Kenderaan Menuju Allah

Kenderaan Menuju Allah
Ilustrasi.net

BERBEDA dengan jamaah calon haji lainnya yang berangkat dengan kafilah berkendaraan unta, diantar sanak saudara dan tetangga, Ibrahim bin Adham berangkat ibadah haji dengan berjalan kaki. Ulama sufi ini berangkat sendirian tanpa diantar sanak saudara dan tetangga. Di hatinya hanya tertanam kerinduan untuk dapat beribadah di baitullah. Satu tekad tertanam di hatinya, ia ingin semakin dekat dengan Allah swt. 

Tekad kuat tersebut menjadikan dirinya melaksanakan ibadah haji meskipun hanya dengan berjalan kaki. Karena berjalan kaki yang sangat jauh, ia harus pintar mengatur waktu dan tempat persinggahan.

Untuk menjaga kesehatan dan kekuatan tubuhnya, ia sering berhenti di tempat-tempat tertentu manakala ia sudah merasakan kelelahan. Sambil melepaskan penat, lisannya tak henti-hentinya berzikir dan mengucapkan talbiyah.

Ketika ia akan beristirahat di suatu tempat, ia berpapasan dengan sekelompok orang Arab Badwi (perkampungan). Mereka merasa heran ada orang yang berjalan sendirian. Padahal sebelumnya mereka berpapasan dengan kafilah berkendaraan unta yang akan menunaikkan ibadah haji.

Salah seorang dari mereka  bertanya kepada Ibrahim bin Adham. “Anda ini berbeda dengan orang lain? Apakah Anda akan menunaikkan ibadah haji seperti orang-orang yang pernah aku temui di jalan tadi?”

“Ya, benar. Saya akan beribadah di Baitullah.” Jawab Ibrahim bin Adham.

“Anda hanya berjalan kaki?” Tanya orang tersebut dengan penuh keheranan.

“Benar sekali, aku hanya menggunakan “kendaraan kaki”  yang telah Ia anugerahkan kepadaku.” Kata Ibrahim bin Adham.

“Perjalanan menuju Baitullah itu masih jauh. Anda akan kelelahan di jalan. Mana mungkin Anda akan sampai ke Baitullah tanpa berkendaraan?” Lanjut orang tersebut seraya menawarkan untanya agar dipakai perjalanan menuju Baitullah.

“Terima kasih atas kebaikanmu. Sebenarnya aku memiliki banyak kendaraan yang bisa kupakai menuju Allah.” Jawab Ibrahim bin Adham.

Orang-orang merasa heran dengan jawaban Ibrahim  bin  Adham. Salah seorang dari mereka bertanya kepadanya. “Lalu mana kendaraan yang banyak itu?”

“Jika ada bencana menimpaku, aku mengendarai kendaraan kesabaran. Jika aku mendapat kenikmatan, aku mengendarai keadaan syukur. Jika aku mengalami peristiwa yang telah ditetapkan, aku menaiki kendaraan rida. Jika nafsuku mengajakku kepada sesuatu, aku mengendarai kendaraan bahwa sisa usiaku lebih sedikit daripada yang telah dilalui.” Demikian jawab Ibrahim bin Adham.

Orang-orang Arab Badwi tersebut merasa takjub dengan jawaban Ibrahim bin Adham. Kemudian salah seorang dari mereka berkata. “Kalau begitu, pada hakikatnya engkaulah yang berkendaraan mneuju baitullah, sedangkan aku berjalan kaki. Selamat berjalan dalam naungan Allah.”

Sejatinya kita menyadari, hakikat dari kehidupan kita adalah perjalanan menuju Allah. Layaknya sebuah perjalanan kita harus memiliki kendaraan. Namun seperti kata Ibrahim bin Adham kendaraan-kendaraan spiritual, kesucian hati, kemuliaan akhlak yang didasari ketauhidan yang kuat merupakan kendaraan utama yang harus kita miliki.

Kita akan benar-benar sampai ke baitullah, manakala kita menggunakan “kendaraan spiritual”. Ketauhidan yang nilai-nilainya diimplementasikan dalam kehidupan nyata sehari-hari merupakan kendaraan utama menuju baitullah.

Keridaan, ampunan, dan kebahagian surga-Nya hanya bisa diraih manakala kita memiliki kekuatan tauhid. Allah akan menganugerahkan rida dan ampunan-Nya kepada orang-orang yang di hatinya terdapat keyakinan kuat kepada Allah. Tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Allah.

Kita semua bercita-cita menuju baitullah, baik baitullah di Makkah maupun baitullah dalam arti anugerah rida dan ampunan-Nya. Sudahkah kita memaksimalkan diri untuk memiliki “kendaraan spiritual” dan menggunakannya untuk menuju baitullah?***

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam, tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.    

Komentar

Loading...