Ketua MaSA Ayah Panton Dukung Walikota Suaidi Terapkan Bahasa Aceh

Ketua MaSA Ayah Panton Dukung Walikota Suaidi Terapkan Bahasa Aceh
Ayah Panton. Ist

CAKRADUNIA.CO, Banda Aceh – Ketua Majelis Seniman Aceh (MaSA), Ayah Panton mendukung kebijakan Walikota Lhokseumawe, Suaidi Yahya untuk menerapkan penggunaan bahasa Aceh setiap hari Jumat di lingkungan pemerintahannya dan sekolah-sekolah dibekas kota petro dollar tersebut.

Pencanangan yang dilakukan Walikota Lhokseumawe, Minggu kemarin, sebut Ayah Panton, merupakan emplementasi dari pasal 221 UUPA. Namun, selama ini tidak ada kepala daerah yang serius mau menerapkan bahasa Aceh diwilayahnya secara permanen sebagaimana diamanahkan UUPA.

“Kami sangat mendukung penerapan bahasa Aceh, sehingga bahasa indatu tak pudar bahkan hilang di bumo Aceh. Ka beutoi Pak Wali, bahasa Aceh hanjeut gadoh di nanggroe droe,”sebut Ayah Panton salah seorang tim yang membaku ejaan bahasa Aceh bentukan Kongres Peradaban Aceh bersama pakar bahasa dari Unsyiah, diantaranya ada Prof Dr Gani Asyik, Dr Wildan Abdullah yang dilaksanakan beberapa waktu lalu.

Menurutnya, Pemko Banda Aceh sudah pernah mencanangkan untuk menerapkan di ibukota Propinsi Aceh. Namun, sampai hari ini belum jalan dan terkesan tidak serius Walikota Banda Aceh untuk mengembangkannya.

Malah, Ayah Panton sangat berharap, Walikota Lhokseumawe Suaidi Yahya mampu melakukannya, jangan hanya di jajaran pemerintahnya dan sekolah tapi suatu saat sampai ke desa-desa.

“Mudah-mudahan pencanangan di Kota Lhokseumawe yang sudah disampaikan melalui surat edaran walikota ke SPKD  dan sekolah-sekolah bisa berjalan kemudian bisa dikembangkan ke desa-desa dalam kota,”sebut Ayah Panton kepada cakradunia.co, Senin (26/8/2019).  

Untuk mensukseskan program di Kota Lhokseumawe, Ayah Panton yang merupakan warga Aceh Utara, kabupaten induk dari Lhokseumawe siap membantunya.

Ayah Panton menyarankan, program terapkan bahasa Aceh pada hari Jumat, semestinya bisa dilaksanakan se-Aceh. Untuk itu, perlu ada payung hukum dengan melahirkan qanun bahasa Aceh sehingga menjadi aturan baku yang harus dijalani oleh semua pemerintah daerah dan sekolah-sekolah.

“Saya mengharapkan untuk menjalankan pasal 221 UUPA, pemerintah Aceh dan DPR Aceh harus membuat regulasi, sehingga amanah UU hasil MoU Helsinki tersebut, bisa dijalankan dengan baik. Karena saya juga mengkhawatirkan bahasa ibu yang mulai tergeser dapat diantisipasi sejak sekarang,”katanya.

Kekhawatiran Walikota Suaidi Yahya, menurut Ayah Panton, sebenarnya juga kekhawatiran semua pendidikan, pakar bahasa, tokoh masyarakat, para orang tua di Aceh. Karena pengaruh global dengan cepat mampu mengikis nilai-nilai peradaban dan kebudayaan Aceh.

“MaSA berharap keinginan Walikota Lhokseumawe juga Walikota Banda Aceh mendapat respon dari Pemda Aceh dan DPR Aceh, sehingga bahasa Aceh yang mulai tergerus oleh budaya asing bisa diselamatkan,”tutup Ayah Panton yang sejak jadi Ketua MasA sering bolak-balik dari Panton Labu ke Banda Aceh. (HH)

Iklan Duka Cita Ibunda Bupati Nagan Raya

Komentar

Loading...