Cerpen Covid-19 Fanny J Poyk

Cerpen Covid-19 Fanny J Poyk
Fanny J Poyk

Mama Pasti Pulang, Sayang

Dari balkon rumahku, aku menatap langit yang hitam dengan hamparan bintang berkelap-kelip, terang berbinar jernih. Tak ada kepedihan tampak di sana. Semua ceria menyinari bumi. Dunia pastinya berputar sebagaimana mestinya, mengikuti arah rotasi yang oleh para ilmuwan itu memang terjadi, bumi tidak datar. Ketenangan bumi berbanding terbalik dengan apa yang aku rasakan. Ucapan Marini, istriku ketika ia berangkat ke rumah sakit tempatnya bekerja sebagai dokter ahli penyakit dalam, sungguh membuat perasaanku bagai tersayat sembilu. “Mama akan pulang sayang,” katanya pada si bungsu Adri yang baru berusia enam tahun. Ia menangis meraung-raung sembari memegang ujung baju ibunya dengan berkata, “Jangan pergi Mama, jangan pergi. Nanti Mama diambil pilus cocitna!” ujarnya menyebut nama corona dengan suara kanak-kanaknya yang cadel.

Tapi Marini harus pergi. Dokter kepala menelponnya terus. Sudah dua pasien postif covid-19 dan malamnya meninggal. Hari ini, dokter Ida teman sejawat istriku masuk ruang isolasi, hasil testnya dia sudah menjadi suspect dan positif corona. Aku mengepalkan jemari, kemarin, sebelum Marini pergi ke rumah sakit untuk bertugas, ia bercerita tentang dokter Ida yang baru merayakan ulang tahun ke empat puluhnya. Istriku dan para dokter lainnya ditraktir makan bersama di sebuah kafe yang  letaknya masih satu komplek dengan rumah sakit.

Rasa cemas semakin menggerogoti perasaanku, membentur-bentur dinding hatiku. Malam ini, aku menengadah menatap langit dengan air mata mengambang di pelupuk mata. Aku sangat takut. Ya secara manusia dan kedaginganku, aku ingin memaki dan berteriak sekencang-kencangnya, tetapi kepada siapa? Pada mahluk laknat jahat yang tak terlihat yang menyamar bersama angin, menempel di tiap logam, bereaksi dengan cepat pada batuk dan riak serta bersin-bersin yang keluar secara alami tanpa bisa ditahan? Aku meradang, delusi dan paranoidku membuat tubuhku bergetar. Sisi kemanusiaanku berperang hebat dengan beragam cerita imajinatif yang menggiring tubuh dan jiwaku pada rasa cemas yang luar biasa. Marini sayang, semoga virus laknat itu tidak suka dengan tubuhmu. Biarkan kau tetap menjadi milikku, milik anak-anak, milik ibu dan bapakmu, milik pasien-pasien yang membutuhkanmu, harapku sembari menjatuhkan tubuh di kursi balkon dengan degup dada berdetak kencang kala nada dering di Hp-ku berbunyi.

“Papa sayang, bagaimana anak-anak? Sudahkah mereka diberikan vitamin C dan B Kompleks sehabis makan? Tolong periksa PR mereka. Bagaimana kabar Papa, Ibu dan Bapak? Ingat jangan keluar rumah. Bi Ijah jangan disuruh masuk dulu. Makanan sudah ada di kulkas. Aku sudah mengaturnya untuk dimasak perhari, semuanya cukup sampai dua Minggu.  Ibu juga sudah kuberi tahu. Jangan cemas Papa sayang, ini WA terakhirku. Habis ini aku harus memakai baju kayak astronot itu untuk menghindari gempuran si cocit. Hari ini seorang perempuan berusia enam puluh tahun meninggal dunia akibat virus itu. Visumnya sudah ke luar. Jangan cemas, kita para dokter sudah pakai seragam astronot anti virus. Banyak berdoa saja ya Papa, doakan Mama biar tetap sehat. Dadah Papa sayang, muacccchhhh love you...”

WhatsApp itu bagai peringatan tersamar yang membuat rasa takutku semakin membuncah. Aku seperti berperang dengan musuh tanpa wujud bahkan tanpa bayangan. Dan kini hampir tiga hari dia tidak pulang. Istriku, dia belahan jiwaku, segalanya bagiku. Berita tentang dua pasien positif covid-19 yang baru meninggal lagi lalu dimakamkan secara tertutup oleh rumah sakit tempatnya bertugas, membuat aku ingin berteriak sekuatnya. Ya, isteriku ada di sana, di tengah kerumuman para pasien yang mencari kesembuhan, di tengah mereka yang terpapar virus itu. Dia bagai ayam mentah yang siap dipanggang di atas bara yang sangat panas. Tidak Marini, tidak, kau harus pulang!

Tekad itu kubulatkan. Aku akan menjemput istriku dari rumah sakit itu. Dia milikku, milik anak-anakku dan milik kedua orangtuanya, bukan milik virus keparat yang siap memangsanya.

“Haruskah itu kau lakukan?” tanya ibu mertuaku. “Jika kau membawanya pulang, maka dia akan membawa virus itu ke rumah. Anak-anakmu, kau, Ibu dan Ayah akan tertular. Kita akan mati beramai-ramai,” katanya lagi.

“Itu artinya kita mengorbankan dia hanya demi tugas yang sudah diucapkannya melalui sumpah sebagai dokter? Ini tidak adil Ibu. Tidak adil. Marini milikku, Tuhan menciptakannya untukku, untuk anak-anakku. Ibu...aku harus membawanya pulang sebelum dia tertular...”

“Kau tidak boleh egois seperti itu, Nak. Kau mendapatkannya setelah dia menjadi dokter. Dia milik masyarakat banyak, bukan milikmu dan anak-anakmu, bukan milik Ayah atau Ibu yang melahirkannya. Nak, doakan agar dia selamat. Kematian hanya berupa garis imajinatif yang tak terlihat. Suatu saat kita semua akan mati, entah itu waktunya yang kian dekat, atau tidak. Berdoa, hanya itu yang bisa kita lakukan.” Ujar ibu mertuaku lagi.

Hatiku remuk, benar-benar remuk. Aku seperti tidak akan bertemu lagi dengan Marini. Berita tentang rumah sakitnya yang kekurangan masker, seragam bebas kuman dan sanitiser untuk membersihkan setiap ruangan dan pingsannya beberapa tenaga medis serta meninggalnya dua orang dokter yang ada di sana, membuat air mataku tak berhenti menggenangi pipiku. Tangisku sebagai lelaki dewasa bukan lagi cerminan dari sisi cengeng bahwa aku terbenam di dalam ketidakberdayaanku. Tapi lebih dari itu. Kekuasaan virus  covid-19 bukan saja mematikan sistem imun di segenap sel-sel umat manusia, tetapi  juga menciptakan ketakutan psikologis yang menyebabkan manusia dapat terserang skizofrenia atau sakit jiwa akibat depresi berkepanjangan. Ditambah dengan berita yang entah HOAX atau bukan tentang bertambahnya manusia yang terkapar dan akhirnya benar-benar mati setelah makhluk tanpa bayangan itu merangsek dan memakan semua organ penting tubuh manusia, membuat aku bagai sosok paranoid yang berada di dunia Alien.

Setelah itu hari ketujuh tetap tak ada kabar. WA pun mati. Perkembangan tentang ganasnya sang virus kian membuat tensi darahku naik perlahan-lahan. Aku berkali-berkali menelpon rumah sakit, dan jawabannya selalu sama, “Istri Bapak masih berada di ruang isolasi menangani pasien, beliau tidak bisa dihubungi.” Bedebah! Umpatku dalam hati. Mata-mata nanar anak-anakku, ibu dan ayah mertua, menatapku bagai tatapan kelu tanpa harapan. Putra bungsuku mulai merengek, kemudian dia menangis menanyakan ibunya. Lelaki  cilik yang masih duduk di TK B itu, sudah dua hari ngambek tak mau makan, tubuhnya sedikit hangat. Aku memasang alat temperatur di ketiaknya, 37 derajat celcius. God! Seruku. Semoga panasnya tidak meningkat lagi. Oh Marini, bagaimana keadaanmu sekarang? Di mana kau sekarang? Dadaku kembali berdegup kencang. Berita temanku yang malam ini meninggal lalu langsung dibawa pulang ke keluarganya dan dimakamkan saat itu juga, membuat dengkulku lemas...

Dan situasi yang ada, carut-marut dengan berlombanya berita-berita dari media dot com yang menyuguhkan opini entah benar atau rekayasa untuk menjaring subscribe sama ganasnya seperti virus itu sendiri. Lockdown  belum dilakukan secara penuh. Masyarakat sekitar ada yang masih menganggap remeh penyakit itu. Pemerintah menjadi tertuduh dengan tidak menangani virus ini secara serius. Aneka opini membaur dalam imaji-imaji para pengambil keuntungan dari datangnya sang virus. Jika situasi bertambah parah maka bisa saja jiwa massa berkembang dan merunut pada peristiwa chaos yang berimbas pada penjarahan, perampokan hingga pembunuhan yang terjadi pada 1998. Ini sungguh bukan lagi mimpi buruk, namun kenyataan yang mengerikan. Sang pengendali kuda troya mulai memainkan perannya, kebencian masa lalu bisa berkamuflase ke dalam punggung virus covid-19.  Permainan dadu mulai dijalankan. Skak mat sang pemimpin dilaksanakan oleh para bidak melalui strategi jitu yang berada pada para Sengkuni dan Durna dan bersembunyi di balik selimut musang berbulu domba. Itu opini yang bersembunyi di dasar tulang tengkorak para penyusun skenario terselubung, ganasnya mereka sama seperti sang virus, musuh tanpa bayangan.

Marini! Nama itu kusebut berulang-ulang. Perempuan keras kepala yang kucinta, yang memilih menjadi dokter sebagai tempatnya mengabdi tanpa reserve ini, selalu membuatku kalang kabut dengan rasa cemas yang membumbung. “Dia terkena TBC akut Pa, aku harus menolongnya,” katanya ketika kami tinggal di daerah pedalaman Papua, tepatnya di Agat sana  saat ia bertugas sebagai dokter Puskesmas di desa itu.  Di lain waktu, dia berkata, “Kasihan gadis itu, aku harus menolongnya, di saat-saat terakhir HIV-AIDS hendak merenggut jiwanya.” Atau di saat yang berbeda dia bilang begini, “Pa, andai endemi flu burung ini menyerangku juga, kau jangan menangis bila aku tiada. Hidupku untuk mengabdi pada kemanusiaan. Kau jaga dan besarkan anak-anak kita hingga mereka menjadi manusia yang berguna untuk bangsa dan negara.”

Gila! Aku menikahi perempuan spartan dengan membawa misi kemanusiaan yang benar-benar gila. Marini, terbuat dari apa hatimu hingga kau menjadi manusia setangguh itu? Aku kembali menatap bintang-bintang di langit, bulan mulai redup, awan hitam berangsur akan menutupi sinarnya. Seharusnya sinar dan seluruh kedamaian yang diberikan langit pada bumi dapat menenangkan perasaanku yang gulana. Cintaku yang tak terkira pada Marini, isteriku, harus kusadari dengan nalar terbuka bahwa, memiliki tak harus menguasai. Tuhanlah yang menjadi penguasa atas manusia dan juga bumi, juga seperti  kata filsuf Aljazair pujaanku Albert Camus bahwa ‘Hidup ini absurd, tidak untuk dijelaskan tetapi untuk dipahami”

Maka tatkala bungsuku kembali merengek menanyakan mengapa Mamanya belum juga pulang, di balik air mata yang mulai mengering, aku menghibur sambil mengusap kepalanya, “Mama pasti pulang sayang...”

Fanny J Poyk/Depok, Maret, Museum Mini, Rumah Tulis dan Baca Gerson Poyk.

Fanny J Poyk, lahir di Bima, Sumbawa 18 November 1960. Puisi pertamanya dimuat di koran Sinar Harapan pada th 1973, dilanjut dengan membuat antologi puisi yang berjudul Gemuruh Rasa dan puluhan antologi gabungan bersama para penyair Indonesia juga luar negeri.

Cerpen-cerpen Fanny sudah dimuat di berbagai suratkabar dan majalah di seluruh Indonesia dan luar negeri. Ia juga menulis puluhan novel, buku-buku motivasi, artikel dan biografi. Pensiunan jurnalis Tabloid Fantasi dan konsultan media di Kemendikbud untuk siswa SMP/SMA ini. sekarang mengelola yayasan, museum mini, rumah tulis dan baca Gerson Poyk ayahnya serta memberikan pelatihan menulis cerita pendek, novel, jurnalistik, artikel ke seluruh Indonesia dan luar negeri.

Fanny juga menjadi juri lomba baca puisi, cerpen untuk umum, mahasiswa dan SMA juga SMP. Ia juga melatih membaca puisi pada siswa-siswa SMA di Jakarta.

Komentar

Loading...