Letkol TNI (Purn) Teuku Hamid Azwar Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

Letkol TNI (Purn) Teuku Hamid Azwar Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
Teuku Hamid Azwar (kiri) bersama Presiden RI Soekarno. (Repro buku: Aceh dalam Perang Mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan 1945-1949 dan Peranan Teuku Hamid Azwar Sebagai Pejuang). Foto/SI

CAKRADUNIA.CO, Banda Aceh  - Letkol TNI (Purn) Teuku Hamid Azwar, putra Aceh kelahiran Samalanga, Bireuen diusulkan menjadi Pahlawan Nasional. Untuk itu,  Pemerintah Aceh melalui Dinas Sosial Aceh, Jumat (16/4/2021) menggelar seminar membahas sosok Ampon Hamid, sebagai pejuang NKRI sebelum dan sesudah kemerdekaan.

Seminar secara online dan offline di Dinsos Aceh yang dihadiri puluhan peserta dan ahli waris Pocut Haslinda Azwar merupakan bagian dari sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi untuk mengusulkan Teuku Abdul Hamid Azwar sebagai Pahlawan Nasional.

“Seminar ini untuk memenuhi persyaratan penetapan Letkol TNI (Purn) Teuku Abdul Hamid Azwar sebagai pahlawan nasional sekaligus mensosialisasikan kepada masyarakat tentang sosok Ampon Hamid,” kata Ka Dinsos Aceh, Yusrizal.

Melalui seminar ini, diharapkan akan membuka tabir tentang kiprah putra terbaik Aceh dalam mempertahankan NKRI pascakemerdekaan, maupun keterlibatannya dalam merebut kemerdekaan.

"Rekomendasi ini akan kami sampaikan kepada Pemerintah Pusat di Jakarta bahwa Letkol TNI (Purn) Teuku Abdul Hamid Azwar layak dianugerahkan menjadi Pahlawan Nasional dari Aceh," sebutnya Yusrizal.

Seminar pengusulan tokoh pejuang Aceh,Teuku Abdul Hamid Azwar sebagai Pahlawan Nasional di Dinas Sosial Aceh, Jumat (16/4/2021). Ist 

Gubernur Aceh dalam sambutannya yang dibacakan Staf Ahli bidang Pemerintahan dan Politik, Kamaruddin Andalah, menyambut baik penyelenggaraan seminar tersebut. 

“Terima kasih kepada panitia, sehingga pelaksanaan seminar pada hari ini dapat terlaksana dengan baik,” kata Gubernur Nova.

Peserta dan semua pihak diharapkan berpartisipasi dan terlibat aktif memberikan kontribusi dan pemikiran sehingga nantinya dapat melahirkan rekomendasi agar Letkol TNI (Purn) Abdul Hamid Azwar segera ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

Diantara sekian banyak perintis, pahlawan dan pejuang kemerdekaan asal Aceh, baru delapan orang saja  yang telah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah, padahal masih banyak tokoh Aceh lainnya yang layak mendapat anugerah tersebut.

Kedelapan orang itu adalah Tgk Chik di Tiro (1836-1891), Teuku Umar (1854-1899), Teuku Nyak Arief (1899-1946), Sultan Iskandar Muda (1590-1636), Tjut Nyak Dhien (1848-1908), Tjut  Nyak Meutia (1870-1910), Mr Teuku Muhammad Hasan (1906-1997) dan yang terakhir Laksamana Malahayati (1596).

Di luar nama-nama itu, masih banyak nama-nama pejuang lain asal Aceh yang belum ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, termasuk di antaranya Letnan Kolonel TNI (Purn) Teuku Abdul Hamid Azwar.

“Kita berharap akan banyak lagi pejuang Aceh yang diberikan gelar Pahlawan Nasional di masa yang akan datang,” kata Nova penuh harap..

Pemerintah Aceh, tambahnya, akan terus melakukan berbagai upaya untuk mengusulkan tokoh-tokoh terbaiknya agar dapat dikenal luas dan dikenang sepanjang masa.

“Kami berharap pemerintah pusat dapat segera menetapkan Letkol (Purn) Teuku Abdul Hamid Azwar sebagai pahlawan nasional,” pinta Gubernur Aceh optimis. 

Ahli waris Letnan Kolonel (Purn) Teuku Abdul Hamid Azwar, Pocut Haslinda, bersama narasumber dan sejumlah peserta foto bersama usai seminar di Dinas Sosial Aceh, Jumat (16/4/2021).Ist

Untuk membahas siapa Sosok Teuku Hamid Azwar, panitia menghadirkan tiga pemateri, masing-masing; Joko Irianto (Direktur Kepahlawanan, Keperintisan, Kesetiakawanan dan Restorasi Sosial Kementerian Sosial RI), Dr Hermansyah (Filolog dan Peneliti di Pusaka UIN Ar-Raniry), dan Dr Adli Abdullah (Akademisi Fakultas Hukum Unsyiah)

Ketua Tim Penyusun Naskah, Zulkarnaini alias Syeh Joel, mengungkapkan,  hingga November 2020, sudah dua kepala daerah yang telah menerbitkan surat usulan gelar Pahlawan Nasional untuk H Teuku Hamid Azwar yang ditujukan kepada Gubernur Aceh untuk diteruskan ke pusat.

Kedua daerah tersebut, masing-masing, Wali Kota Banda Aminullah Usman dan Bupati Bireuen Muzakkar A Gani.

Ada sejumlah alasan almarhum Teuku Abdul Hamid Azwar layak diusul menjadi Pahlawan Nasional kepemerintah pusat. Diantaranya banyak bukti dan artikel yang mengupas sosok Hamid Azwar dan perannya baik sebelum kemerdekaan maupun setelah Indonesia merdeka.

"Pangkat terakhir beliau Letkol Perwira TNI Komando Sumatera Teuku Hamid Azwar. Ini jelas beliau sudah mempertahankan Negara Indonesia dari para penjajah dan salah satu tokoh Aceh yang banyak berjasa sejak masa perjuangan melawan penjajahan, pada masa awal pendirian Republik, hingga mengisi kemerdekaan,”katanya dikutip serambinews.

Ampon Samalanga, begitu nama populer Teuku Hamid Azwar lahir pada tahun 1916. Keturunan dari Ulee Balang Samalanga, Kabupaten Bireuen. Ayahnya Teuku Ampon Chik Haji Muhammad Ali Basyah, dan ibunya Cut Nyak Po.Pendidikan masa kecil di Kutaraja untuk belajar agama dan menempuh pendidikan formal.

Sementara pendidikan dasar di sekolah Belanda, Hollandsch Inlandsche School (HIS) di Peunayong yang dikhususkan untuk anak-anak golongan atas. Setelah dari HIS, dia melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO).

Pada usia yang masih muda, Teuku Hamid Azwar sudah menjadi pebisnis handal, melakukan perdagangan hasil bumi serta mengelola pabrik penggilingan padi di Samalanga dan pada saat bersamaan ia juga seorang politikus dan terlibat dalam pendirian Partai Indonesia Raya (Parindra) di Aceh dan juga sekolah pergerakan.

Ketika pengumuman proklamasi kemerdekaan RI bersama Syamaun Gaharu dan Perwira Giyu Gun lainnya, Teuku Hamid mendirikan Angkatan Pemuda Indonesia (API) dan API berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), setelah itu menjadi Tentara Republik Indonesia, dan akhirnya menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Pada saat itu, Teuku Hamid mendapatkan kedudukan cukup tinggi dan penting sebagai Kepala Staf Divisi V Aceh dengan pangkat Mayor dan Letkol. Ia memimpin pelucutan senjata tentara Jepang serta mencegah Belanda untuk kembali menduduki Aceh saat agresi kedua.

Saat menjadi Kepala Staf SK 2A (Intendans) Komandan Sumatera yang berkeduduk di Bukit Tinggi, Teuku Hamid mulai mendirikan perusahaan dagang Central Trading Company (CTC) yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan TNI.

Perusahaan CTC tidak hanya memasok senjata, amunisi, dan obat-obatan kepada TNI, tetapi juga melakukan pembelian pesawat AVRON ANSON untuk memperkuat Angkatan Udara dana Kapal Laut PPB 58 LB untuk memperkuat angkatan laut Indonesia.

Jiwa dagang Teuku Hamid Azwar tidak berhenti disitu saja, ditengah kesibukkan juga sempat menginisiasi pendirian Gedung Sarinah Jakarta sebagai pusat perbelanjaan pertama di Indonesia dan termegah waktu itu.

Pada tahun 1950, Teuku Hamid Azwar memfokuskan diri berdagang dan melepaskan tanda pangkatnya dalam militer sebagai Letnan Kolonel. Pada usia 80 tahun, Ampon Samalanga ini meninggal dunia pada 7 Oktober 1996 lalu di Singapura. Semoga almarhum mendapat tempat yang baik disisi-Nya.(SI)

Komentar

Loading...