Literasi Kritis Menghadapi Covid-19

Literasi Kritis Menghadapi Covid-19
Ilustrasi/digitalmarket

Oleh: Heri Maja Kelana*

Jutaan orang menyaksikan apel jatuh, tapi hanya Newton yang mempertanyakan mengapa (Bernard Baruch)

Pandemi dan infodemi telah membuat tatanan hidup berbalik arah, sebagai contoh yang biasanya di luar rumah sekarang harus di dalam rumah, yang biasanya rapat sekarang harus renggang. Ini kemudian yang dikatakan sebagai titik balik peradaban. Pertanyaannya adalah, apakah titik balik peradaban ini menuju pada yang baru? Atau kembali pada yang lama? Hal ini tergantung bagaimana mengelola sebuah perubahan yang sangat dasyat ini. Pada wilayah ini adalah masa kritis, masa krusial untuk menuju peradaban baru, peradaban pasca corona.

Prof. Djoko Saryono pada diskusi Wold Book Day 2020, Indonesia Online Festival, yang diseleanggarakan oleh Perkumpulan Literasi Indonesia, Kamis (30/4/20) lewat Aplikasi Zoom serta live di Youtube Perkumpulan Literasi Indonesia. Ia mengatakan bahwa ada beberapa peradaban, di antaranya “pertumbuhan itu lambat, kejatuhan itu cepat”. Kemudian ada pilihan lain yaitu “dengan lambat, kita tumbuh kuat”. Namun di balik dua peradaban tadi, Prof. Djoko melihat semua orang belum siap serta tergagap-gagap. Secara ilmu tidak siap, teknologi tidak siap, industri juga tidak siap, sistem ekonomi tidak siap, bahkan rumah sebagai tempat belajar juga tidak siap. Sebab selama ratusan tahun, sekolah telah mengambil alih sistem pendidikan (belajar) yang seharusnya ada di rumah. Ketika sekarang kembali ke rumah, ternyata juga kerepotan. Dari pandangan tersebut, tidak ada tatanan peradaban yang memang siap untuk menghadapi pandemi seperti sekarang ini.

Pada keadaan seperti sekarang, diharuskan berpikir kritis, kreatif, serta instrospeksi (mengoreksi) lebih ke dalam. Hal semacam ini yang kemudian disebut literasi kritis. Pandemi serta infodemi yang terjadi telah mendorong peradaban, mengubah kebiasaan-kebiasaan, perilaku-perilaku, serta tatanan-tatanan.

Literasi Kritis Menghadapi Covid-19

Literasi kritis ini bukan pada wilayah baca dan tulis semata. Namun lebih dari itu kita dituntut untuk bertindak kritis, bersikap kritis, serta kesadaran kritis yang didukung oleh informasi yang tersedia di banyak media.

Literasi kritis juga dapat menangkal infodemi yang lahir akibat pandemi covid-19. Infodemi telah melahirkan banyak ekses-ekses bukan hanya terhadap wilayah kesehatan serta ekonomi. Lebih dari itu ada wilayah sosiokultural yang sedang dikepung oleh covid-19.

Pada buku terbarunya Slavoj Zizek, Pandemic!: Covid-19 Shakes the World. Kata pandemic dalam judul ditulis panic lalu seperti diberi kurung terdapat kata dem. Zizek ingin mengatakan bahwa kepanikan moral serta kepanikan sosial menyebabkan infodemi.

Oleh karena itu, literasi kritis pada wilayah ini penting peranannya. Supaya dapat memilah bahan bacaan, menentukan sikap, hingga bertindak berada pada wilayah yang baik. Wilayah yang kemudian tidak menimbulkan panik, namun tetap waspada.

Begitu pula pada wilayah tulis, dalam hal ini sastra. Kita semua tahu, bahwa banyak karya sastra yang lahir akibat wabah. Albert Camus membuat Sampar, Gabriel Garcia Marquez dengan Love in the Time of Cholera. Sophokles, seorang dramawan Yunani paling tidak menghasilkan karya tragedi agung Odipus, juga bercerita tentang wabah. Begitu seterusnya wabah pandemi selalu menghasilkan karya-karya.

Di Jawa tahun 1820 melahirkan karya berupa Babad Bedhah ing Ngayogyakarta. Begitu pula diungkapkan oleh Prof. Djoko.

Media Cakradunia ini juga saya kita sedang membuat gerakan sejarah terkait pandemi covid-19. Paling tidak sekarang mengumpulkan data-data dari banyak dimensi terkait covid-19. Eksekusi dapat dilakukan kapan saja. Karena ini terkait perenungan yang dalam.

 

Heri Maja Kelana, penyair, pengelola Rumah Baca Taman Sekar Bandung.

Komentar

Loading...