Korupsi Ilmu

Korupsi Ilmu
Ilustrasi.Ist

Oleh:Ade Sudaryat

AWALNYA penulis bersikap skeptis membaca pernyataan J.J. Rousseau, sang filosof (1712 -1778), “semakin banyak orang pandai, berilmu tinggi, semakin sulit dicari orang jujur.” Demikian pula ketika membaca pemikiran John Law (1991) dalam karyanya   A Sociology of Monster, “pada saat ini, pengetahuan, apa lagi kekuasaan, mulai diragukan bisa menjadi lahan subur pertumbuhan kebenaran dan kejujuran, sebaliknya malah larut dibawa arus uang, kemudian ikut menjadi monster pemangsa kebenaran dan kejujuran itu sendiri.”

Namun, tatkala menyaksikan realita pada saat ini, penulis meyakini kebenaran pernyataan J.J. Rousseau dan John Law tersebut. Betapa tidak, pada saat ini tak sedikit orang yang berilmu dan berpendidikan tinggi menjadi monster pemangsa kebenaran dan kejujuran. Padahal, idealnya kehidupan orang-orang yang berilmu dan berpendidikan tinggi sikap dan perilaku dalam kehidupannya menjunjung tinggi kebajikan dan moral, mendahulukan suara hati nurani dan kekuatan otak, tidak memperturutkan keinginan hawa nafsu dan memperagakan “kekuatan otot” 

Norma yang baik, kebenaran, moral mulia, serta etika menjadi landasan utama dalam setiap tindakannya. Sementara itu, hatinya dipenuhi keyakinan yang sangat tinggi bahwa segala tingkah lakunya diawasi oleh Tuhan Yang Maha Mengawasi, dan kelak akan diminta pertanggungjawaban oleh-Nya. Para filosof mengelompokkan orang yang berilmu dan berpendidikan tinggi ke dalam kelompok orang yang kehidupannya harus berada pada tahapan etika dan religius. 

Kalau jujur diakui, kehidupan berbangsa dan bernegara kita pada saat ini sudah agak melenceng dari tatanan etika, moral, dan nilai-nilai religius. Kegaduhan politik, kerusuhan, tawuran antar institusi penyelenggara negara, korupsi serta berbagai tindak kebohongan lainnya merupakan bukti betapa kehidupan berbangsa dan bernegara kita sudah melenceng jauh dari nilai-nilai etika, moral, dan nilai-nilai religius. Nilai-nilai etika hanya dijadikan sebagai pengetahuan belaka. Sementara nilai-nilai religius hanya dilaksanakan dalam bentuk ritual-seremonial, namun nilai-nilainya tak dipraktikkan dalam kehidupan nyata.

Hampanya kehidupan berbangsa dan bernegara dari nilai-nilai etika dan religius ini mengakibatkan terjadinya kekosongan jiwa, rapuhnya moral, dan menyuburkan sikap tidak amanah dalam mengemban tugas membangun negeri ini. Padahal yang paling pertama dan utama harus dimiliki setiap insan dalam membangun negeri ini adalah kemauan membangun jiwa sebagaimana diamanatkan lagu kebangsaan Indonesia Raya, “bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya”.

Memiliki dan mempraktikkan nilai-nilai etika dan religius dalam kehidupan berbangsa dan bernegara merupakan wujud dari membangun jiwa bangsa ini. Manakala nilai-nilai etika dan religius telah menjadi landasan utama dalam melaksanakan pembangunan di negeri ini , penulis yakin kesejahteraan rakyat, keadilan, dan kemakmuran akan segera tercapai.

Kebalikan dari orang yang kehidupannya berada pada tahapan etika dan religius adalah orang yang kehidupannya berada pada tahapan estetika. Kehidupannya didedikasikan hanya untuk mencari kesenangan yang bersifat hedonistik, mencari materi tanpa memedulikan lagi sumbernya, mencari pemuas nafsu, dan bahkan hanya mencari sensasi atau popularitas. Orang-orang yang berada pada tahap ini telah melupakan ilmu dan pendidikan yang dimilikinya, melupakan harkat dan martabat dirinya, serta melupakan akibat hukum dan akibat sosial dari perbuatannya.

Tindak pidana korupsi yang marak di negara kita merupakan bukti, para ponggawa negeri ini yang notabene berpendidikan tinggi sudah melupakan hati nuraninya. Mereka hanya mementingkan kepentingan dan kesenangan sesaat, membunuh kejujuran, dan kepercayaan yang diberikan rakyat.

Prof. Syed Muhammad Nuquib Al-Attas dalam karyanya, “Prolegomena to The Metaphysics of Islam” berpendapat, para koruptor selain telah mencuri uang negara, juga telah melakukan korupsi terhadap ilmu dan kebenaran yang diyakininya. “Our real challenge is the problem of the corruption of knowledge”. Tantangan utama kita pada saat ini adalah masalah korupsi ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, korupsi yang terjadi pada berbagai bidang pada awalnya karena para pelakunya telah melakukan koruspi terhadap ilmu yang dimilikinya. Ia telah melupakan bahwa dirinya merupakan orang yang dihormati karena ilmunya, dan membunuh suara hati nuraninya.

J.J. Rousseau agak sedikit kejam. Ia memandang para koruptor dan orang-orang yang melakukan berbagai tindakan yang memperturutkan hawa nafsu sebagai orang-orang “cacat” yang hanya mempertajam akal sambil membunuh suara hati nuraninya. Manusia-manusia yang hanya mempertajam akal, berfikir saja, dan mengesampingkan moral dan panggilan hati nuraninya adalah makhluk yang cacat (l’homme qui inedite est un animal deprave). Ilmunya menggapai angkasa tetapi hatinya diperbudak kerakusan, iri hati, kebencian, kegersangan emosi, dan penipuan; keterampilannya mampu menggerakkan gunung-gunung tetapi tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri.

Sejarah bangsa-bangsa di dunia telah membuktikan, kehancuran suatu negeri bukanlah karena peperangan atau bencana alam, namun kehancuran suatu negeri akan terjadi manakala negeri tersebut telah dihuni oleh orang-orang yang sudah tidak lagi menjunjung tinggi nilai-nilai religius, norma,  dan moral yang mulia. ***

Penulis Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Qurrata A’yun Samarang Garut

Komentar

Loading...