Kerugian Akibat Bencana Alam 2018 Capai Rp 848 Miliar

Kerugian Akibat Bencana Alam 2018 Capai Rp 848 Miliar
Kepala BPBA Teuku Ahmad Dadek, SH saat memberi keterangan Pers, Rabu (2/1/19). Foto: Cakradunia/FCS

CAKRADUNIA.CO, Banda Aceh - Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) mengungkapkan total kerugian akibat kejadian bencana di Aceh lebih kurang Rp 848, 2 Miliar.

"Dari 294 kali kejadian bencana di Aceh selama tahun 2018, total kerugian masyarakat lebih kurang Rp 848,2 Milyar," ujar H.T. Ahmad Dadek dalam konferensi pers, Rabu (2/1/2019) di Ruang Pusdatin BPBA, Banda Aceh.

Dadek menjelaskan, jumlah kerugian akibat bencana paling banyak dialami oleh Kabupaten Aceh Utara sebesar Rp239,5 milyar, disusul Aceh Tenggara Rp 81,9 M,- Aceh Barat Rp 81,8 milyar, Aceh Besar Rp 68 milyar dan Bener Meriah sebesar Rp 63,5 milyar.

Sedangkan wilayah yang paling banyak mengalami kejadian bencana di tahun 2018  Kabupaten Aceh Besar, disusul Aceh Tengah, Aceh Barat, Aceh Jaya, Bireuen dan Aceh Tenggara.

Selain itu Dadek juga menyebutkan  bahwa selama tahun 2018 terjadi peningkatan jumlah kejadian bencana yang sangat signifikan dibandingkan tahun 2017 yaitu 64{d3c6496377623acf4c1fbcc3aeb920d09c41654076d766fac9d20afd66ac13bd} dengan jumlah kejadian bencana sebanyak 185 kejadian.

Bencana yang paling banyak menurut Dadek adalah kebakaran pemukiman sebanyak 143 kali
kejadian, disusul oleh puting beliung 93 kali, banjir genangan 90 kali dan kebakaran hutan dan
lahan sebanyak 44 kali kejadian.

Kebakaran pemukiman paling banyak terjadi di Aceh Besar sebanyak 18 kali kejadian,
Aceh Tenggara 7 kali dan Aceh Barat 6 kali kejadian.

Kebakaran Hutan dan Lahan juga masih banyak terjadi di Aceh Besar, Aceh Tengah dan Aceh Barat. Sedangkan Banjir genangan paling
banyak terjadi Aceh Selatan, Aceh Tenggara, Aceh Tamiang, Bireuen, Aceh Jaya dan Aceh Barat.

Kebakaran masih menjadi bencana yang paling banyak terjadi, terutama kebakaran
pemukiman.

"Penyebabnya adalah kurangnya kewaspadaan dalam mengelola sumber panas di rumah tangga seperti mematikan kompor dan barang-barang eletronik yang harus diawasi dengan baik," ujar Dadek.

Dalam hal kebakaran lahan dan hutan, cara yang paling baik adalah pencegahan dan penegakan hukum. Beberapa kasus hukum yang sudah inkrach paling jitu dalam memberikan effek jera kepada masyarakat.

Sebenarnya banyak hal dapat dilakukan untuk pencegahan kebakaran lahan seperti Polhut lebih intensif lagi dalam melakukan patroli menjelang musim kemarau, memperkuat koordinasi dengan kepolisian dan TNI.

Sedangkan Banjir bandang seringkali menerjang Kabupaten Aceh Tenggara, sebanyak 4 kali
kejadian, terakhir terjadi pada tanggal 31 Desember 2018 kemarin.

Kemudian dari sudut kerugian bencana banjir adalah mencapai rekornya termasuk kejadian
banjir bandang yang menimbulkan paling banyak kerugian baik kepada masyarakat maupun infrastruktur yang ada.

Banjir paling banyak disebabkan meluapnya air sungai dan pembalakan liar yang menyebabkan banjir bandang. Dadek juga mengatakan kalau penanganan banjir banyak menemui kendala.

"Kendalanya adalah luasnya wilayah banjir yang harus dikendalikan, dan membutuhkan biaya yang besar selain itu sebagian besar sungai besar di Aceh berada dibawah kewenangan pusat," ujar Dadek.

Selain itu bencana banjir diperparah oleh tata kelola lingkungan yang buruk, pembalakan liar dan pembakaran hutan dan lahan. Penanganan jangka pendek yang bisa dilakukan oleh pemerintah adalah mempersiapkan desa tangguh bencana dengan memasukan anggaran desa untuk kebutuhan kesiapsiagaan dan penanganan darurat.

BPBA juga merencanakan akan memperbanyak membangun shelter vertikal untuk
korban banjir. Sedangkan penanganan masa darurat masih seputar pemenuhan kebutuhan
masyarakat, sandang, pangan, kebutuhan air bersih dan huntara.

Berkaca dari kejadian tanah longsor di pulau Jawa, beberapa kabupaten di Aceh juga banyak potensi terjadinya longsor seperti yang sudah terjadi di Aceh Tengah sebanyak 9 kali, dan Aceh Barat 4 kali.

"Untuk kejadian puting beliung paling banyak di Kota Sabang dan Aceh Besar, dan terakhir abrasi paling banyak terjadi di Aceh Barat Daya," ujar mantan Kepala Bappeda Aceh Barat Tersebut.

Dampak yang ditimbulkan akibat bencana di Aceh Tahun 2018 antara lain banyaknya masyarakat yang terdampak bencana sebanyak 30.763 KK/, 110.624 Jiwa, pengungsi sebanyak 10.754/36.696 Jiwa, dan yang meninggal dunia akibat bencana sebanyak 46 orang, sedangka Luka-luka sebanyak 33 orang. Semua data ini dihitung berdasarkan laporan yang masuk dalam Pusat Pengendalian Operasi BPBA.

Fauzi Cut Syam

Komentar

Loading...