Keuchik Panggong Khawatir Corona, Desanya Jadi Transit Pekerja Kapal Batu Bara

Keuchik Panggong Khawatir Corona, Desanya Jadi Transit Pekerja Kapal Batu Bara
Keuchik Gampong Panggong Nazar Ali Syahputra (kanan) didampingi Sekretaris Gampong Muslim (kiri) didepan posko relawan Covid-19 milik gampong memberikan keterangan pers ke media terkait dermaga pekerja kapal batubara di desanya, Selasa ( 7/4/20). Foto/cakradunia.co/Fitriadilanta

CAKRADUNIA.CO, Meulaboh – Keuchik Panggong, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat merasa khawatir dan was-was karena ditengah upaya pencegahan virus corona, desanya selama ini melalui jalur Krueng Aneuk Aye dijadikan kawasan tansit pekerja tambang dan tempat sandar boat vendor perusahaan batu baru PT Mifa Bersaudara.

Pekerja bongkar-muat batu bara tersebut berasal dari masyarakat lokal Meulaboh, Aceh Barat. Mereka diangkut menggunakan boat ke tengah laut tempat kapal berlabuh, kemudian berbaur dengan warga negara asing yang bekerja di kapal, selesai bekerja mereka kembali ke daratan tanpa dikarangtina selama 14 hari sebagai SOP Menkes.

Keuchik Gampong Panggong Nazar Ali Syahputra didampingi Sekretaris Muslim kepada media dilokasi pangkalan boat angkutan pekerja kapal, Selasa (7/4/20) mengatakan kerisauannya, meski setiap pekerja yang hendak ke laut menuju ke kapal pengangkut batu bara dicek suhu tubuh dan disomprot disinfektan.

"Pekerja kapal tersebut setiap naik dan turun dari kapal memang dicek suhu tubunya oleh medis dan  juga disomprot disinfektan. Hanya itu saja tak lebih," kata Nazar polos.

Namun, sebut Nazar, tidak ada karantina pekerja yang baru turun dari kapal tambang itu. Padahal, mereka biasanya bekerja di kapal selama 5 hari, begitu kembali dan tiba di pangkalan pekerja dicek kembali suhu tubuhnya lalu langsung pulang ke kediaman masing-masing.

Padahal, selaku pemerintah gampong untuk meminimalisir kekhawatiran warga terhadap wabah corona, berupaya mendirikan pos pengecekan kesehatan pekerja kapal yang dibantu oleh aparat kepolisian dan tim medis dari puskesmas Johan pahlawan.

“Lain kami tak mampu berbuat, karena Gampong Panggong dijadikan area sandar boat vendor perusahaan tambang tersebut, maka solusi untuk menjauhkan keresahan warga hanya dengan mendirikan ada posko kesehatan. Sebelumnya, kami tau virus corona itu banyak menyerang warga tanpa gejala. Jadi ini harus menjadi perhatian kita semua,” ujarnya.

Menurut Nazar, meskipun khawatir akan membahayakan warga, namun pihak gampong tidak punya wewenang untuk menghentikan aktivitas perusahaan tersebut, kecuali pemerintah kabupaten mengeluarkan surat perintah untuk dihentikan sementara, sampai kondisi kembali normal seperti biasa.

Bila aktifitas vendor PT Mifa Bersaudara, tambah Nazar, menjadikan Gampong Panggong sebagai pos transit pekerja kapal, pihak gampong sampai saat ini tidak ada kompensasi apapun, agar aparat gampong tak dicurigai macam-macam.

"Hingga kini, tak ada kepedulian perusahaan bongkar muat untuk gampong kami, untuk mendirikan posko relawan saja tidak dibayar hanya biaya cetak spanduk dikasih sebesar Rp.370.000,” ujar Nazar sambil mengambil uang dikantongnya memperlihatkan ke media lalu menyerahkan ke sekdes, karena sebelumnya dipakai pinjaman sekdes untuk spanduk.

Di tengah kekhawatiran, pemerintah Gampong Panggong sangat mengharapkan kepedulian Pemkab dan DPRK Aceh Barat untuk segera mencari solusinya, sehingga kecemasan warga terhadap ancaman corona dapat diatasi.

“Warga kami hanya ingin selamat dan jauh dari wabah corona yang sangat berbahaya itu, tolong pemkab dan dewan peduli warga kami,”tutup Keuchik Nazar yang diaminkan Sekdes Muslim memelas prnuh harap..

Fitriadilanta

Komentar

Loading...