Lima Syarat Bebas Bermaksiat

Lima Syarat Bebas Bermaksiat
Ilustrasi

DALAM sebuah forum pengajian, seorang ustadz memaparkan hakikat tugas utama hamba Allah. “Tak ada lagi tugas bagi kita sebagai hamba Allah, kecuali beribadah kepada-Nya. Kebaikan apapun yang kita lakukan harus bernilai ibadah kepada-Nya. Sedapat mungkin, kita harus berjuang keras menjauhi segala kemaksiatan kepada-Nya.” Demikian kata Ustadz tersebut sambil mengutip surat Adz-Dzariat : 56, “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” 

Selesai memaparkan materinya, sang Ustadz membuka sesie diskusi atau tanya jawab.

Dalam sesie tersebut, seorang pemuda mengajukan pertanyaan agak nyeleneh.

“Tadi Ustadz mengatakan tugas kita sebagai hamba Allah adalah ibadah.  Bagi saya, pernyataan tersebut begitu mengekang akan kebebasan kita sebagai hamba Allah. Mengapa Allah tidak memberikan kebebasan kepada hamba-hamba-Nya untuk berbuat apa saja, termasuk berbuat kemaksiatan? Jujur saja, kalau saya ingin sekali bebas berbuat kemaksiatan. Bagaimana menurut Ustadz?”

Dalam perasaannya, sang Ustadz ingin sekali memarahi sang Pemuda tersebut. Namun, ia teringat akan metode dakwah yang dibawakan Rasulullah saw yang selalu bijak dalam menanggapi pernyataan dan pertanyaan umat. Di tengah kebingungan menanggapi pertanyaan dan pernyataan sang Pemuda tersebut,  ia ingat akan kisah Ibrahim bin Adham, seorang ulama sufi. Dalam sebuah forum pengajian, ia pernah mendapatkan pertanyaan dan pernyataan yang sama seperti yang diajukan sang Pemuda.

“Sebenarnya, Anda boleh berbuat kemaksiatan, tak perlu beribadah. Dipersilakan jika Anda mau berbuat kemaksiatan, apapun bentuk dan jenisnya. Kapan saja Anda boleh  melakukannya.” Demikian jawab sang Ustadz.

Mendengar jawaban tersebut, jemaah pengajian merasa heran. Sang Pemuda mengerutkan dahinya sambil memejamkan mata. Kemudian, ia berkata. “Benarkah Ustadz? Serius?”

“Benar. Saya serius. Tapi sebelum Anda melakukannya, Anda harus memenuhi lima persyaratan terlebih dahulu. Jika lima persyaratan ini terpenuhi,  Anda bisa bebas melakukan kemaksiatan apa saja.” Jawab Ustadz menegaskan.

Kemudian ia memaparkan persayaratan yang dimaksud. Pertama, perbuatan maksiat yang Anda lakukan tersebut tidak boleh dilakukan di atas bumi ciptaan Allah; kedua, ketika melakukan kemaksiatan, Anda tidak menggunakan fasilitas hidup atau pemberian rizki dari Allah.

Belum juga sang Ustadz selesai bicara, sang Pemuda segera memotong uraiannya. “Kalau syaratnya seperti itu siapapun tak akan sanggup melakukannya. Bukankan bumi dan rizki yang aku makan, aku pakai, dan aku nikmati ini semuanya dari Allah?” 

“Kalau Anda tak sanggup dengan dua syarat tersebut, cobalah syarat yang ketiga. Anda melakukan kemaksiatannya di tempat yang tidak akan dilihat Allah.” Lanjut sang Ustadz

Rupanya di hati sang Pemuda sudah ada keyakinan akan sifat-sifat Allah. Ia menyanggah pernyataan sang Ustadz. “Ah, rasanya tidak akan ada satu tempat pun di bumi dan di langit yang luput dari pengawasan-Nya. Bukankah Dia Maha Melihat? Syarat ini pun aku tak sanggup memenuhinya.”

“Kalau Anda masih tak sanggup dengan ketiga syarat tersebut, cobalah dua syarat yang terakhir! Siapa tahu Anda akan mampu melakukannya. Dua syarat tersebut adalah ketika Anda sedang melakukan kemaksiatan, kemudian Malaikat Izrail datang menjemput, Anda harus berani menolaknya. Kemudian Anda katakan, ‘Jangan kau cabut nyawaku! Orang lain saja yang kau cabut nyawanya. Aku masih ingin hidup, belum kenyang berbuat kemaksiatan!’ ”

Dan  syarat yang terakhir, jika nanti di hari pembalasan, malaikat Jabaniyah menggiringmu masuk neraka, Anda harus mempersiapkan segala kekuatan untuk melawannya agar Anda bisa lari, dan Anda tidak jadi masuk neraka!” Jawab sang Ustadz mengakhiri pengajiannya.

Sang Pemuda maju mendekati sang Ustadz. “Terima kasih Ustadz. Jawaban Ustadz sangat bijak. Aku tak akan sanggup memenuhi persyaratannya. Sekuat tenaga aku akan berupaya melaksanakan ibadah kepada-Nya, dan berupaya mengurangi perbuatan maksiat.”

Seandainya diri kita sendiri adalah Sang Pemuda itu, mampukah kita memenuhi persyaratan seperti yang dikutip sang Ustadz tadi? Jika tidak, apakah sampai pada saat ini ada perasaan malu kepada Allah, sedih, dan menyesal atas perbuatan maksiat yang pernah kita lakukan?

Sangatlah bijak apabila kita selalu melakukan muhasabah, meneliti perbuatan kita. Jika kita banyak melakukan kebaikan, besar harapan kita Allah menerimanya. Jika sebaliknya, kita malah banyak melakukan perbuatan buruk dan kemaksiatan, segeralah bertaubat.  Allah Maha Pengampun, pintu taubat masih terbuka untuk segera kembali ke jalan-Nya.

Hampir setiap minggu, melalui khutbah shalat Jum’at, khatib selalu mengajak jama’ah agar berjuang meningkatkan ketakwaan. Dari sekian banyak kriteria orang bertakwa adalah malu, menyesal, dan bersedih atas segala perbuatan maksiat yang pernah dilakukan.

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat kepada Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui” (Q. S. Ali Imran : 135).*

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kp. Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...