Mabuk Teknologi

Mabuk Teknologi
Ilustrasi

Oleh: Ade Sudaryat

RASA TAKUT bercampur dengan memuja teknologi, kaburnya perbedaan antara yang nyata dan semu sudah terjadi di sekitar kita, bahkan bisa jadi sedang menimpa diri kita pada saat ini. Banyak orang yang lebih senang hidup melangit di jumantara, seraya tak sadar diri, mereka tengah hidup di atas buana. Internet, media sosial, smartphone, dan berbagai teknologi komunikasi canggih lainnya menjadi sahabat setia.

Banyak orang yang duduk berdekatan, tapi tidak saling menyapa. Mereka begitu “khusyuk” dengan gadget yang dipegang, melupakan kondisi orang-orang yang ada di sekitarnya. Mereka lebih senang menempuh hidup “s3” (senyum-senyum sendiri) sambil menggenggam smartphone. Facebook, instagram,  whatsapp, twitter, atau media sosial lainnya menjadi teman berbincang.

Banyak orang yang jaya di dunia maya, tapi tak berdaya di dunia nyata. Banyak pula orang yang songong dan sombong  di dunia maya, tapi bengong di dunia nyata. Ribuan follower menjadi saudaranya di dunia maya, tapi mereka tak kenal dengan tetangga di dunia nyata.

Banyak orang yang menitikkan air mata karena menonton atau membaca kisah-kisah fiksi yang menyedihkan di dunia maya, namun air matanya kering tatkala melihat tetangga yang benar-benar nyata hidup dalam kubangan derita. Kehidupan nyata dianggap maya, sebaliknya kehidupan maya dianggap nyata.

Sementara itu, akibat dari permainan dan tayangan adegan kekerasan dalam game atau film mengakibatkan orang-orang menganggap wajar terhadap kekerasan yang terjadi di sekitar lingkungannya. Mencerca, menghina, dan menghujat orang lain melalui media sosial dan media lainnya sudah dianggap hal yang biasa, tak dianggap lagi perbuatan nista.

John Neisbit ( 2001 : 13) dalam bukunya High Tech High Touch berpendapat, pada saat ini manusia pada umumnya  tengah masuk ke dalam putaran Zona Mabuk Teknologi (Technologically Intoxicated Zone). Gejalanya ditandai dengan lebih senang menyelesaikan segala permasalahan secara instan; takut sekaligus memuja teknologi;  mengaburkan perbedaan yang nyata dan yang semu; menyenangi teknologi sebagai mainan dan hiasan; menerima kekerasan sebagai sesuatu yang wajar; dan menjalani kehidupan yang berjarak dan terenggut.

Kita tak memungkiri apa yang dikatakan John Neisbit tersebut. Instan menjadi kata kunci utama dalam kehidupan pada saat ini. Makanan, gizi, meraih tubuh langsing, kesehatan,  meraih kekayaan, menjadi seorang pemimpin dan lain sebagainya dapat diperoleh secara instan.

Untuk mendapatkan informasi, tangan kita tak akan kotor lagi karena membulak-balik koran atau majalah,  cukup dengan satu klik saja.  Gelar keilmuan yang dahulu harus ditempuh bertahun-tahun dengan setumpuk buku yang harus dibaca dan dianalisa, kini bisa ditempuh dalam waktu singkat, gelar berjejer di depan atau belakang nama akhirnya didapat.

Dahulu, gelar ustadz merupakan gelar kehormatan yang diberikan masyarakat atas jasa dakwah dan kompetensi ilmu keagamaan yang dimiliki seseorang. Proses menempuhnya sangat panjang, selain harus benar-benar melalui pendidikan di pondok pesantren yang memakan waktu lama, mengkaji setumpuk kitab-kitab berbahasa Arab gundul yang rumit,  juga keilmuannya harus benar-benar handal dan teruji. Kini semua itu dapat dilewati dengan berbagai metode serba cepat.

Pemujaan terhadap teknologi menjadi ciri utama orang yang dianggap maju. Jika tidak menguasai teknologi disebut gagap teknologi (gaptek) sebagai bahasa halus dari kata kuno atau ketinggalan zaman. Di sisi lainnya kemajuan teknologi dijadikan hanya sebagai mainan.

Industri game di satu sisi menghasilkan uang, namun di sisi lain menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan. Banyak orang yang menghabiskan waktu dan uang jutaan rupiah demi kesenangan bermain game. Tak sedikit pula dari permainan game ini melahirkan tindak kekerasan di dunia nyata karena pikiran mereka seakan-akan sedang hidup dalam game di dunia maya.

Demikian pula dengan dunia media sosial. Awal kehadirannya bertujuan untuk menghubungkan komunikasi antar manusia di belahan dunia agar mendapatkan kemudahan berkomunikasi. Seiring kemajuan dan memasyarakatnya media sosial, kini media sosial terkadang menjadi media  untuk menghujat, mencerca, atau menjelek-jelekan orang lain.

Kondisi-kondisi  tersebut merupakan kenyataan yang tengah melanda kehidupan kita pada saat ini. Haruskah kita lari dari kemajuan teknologi?

Tentu saja tidak boleh, sebab jika kita lari dari kemajuan teknologi, kita akan menjadi orang yang tertinggal. Satu hal yang harus kita lakukan adalah menciptakan filter agar kita tidak menjadi orang yang lupa diri, tetap menggunakan teknologi seraya tidak melupakan nilai-nilai moral kemanusiaan diiringi nilai-nilai keagamaan.

Syaikh Al-Waraq seorang ulama salaf seperti  yang dikutif Imam al Ghazali dalam karyanya Bidayat al Hidayah berkata,  “hiduplah kalian bersama ahli zamanmu, sesuai dengan kemajuan zaman, tapi kalian harus pintar-pintar menghindari dampak negatifnya.”

Rasulullah saw bersabda, “berlindunglah kalian dari jaari al suui“ (Sunan An-Nasai, hadits nomor 5502).

Dalam kamus bahasa Arab jaari al suui  artinya kejelekan tetangga. Kata tetangga bisa bermakna sebenarnya, bisa pula bermakna kiasan. Tetangga dalam arti sebenarnya adalah mereka yang rumahnya berdekatan dengan kita. Sementara tetangga dalam arti kiasan adalah sesuatu yang berdekatan dengan kita.

Pada saat ini, kita sangat lekat bertetangga dengan teknologi. Seperti halnya dengan tetangga dalam arti sebenarnya yang bisa memberikan manfaat dan mudarat, demikian pula halnya dengan teknologi. Karena itu, kita harus benar-benar arif dalam memanfaatkan kemajuan dan kecanggihannya, sebab pada saat ini segala yang kita inginkan benar-benar berada dalam ujung ibu jari kita, hal yang bermanfaat dan mudarat, pahala dan dosa, tinggal satu klik saja.

Semoga Allah memberi kekuatan kepada kita untuk menjalani kehidupan ini sesuai dengan petunjuk  dan sunnah Rasul-Nya di tengah-tengah kehidupan yang semakin banyak tantangan dan godaan. ***

 

Penulis, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Qurrata A’yun Samarang Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...