Komitmen Keislaman

Komitmen Keislaman
ilustrasi/dailymation

KEMULIAAN  akhlak merupakan muara akhir dari pengamalan setiap ajaran yang terdapat dalam ajaran Islam. Ibadah apapun yang dilaksanakan pada akhirnya harus diimplementasikan dalam kemuliaan akhlak. Tanpa akhlak yang baik, sia-sialah ibadah yang kita lakukan.

Syahadat yang kita ucapkan merupakan ikrar keyakinan kepada Allah dan ke-Rasul-an Muhammad saw disertai kesiapsiagaan untuk mengikuti setiap perintah Allah dan Rasul-Nya seraya siap meninggalkan segala hal yang dilarang Allah dan Rasul-Nya. Konsekuensi dari syahadat lainnya adalah kesiapsiagaan jiwa untuk berusaha sekuat tenaga menjaga konsistensi jiwa dan raga untuk berbuat baik kepada sesama makhluk Allah.

Seorang muslim yang baik akan senantiasa menjaga kondisi hatinya agar selalu diliputi keyakinan kepada Allah; menjaga hatinya dari prasangka jelek kepada Allah dan kepada sesama manusia. Ia sangat menjaga seluruh anggota tubuhnya dan senantiasa bersikap waspada agar anggota tubuhnya tidak digunakan untuk menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun psikis.

Keselamatan diri, keluarga, dan orang lain selalu ia perhatikan, sebab hakikat dari seorang muslim adalah kesiapsiagaan jiwa untuk menyelamatkan diri, keluarga, dan orang lain. Seorang muslim tak akan egois dalam melaksanakan ibadah seraya membiarkan orang lain bergelimang dalam kemaksiatan atau kelalaian dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah. Karenanya, seorang muslim tak akan berhenti melaksanakan amar ma’ruf nahyi munkar.

Diri sendiri dan keluarga merupakan sasaran utama dalam melaksanakan perintah kebaikan dan menjauhi segala perkara yang dilarang Allah dan Rasul-Nya. Seorang muslim yang baik berkomitmen untuk selalu menjadi orang pertama dalam melaksanakan kebaikan dan menjauhi segala perkara yang dilarang Allah dan Rasul-Nya. Dengan cara seperti ini, diharapkan menjadi teladan bagi orang lain, sehingga lisannya tajam ketika melaksanakan amar ma’ruf nahyi munkar.

Seorang muslim yang baik akan merasakan seperti hidup di rumah kaca yang tembus pandang. Apapun yang dilakukannya akan senantiasa diperhatikan orang. Oleh karena itu, seorang muslim yang baik akan bersikap hati-hati terhadap segala perkara yang ia lakukan, baik ucapan maupun perbuatan.

Kewaspadaan pertama yang ia lakukan adalah menjaga kemuliaan Islam itu sendiri. Jangan sampai perbuatan yang dilakukannya mengakibatkan citra Islam menjadi jelek di hadapan manusia, terutama di hadapan orang-orang nonmuslim. Jika citra Islam sudah jelek di hadapan nonmuslim, mana mungkin mereka akan tergerak utnuk mempelajari Islam dan memeluknya.

Ketundukan penduduk Makkah kepada Rasulullah saw bukanlah karena pidato atau ceramah Rasulullah saw yang berapi-api. Bukan pula karena takbir akbar yang ia selenggarakan, bukan pula karena popularitas yang ia sanding. Namun, ketundukan dan lunaknya hati penduduk Makkah dalam  mengikuti Rasulullah saw dan memeluk Islam adalah karena keteladanan Rasulullah saw.

Ia senantiasa berdakwah dengan keteladanan. Memberi contoh yang baik senantiasa ia tonjolkan. Setiap ayat al Qur’an yang Allah wahyukan, setiap perintah Allah yang ia terima, dialah orang pertama yang melakukannya. Ia tak pernah menyuruh para sahabatnya untuk berbuat suatu kebaikan, sementara dirinya tidak melakukannya. Demikian pula dalam hal perkara yang diharamkan Allah,  ia pun menjadi orang pertama yang  menjauhi dan tidak melakukannya.

Kondisi Rasulullah saw seperti inilah yang melunakkan penduduk Makkah untuk memeluk Islam. Dakwah keteladanan yang dilakukan Rasulullah saw menjadikan ajaran Islam itu nyata dalam kehidupan. Kemuliaan, kedamaian, ketenangan, dan keselamatan yang dijanjikan Islam itu benar-benar dirasakan penduduk Makkah pada waktu itu.

Dalam hal kesemarakan dakwah, kita patut berbangga diri dengan kesemarakan dakwah bi lisan seperti pada saat ini. Hampir semua media,  baik cetak maupun elektronik selalu menampilkan sesie dakwah Islam baik secara tulisan, audio, maupun visual.  Namun, satu hal yang kurang dalam dakwah kita pada saat ini adalah dakwah dengan keteladanan. Kita sangat merindukan keteladanan seperti yang dilakukan Rasulullah saw.

Kita dan para da’i kurang memperhatikan kewaspadaan dalam menjaga marwah atau harga diri. Tak sedikit da’i yang seperti selebritis, terjebak dalam pusaran gossip yang menyesakkan dada umat. Tentu saja hal ini akan mengurangi marwah da’i dalam menyampaikan ajaran Islam. Keteladanan menjadi kurang di hadapan umat meskipun umat masih terpukau dengan keluasan ilmu dan retorikanya dalam berceramah. Akhirnya, dakwah yang disampaikan hanyalah menjadi hiburan dan tontonan belaka, tak menjadi tuntunan, apalagi dijadikan pedoman dalam meniti tangga kehidupan.

Hasan al Bashri, seorang ulama salaf yang shaleh menekankan agar siapapun yang telah berikrar untuk menjadi seorang muslim, ia memiliki kewajiban untuk menjaga marwah diri dan Islam. Akhlak yang baik yang dilandasi keteguhan dalam memahami dan melaksanakan ajaran Islam selalu ia jaga. Tegas dalam melaksanakan amar ma’ruf  nahyi munkar, namun tetap dalam bingkai akhlak mulia selalu ia jaga.

Ilmu yang telah  ia miliki dihiasai dengan sikap bijak dan kasih sayang dalam menyebarkannya. Pertimbangan berbicara dengan mengedepankan kemaslahatan dan kemudaratan selalu ia perhatikan. Cercaan dan hinaan ketika melaksanakan amar ma’ruf nahyi munkar tidak menjadikan dirinya patah semangat, namun ia menghadapinya dengan penuh kesabaran.

Kehidupan  duniawinya  tidak glamor. Kesederhanaan dan tidak bersikap boros selalu menghiasi dirinya meskipun ia memiliki harta yang cukup untuk bergaya hidup glamor. Demikian pula, ia tak bersikap kikir dengan hartanya. Ia selalu mengeluarkan hartanya untuk mendukung tetap tegaknya kemuliaan Islam seraya tetap menjaga nilat lurus, Lillahi ta’ala.

Sudah saatnya kita memberikan keteladanan yang Islami kepada semua orang dalam semua tatanan kehidupan.  Dengan cara seperti ini, berarti kita termasuk orang yang memiliki komitmen keislaman, berpegang teguh terhadap ajarannya. Semoga.

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat. 

Komentar

Loading...