Breaking News

Konsekuensi Dua Kalimah Syahadat

Konsekuensi Dua Kalimah Syahadat
Ilustrasi.net

KONSEKUENSI setelah mengucapkan dua kalimah syahadat adalah berpegang teguh atas keyakinan kepada Allah dan Rasul-Nya yang wajib ditaati dalam situasi dan kondisi apapun. Orang yang telah benar-benar mengucapkan dua kalimah syahadat, ia akan berusaha keras untuk istikamah menjalankan kandungan dua kalimah syahadat dalam kehidupan  sehari-hari.

Gelar muslim yang telah disandangnya  akan  benar-benar ia jaga marwahnya. Segala ucap, langkah, dan perilakunya, benar-benar ia jaga agar tidak tergelincir kepada perbuatan yang dapat mengotori kemuliaan Islam.  

Ia berupaya menjaga persatuan dan persaudaraan sesama muslim, dan tetap toleran terhadap nonmuslim selama mereka tidak mengotori Islam dan kaum muslimin. Ia pantang menyakiti nonmuslim, terlebih-lebih menyakiti saudaranya sesama muslim. Ia yakin sekali, perbuatan baik sekecil apapun dalam pandangan manusia, manakala diniatkan demi kemuliaan Islam, akan sangat berharga di hadapan Allah swt.

Karenanya, seorang muslim yang baik, akan senantiasa beramal baik demi keluhuran dan kemuliaan Islam.  Ia akan senantiasa menyempatkan diri menyimpan saham-saham Islam demi kemuliaan Islam, yang keuntungannya akan kembali kepada dirinya.

Kita tak perlu membayangkan saham laksana kita menyimpan saham di sebuah perusahaan atau ketika kita membeli saham di bursa efek. Adapun yang dimaksud menyimpan saham dalam Islam adalah melakukan amal-amal terbaik yang mampu kita lakukan demi kemuliaan Islam.

Hadits yang diriwayatkan al Bazar menyebutkan delapan saham dalam Islam. Saham pertama adalah memberikan jaminan keselamatan baik terhadap sesama muslim maupun terhadap nonmuslim yang tidak mengganggu umat Islam.

Jika seseorang telah mengucapkan dua kalimah syahadat, melaksanakan ibadah shalat,dan berusaha menjalani kehidupan sesuai aturan Allah dan Rasul-Nya, maka orang tersebut tak boleh diganggu harta, perasaan, dan hak azasinya.

Demikian pula terhadap nonmuslim. Selama mereka tidak mengganggu umat Islam baik secara fisik maupun nonfisik, sebagai muslim kita tak boleh mengganggu mereka. Hak azasi atau nilai-nilai kemanusiaan mereka harus tetap dihargai.

Saham kedua adalah mendirikan ibadah shalat. Selain merupakan tiang pokok agama, ibadah shalat juga merupakan kunci utama keselamatan kita kelak di hadapan  persidangan Allah di akhirat. Ketika ibadah shalat kita berkualitas baik, secara otomatis segala  amal ibadah kita berkualitas baik. Demikian pula sebaliknya, jika ibadah shalatnya berkualitas jelek, maka jelek pula kualitas amal kita yang lainnya.

Salah satu ciri shalat berkualitas baik adalah manakala kita berupaya keras  mengimplementasi nilai-nilai maknanya dalam kehidupan nyata di luar ibadah shalat.  Akhlak yang baik, menjaga persaudaraan, berbahasa yang baik, disiplin, dan taat terhadap hukum dan aturan merupakan bagian dari nilai-nilai luhur ibadah shalat yang dapat kita terapkan dalam kehidupan.

Saham ketiga adalah zakat. Tidak sempurna shalatnya seseorang yang sudah nishab mengeluarkan ibadah zakat, namun ia tidak menunaikannya. Dengan kata lain, kualitas shalat orang kaya yang tidak menunaikkan zakat tergolong kualitas shalat yang jelek.

Dalam hadits lain dikatakan, ibadah zakat merupakan upaya penyucian terhadap harta benda yang kita miliki dan sebagai wujud nyata amal shaleh dan pengikat persaudaraan terhadap sesama muslim. Hikmah lainnya, dengan menunaikkan ibadah zakat selain akan melipatgandakan jumlah harta, juga akan melipatgandakan berkah harta yang kita miliki.

Saham keempat adalah menunaikkan ibadah haji. Inilah ibadah terlengkap dalam Islam. Ibadah haji selain memerlukan keimanan yang tangguh, juga dalam pelaksanaannya memerlukan kekuatan fisik, sehat wal afiat, dan  kekuatan harta. Karenanya, ibadah haji hanya diwajibkan bagi orang-orang yang mampu baik secara fisik, psikis, dan finansial.

Selain kemampuan-kemampuan tersebut, ibadah haji merupakan ibadah yang memerlukan pula kekuatan politik antar negara.  Misalnya saja, ketika kita akan melaksanakan ibadah haji, kita harus tunduk terhadap segala keputusan dan kebijakan Saudi Arabia sebagai negara yang memiliki otoritas terhadap dua kota suci,  Makkah dan Madinah.  Kita tak bisa bebas masuk ke negara tersebut tanpa izin dari penguasa negara tersebut.

Kemungkinan karena kompleksitas dalam pelaksanaannya, ibadah haji merupakan ibadah yang sangat besar pahalanya. Surga merupakan balasan utama bagi orang-orang yang mabrur, ikhlas dalam melaksanakannya.

Saham kelima adalah menunaikkan ibadah shaum Ramadhan. Meskipun  ibadah yang satu ini  tidak memerlukan biaya besar, namun dalam kenyataannya belum semua orang mampu melaksanakannya.  Keimanan kepada Allah merupakan modal utama dalam melaksanakannya. Karenanya, kita bisa menilai derajat keimanan seseorang yang meninggalkan ibadah shaum Ramadhan tanpa ada alasan yang diperbolehkan untuk meninggalkannya.

Saham keenam  adalah amar ma’ruf  alias mengajak berbuat kebaikan. Sekecil apapun, setiap hari kita harus mengajak semua orang untuk melakukan perbuatan baik. Tentu saja, sebelum mengajak orang lain berbuat baik, kita harus terlebih dahulu memberi contoh atau teladan yang  baik. Sungguh merupakan suatu perbuatan yang akan mencelakakan diri sendiri manakala kita menyuruh orang lain berbuat kebaikan sementara diri kita malah betah tinggal diam dalam kubangan perbuatan jelek yang melanggar aturan Allah dan Rasul-Nya.

Saham ketujuh  adalah nahyi munkar alias mencegah kemunkaran. Ini pasangan serasi dari amar ma’ruf. Perbuatan baik kita akan lenyap, manakala kemunkaran dibiarkan bertebaran di sekitar kita. Oleh karena itu, meskipun berat, kita harus berani mengatakan yang munkar itu tetap munkar, dan harus dicegah. Memberikan pemahaman dan peringatan kepada pelaku kemunkaran, bertahap,  dan bijak dalam melakukan nahyi munkar harus dikedepankan terlebih dahulu sebelum mencegahnya dengan cara yang tegas bahkan keras.

Saham kedelapan  adalah jihad. Secara bahasa, jihad berarti sungguh-sungguh, mengerahkan kemampuan,  memeras kekuatan fisik dan mental untuk dapat melaksanakan segala perintah yang telah ditetapkan dalam ajaran Islam.

Kebanyakan orang Islam masih merasa takut ketika mendengar kata jihad. Masih banyak umat Islam yang memaknai jihad sebatas perang. Padahal jihad berarti perang hanya berlaku dalam kondisi tertentu saja, misalnya ketika keselamatan negara dan agama Islam terancam. 

Dengan demikian, setiap perang membela negara dan agama Islam termasuk jihad, namun tidak semua jihad harus berwujud perang fisik. Bukanlah mencari ilmu juga termasuk salah satu bagian dari  jihad? Bukankah menjadi pejabat yang jujur dan tidak melakukan korupsi juga bagian dari jihad? Bukankah menasihati para pemimpin agar jujr dan berbuat adil juga bagian dari jihad?

Dua kalimah  syahadat  telah kita ucapkan dan kita meyakini kebenaran dan keagungannya. Predikat muslim pun telah kita sandang. Kewajiban kita selanjutnya adalah menanam saham perbuatan terbaik yang kita mampu melaksanakannya demi kemuliaan Islam. Kelak saham yang kita tanam demi kemulian Islam akan berimbas kepada keselamatan hidup kita di dunia dan akhirat.

Sebagaimana disebutkan dalam penutup H. R. al Bazar yang telah diuraikan, “Sangatlah merugi orang-orang yang tidak ikut serta ambil bagian dari saham-saham tersebut ” (Nurudin Abi Bakar bin Sulaiman, Mazmu Zawaid  wa Man’u al Faawaid, Juz I, hadits nomor 109).

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

Iklan Duka Cita Ibunda Bupati Nagan Raya

Komentar

Loading...