet dalam sebuah perbincangan ketika ditaya mengenai proses lahirnya lagu

'Berita Kepada Kawan'.

Pada sisi lain, seperti sudah diketahui secara luas Ebeit G Ade adalah penyanyi balada yang melantunkan tembang bertema rakyat keseharian dan alam. Langkah alunmi SMA I Muhammadyah Yogyakarya di awali ketika menyanyikan sajak Emha Ainun Nadjib yang merupakan sahabat dan kakak kelasnya. Bahkan mereka pernah punya grup musik untuk menyanyi berduet dengan Emha. Kala itu grup ini sudah terkenal di Yogyakarta dan menyanyi dari kampus ke kampus.

Lagu pertama Ebiet bahkan merupakan lagu dari sajak Emha 'Ku Bakar Cintaku'.  Nyanyian lain yang kala itu ialah adalah lagu 'No Body' yang memakai syair penyanyi terkenal Amerika Serikat, Emile Dickinson. Lagu ini dinyanyikan bersama secara duet dengan Emha.

''Aku hanya kala iu hanya menemani Ebiet nyanyi saja,'' kata Emha merendah ketika bercerita soal duetnya dengan Ebiet dahulu. Ini dikatakan Emha pada peluncuran buku karibnya Eko Tunas (dulu ada sosok 4E di Jogja, yakni Emha, Eko Tunas (penyair di Tegal), Eha Kartanegara (jurnalis Republika) dan Ebiet G Ade, red).

Dan terkait soal lagu di kala bencana, ada satu lagu Ebiet yang mendapat sebutan lagu abadi (immortial song). Lagu ini adalah 'Berita Kepada Kawan' yang ditulisnya pada tahun 1979 di kala terjadi bencana alam berupa keluarnya gas beracun di kawah Sinila di Pegunungan Dieng, Jawa Tengah. Lagu ini malah oleh 'Majalah Rolling Stones Indonesia' di awal dekade pertama tahun 2000-an sempat ditetapkan sebagai salah lagu terbaik di Indonesia dalam kurun 100 tahun terakhir, atau pada kurun Indonesia moderen. Lagu ini berada pada peringkat lagu abadi kedua.

''Saya sama sekali tak menduga apa lagu berpikir bila lagu itu kemudian hari digemari dan dinobatkan sebagai salah satu lagu abadi. Sama sekali tak ada pikiran ke sana ketika membuatnya. Lagu ini ditulis ketika saya saya tinggal di Jogja.  Kala itu mendengar bencana Sinila melalui koran dan radio. Kebetulan bapak saya bertugas di dekat kawasan itu sebagai camat. Maka kemudian saya tulis lagu itu. Mengalir begitu saja,'' kata Ebiet dalam sebuah perbincangan ketika ditaya mengenai proses lahirnya lagu 'Berita Kepada Kawan'.

Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika 

                                                                                                                                                                                           (sumber:republika.co.id)

Iklan Duka Cita Ibunda Bupati Nagan Raya

Komentar

Loading...