Kesenjangan Kekayaan dan Stabilitas Pendapatan

Kesenjangan Kekayaan dan Stabilitas Pendapatan
Ilustrasi Penduduk miskin.

Oleh: Lalik

Persoalan yang paling banyak dikecam dalam tatanan sosial kita adalah kesenjangan dalam distribusi kekayaan dan pendapatan. Ada yang kaya dan ada yang miskin; ada yang sangat kaya dan ada yang sangat miskin. Jalan keluarnya tidak sulit: pemerataan distribusi seluruh kekayaan. Keberatan pertama terhadap usulan ini adalah bahwa hal itu tidak akan banyak memperbaiki keadaan karena orang dengan kekayaan rata-rata jauh lebih banyak daripada orang kaya sehingga dengan pembagian kekayaan semacam itu setiap individu hanya dapat mengharapkan kenaikan tak berarti dalam standar hidupnya.

Pendapat ini tentu saja benar, namun penjelasannya tidak lengkap. Mereka yang menganjurkan kesetaraan dalam distribusi pendapatan mengabaikan hal terpenting, yaitu bahwa jumlah yang tersedia untuk dibagikan, produk tahunan kerja sosial, tidak terlepas dari cara pembagiannya. Fakta bahwa produk tersebut saat ini sama baiknya dengan sebelumnya bukanlah fenomena alam atau teknologi yang terlepas dari semua kondisi sosial tetapi sepenuhnya dihasilkan lembaga-lembaga sosial kita. hanya karena kesenjangan kekayaan mungkin terjadi dalam tatanan sosial kita, hanya karena kesenjangan itu merangsang setiap orang untuk memproduksi sebanyak yang ia bisa dan dengan biaya terendah, manusia saat ini memiliki kekayaan total tahunan yang siap dikonsumsi.

Andaikata insentif itu dihapus, produktivitas akan berkurang banyak sampai pada titik di mana bagian yang dapat diberikan kepada setiap individu berdasarkan azas pemerataan akan jauh berkurang dari yang saat ini diterima oleh orang yang paling miskin sekali pun. Namun, kesenjangan distribusi pendapatan tetap merupakan fungsi kedua terpenting, seperti halnya fungsi yang telah disebutkan tadi: kesenjangan itu memungkinkan orang kaya menikmati kemewahan. Banyak hal-hal bodoh tentang kemewahan telah diucapkan dan ditulis. Mereka yang keberatan terhadap konsumsi kemewahan mengatakan tidak adil apabila beberapa orang menikmati keadaan berlimpah ruah sementara orang lain kekurangan.

Penjelasan ini tampaknya memiliki kebenaran, meskipun sebenarnya tidak demikian. Sebab, jika terbukti bahwa konsumsi kemewahan menjalankan fungsi yang bermanfaat dalam sistem kerjasama sosial, maka penjelasan itu tidak lagi dapat diterima. Inilah yang ingin kita buktikan. Pembelaan kita terhadap konsumsi kemewahan tentu saja bukan penjelasan yang terkadang didengar orang, yaitu bahwa konsumsi kemewahan menyebarkan uang di tengah masyarakat. Jika orang kaya tidak memanjakan diri dalam kemewahan, kaum miskin tidak akan mendapat penghasilan. Ini benar-benar omong kosong.

Seandainya tidak ada konsumsi kemewahan, modal dan tenaga kerja yang dikerahkan untuk memproduksi barang-barang mewah akan menghasilkan barang-barang lain: barang-barang untuk konsumsi massal, barang-barang kebutuhan dan bukan barang yang “tidak berguna”. Untuk memperoleh gambaran tepat mengenai makna sosial konsumsi kemewahan, pertama-tama seseorang harus menyadari bahwa konsep mengenai kemewahan adalah konsep yang sangat relatif. Kemewahan merupakan cara hidup yang sangat kontras dengan apa yang dijalani oleh sebagian besar orang. Oleh karena itu, gambaran tentang kemewahan pada dasarnya berhubungan dengan sejarah.

Banyak hal yang bagi kita saat ini tampak sebagai kebutuhan sebelumnya dianggap sebagai kemewahan. Ketika pada abad pertengahan seorang wanita bangsawan Bizantium yang menikah dengan hakim kepala Venesia memanfaatkan peralatan dari emas, yang bisa disebut sebagai cikal bakal garpu, bukan jari-jarinya, untuk makan, orang-orang Venesia memandang hal itu sebagai kemewahan kaum kafir, dan mereka menganggap wanita itu mendapat hukuman setimpal saat ia terserang penyakit yang mengerikan; dalam benak mereka, penyakit itu merupakan hukuman setimpal dari Tuhan atas pemborosan di luar kewajaran seperti itu. dua atau tiga generasi lalu, bahkan di Inggris, kamar mandi di dalam rumah dianggap sebagai kemewahan; sekarang, rumah setiap pekerja Inggris dari golongan menengah memiliki kamar mandi di dalam.

Tiga puluh lima tahun yang lalu tidak ada mobil; dua puluh tahun yang lalu, kepemilikan kendaraan semacam itu merupakan ciri khusus gaya hidup mewah; saat ini di Amerika Serikat bahkan para pegawai memiliki Ford. Inilah perjalanan sejarah ekonomi. Kemewahan saat ini merupakan kebutuhan masa depan. Setiap kemajuan awalnya merupakan kemewahan bagi segelintir orang kaya, namun setelah beberapa waktu akan menjadi kebutuhan yang harus tersedia untuk semua orang.

Konsumsi kemewahan merupakan stimulus bagi industri untuk menemukan dan memperkenalkan hal-hal baru. Konsumsi kemewahan itu adalah salah satu faktor dinamis dalam perekonomian kita. Berkat inovasi progresif standar hidup semua strata dalam masyarakat berhasil ditingkatkan secara perlahan-lahan. hampir semua orang tidak suka pada orang kaya pemalas, yang menghabiskan hidupnya dalam kesenangan tanpa pernah melakukan pekerjaan apa pun.

Penulis Mahasiswa Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang

Komentar

Loading...