Manusia Viral

Manusia Viral
Ilustrasi. Instagram/pawel_kuczynski1

MESKIPUN tak mengetahui arti dan asal-usulnya, hampir semua netizen, apalagi aktivis media sosial, pasti mengenal kata viral. Sebuah kata yang sebenarnya merupakan gabungan dari kata virus dan virtual ini dimaksudkan untuk menyebarkan kegiatan yang dilakukan seseorang agar dapat dikenal di dunia maya secara cepat laksana virus yang memiliki kecepatan dalam penyebarannya.

Tak sedikit para pengguna internet dan aktivis media sosial yang bermimpi, kelak apa yang dilakukannya di media sosial menjadi perbuatan viral. Hasrat ingin terkenal dan populer terkadang menguasai perasaan para netizen.  Tak sedikit pula netizen yang menyewa biro jasa marketing online agar bisa memviralkan apa yang telah dilakukannya. Tak peduli dengan sejumlah uang yang harus dikeluarkan, yang penting bisa viral dan terkenal di jagat maya.

Sedikit berteori, benar apa yang dikatakan  Yasraf Amir Piliang (2011 : 253) dalam karyanya, Bayang-bayang Tuhan, Agama dan Imajinasi, “kecanggihan teknologi komunikasi telah mendorong nafsu untuk memenuhi hasrat liarnya. Hasrat selalu menggiring manusia kepada culture narcissim, manusia yang selalu mencari ketenaran, popularitas, dan publisitas. Apapun yang dimiliki orang-orang di abad millenium ini dibeli, dimiliki, kemudian digunakan untuk memperlihatkan status dan gaya hidup. Diciptakan kebutuhan hidup untuk memperlihatkan diri kepada orang lain melalui benda-benda. Menjadi populer, menjadi terkenal, dan menjadi selebritas merupakan impian manusia-manusia kontemporer pada saat ini.”

Sayangnya, banyak netizen yang memviralkan perbuatan jelek yang bertentangan dengan agama, norma, atau budaya. Namun, mereka merasa bangga, bahkan seolah-olah menjadi selebritas ketika perbuatan jeleknya menjadi viral di jagat maya.

Apabila kita kembali kepada sejarah Arab masa lampau, sebenarnya mereka sudah lebih dulu mengenal perbuatan viral untuk mempopulerkan diri seseorang. Perbuatan nyeleneh, mencari sensasi, melanggar norma dan budaya agar menjadi terkenal sering mereka lakukan.

Semua kalangan orang Arab menganggap sumur zam zam sebagai sumber mata air yang suci dan sakral. Siapapun tak boleh merendahkannya. Namun, ada sekelompok orang yang ingin terkenal, ia mencari sensasi, salah satunya dengan merendahkan keberadaan sumur zam zam. Mereka dengan sengaja buang air kecil di atas sumur zam-zam. Benar sekali sejak melakukan perbuatan tersebut,  mereka jadi terkenal, bukan karena perbuatan baiknya, tapi karena sensasinya melanggar norma yang dihormati masyarakat Arab pada waktu itu. Dari perbuatan mencari sensasi yang biasa mereka lakukan tersebut, lahirlah pribahasa Arab bul ‘ala zam zam fa tu’raf, “kencingilah sumur zam zam, nanti kamu akan menjadi orang terkenal.”

Tak menjadi masalah kita berupaya menjadi orang terkenal, karena hal tersebut sudah menjadi  bagian  dari  naluri manusia. Namun demikian, selayaknya kita tidak melakukan sesuatu perbuatan yang melanggar, norma hukum, budaya,  apalagi agama hanya demi  sebuah popularitas. Sebaliknya, popularitas, perbuatan viral yang kita tularkan harus benar-benar perbuatan yang memberikan motivasi kepada orang lain untuk berbuat kebaikan. Perbuatan viral yang kita lakukan tidak laksana virus di dunia virtual saja, tapi harus merupakan perbuatan “berviral” alias bervisi dan bermoral.” Sederhananya, bervisi berarti memiliki niat yang baik. Sedangkan bermoral berarti apa yang kita lakukan tidak bertentangan dengan norma, hukum, budaya baik, dan agama. Perbuatan yang kita lakukan harus bermanfaat bagi kehidupan seluruh manusia, tingkat paling minimal bermanfaat bagi diri sendiri. 

Perbuatan yang bervisi dan bermoral, sudah pasti merupakan perbuatan yang baik. Kaidah umumnya, siapapun yang melakukan perbuatan baik, suatu saat ia akan menuai hasil yang baik akibat dari perbuatannya. Dari sudut pandang agama, perbuatan baik yang ”berviral”  akan berpahala di sisi Allah.  Ia tak akan menyia-nyiakan pahala atau balasan yang lebih baik bagi siapapun yang berbuat suatu kebaikan.

”Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.” (Q. S. Ali Imron : 171).

Dalam ayat lainnya disebutkan, ”Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Al Kitab (Taurat) serta mendirikan shalat, (akan diberi pahala) karena sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan” (Q. S. Al-A’raf : 170).

Ayat-ayat senada juga disebutkan dalam Q.S. At-Taubah :120 ; Q. S. Hud : 115 ; Q. S. Yusuf : 56 dan 90 ; dan Q. S. Al-Kahfi : 30. Perbuatan yang ”berviral” akan abadi di hadapan manusia dan hadapan Allah. Apabila  perbuatan “berviral” ditiru orang lain, ia akan menjadi tabungan pahala kebaikan baik bagi orang yang ditiru maupun orang yang menirunya.

“Barangsiapa mengadakan sesuatu perbuatan  yang baik, maka baginya pahala perbuatan baik  tersebut dan pahala orang lain yang mengerjakannya hingga akhir kiamat. Dan barangsiapa mengerjakan sesuatu perbuatan yang buruk, maka atasnya dosa membuat perbuatan buruk tersebut  dan dosa orang yang mengerjakannya hingga akhir kiamat.” (H. R. Bukhari dan Muslim).

Sejatinya, apapun yang kita perbuat di dunia ini harus bernilai ibadah yang niatnya lillahi ta’ala. Adapun popularitas merupakan bonus yang Allah berikan karena niat baik kita. Sebaliknya jika hanya popularitas yang kita cari, masih mendingan jika popularitas di dunia ini tercapai, namun jika tidak, kita akan memperoleh kerugian di dunia dan akhirat.

Sangatlah bijak yang dikatakan, Bisyri Al-Hafi, salah seorang ulama sufi, “Tidaklah aku mengetahui  terhadap orang yang mencari popularitas (lewat agama), kecuali agamanya itu akan rusak, dan tidak akan merasakan manisnya akhirat bagi orang yang tujuannya hanya mencari popularitas di dunia.”[]

Penulis, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Qurrata A’yun Samarang Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...