Kesederhanaan & Ketegasan Seorang Pejabat

Kesederhanaan & Ketegasan Seorang Pejabat
ilustrasi. jefflocker

IDEALNYA seorang pemimpin itu mendapatkan fasilitas yang berbeda dengan rakyatnya. Rumah, pakaian, kendaraan, dan makanan harus mendapatkan perhatian khusus, agar pemimpin tersebut dapat melaksanakan tugasnya dengan tenang. Namun berbagai fasilitas tersebut tak berlaku bagi Amirul Mu’minin Ali bin Abi Tahlib, sahabat Nabi Muhammad saw tercinta.

Ketika menjadi khalifah, menu makanan utama  setiap harinya hanya sekerat roti kering dengan garam atau cuka. Ia tidak pernah membiarkan perutnya dipenuhi makanan atau minuman. Demikian pula halnya dengan fasilitas pakaian yang ia terima. Pakaian yang beliau kenakan terbuat dari kain kasar. Ia hidup sangat sederhana. Padahal jika mau, ia dapat memerintahkan pengurus baitul mal untuk mengeluarkan anggaran untuk membeli berbagai fasilitas.

Ketika ia menghitung anggaran belanja dari baitul mal untuk dibagikan kepada rakyat, ia bersujud kepada Allah sebagai tanda syukur karena tidak tergoda oleh harta yang ada di hadapannya. Kepada para bawahannya, ia selalu pesan, “Engkau tidak boleh membeda-bedakan sekecil apapun antara orang lain dan sanak keluargamu .“

Ia berpesan, “ Ingatlah oleh kalian semua! Penyebab kebinasaan umat-umat terdahulu karena orang-orang kaya dan tokoh masyarakat selalu mendapatkan keistimewaan dari para penguasa, sedangkan orang-orang miskin tak mendapatkan perhatian yang semestinya. Sehingga orang kaya semakin kaya, dan orang miskin semakin terpuruk kehidupannya.”

Pada suatu hari, kepada Ibnu Abbas, ia memperlihatkan sepatunya yang baru selesai diperbaikinya. “Kira-kira berapa harga sepatu baru seperti ini?”

“Mahal sekali amirul mukminin.” Jawab Ibnu Abbas.

“Nah, kalau harga sepatu yang sudah jelek seperti ini?” Tanya Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib.

“Saya yakin sekali harganya tidak akan lebih dari setengah dirham.” Kata Ibnu Abbas

 “Demi Allah! Sepatu jelek ini jauh lebih berharga bagiku dibanding jabatanku pada saat ini sebagai khalifah, kecuali jika dengan jabatanku ini aku dapat menegakkan keadilan dan menumpas kebatilan”. Demikian jawab Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib.

Dalam masa kekhalifahannya, Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib   terkenal sebagai seorang pemimpin yang tidak pernah tidur dalam keadaan kekenyangan, juga tidak pernah terlihat memakai pakaian indah. Ia hidup sangat sederhana, lebih mementingkan kepentingan rakyat daripada kepentingan dirinya sendiri.

Selain sederhana, ia pun merupakan sosok pemimpin yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai hak asasi manusia dalam berbagai aspek kehidupan. Ia pantang memaksakan kehendaknya kepada siapapun, sebab ia sangat yakin bahwa sesuatu yang dipaksakan  tidak akan mendatangkan hasil yang diharapkan.

Dalam satu suratnya yang ditujukan kepada gubernur Mesir, Muhammad bin Abu Bakar, ia berwasiat, “Bertakwalah kepada Allah! Janganlah sekali-kali kamu menjadi serigala yang membahayakan penduduk dan merampas makanan mereka. Mereka adalah saudaramu seagama. Kalau mereka tidak sama agamanya denganmu, hargailah hak asasinya, karena mereka pun manusia seperti kamu. “

Selanjutnya, ia berpesan, “Jauhkan sikap sombong dan tidak mau memaafkan kekeliruan orang lain. Hendaklah kamu selalu berlapang dada untuk memaafkan setiap kekeliruan-kekeliruan yang mereka perbuat. Jauhkan perasaan menyesal karena kamu telah memaafkan kekeliruan orang lain, dan jangan pula kamu merasa senang karena kamu telah menjatuhkan hukuman kepada orang yang berbuat kekeliruan.”

Ia mengakhiri wasiatnya, “Hendaklah kamu berlaku adil kepada semua pendudukmu. Berbuatlah kebajikan sebanyak yang kamu mampu melakukannya. Jagalah persamaan hak bagi semua orang, baik yang dekat maupun yang jauh denganmu.”

Dalam kesempatan pertemuan dengan para gubernur, ia senantiasa memberikan pesan, “Janganlah sekali-kali kalian meremehkan seorang manusia pun. Bisa jadi, manusia yang kalian remehkan itu adalah seorang waliyullah yang tidak kalian kenal. “

“Janganlah kalian memaksakan suatu kehendak kepada penduduk kalian, sebab sesuatu yang dipaksakan tidak akan  mendatangkan hasil yang baik, malahan bisa jadi mendatangkan kebencian penduduk kepada kalian. Berbuatlah sesuatu yang dapat menyenangkan orang lain sebagaimana kalian menyenanginya, janganlah kalian berbuat sesuatu yang tidak disukai orang lain sebagaimana kalian sendiri tidak menyukainya.”

Ia pun berwasiat agar semua orang terus berupaya menegakkan kebenaran dan keadilan, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. “Janganlah kalian berhenti berbicara kebenaran. Kalian jangan berputus asa dalam mengatasi masalah dan kesulitan yang kalian hadapi, dan kalian jangan meninggalkan musyawarah dalam mencari keadilan.”

 

Diolah dari berbagai sumber, Penulis Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam, tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut.

Komentar

Loading...