Karakter Pemimpin

Karakter Pemimpin
ilustrasi. Ist

PLATO, sang Filosof  asal Yunani mengatakan,  terdapat tiga kekuatan yang menguasai perilaku manusia. Ada manusia yang perilakunya dikuasai nafsu; dikuasai emosi; serta ada manusia  yang perilakunya dikuasai ilmu pengetahuan. 

Manusia yang perilakunya dikuasai nafsu, pada umumnya senantiasa rakus dan haus akan jabatan, kekayaan, penghormatan, dan kesenangan. Sedangkan manusia yang perilakunya dikuasai emosi akan sangat merasa senang apabila mampu memperlihatkan keberanian dan kekuatan dirinya. Sementara manusia yang dikuasai akal dan ilmu pengetahuan, ia merupakan manusia bijak dalam mengeluarkan gagasan dan arif dalam menghadapi berbagai permasalahan. Setiap menghadapi  permasalahan, ia senantiasa berpikir positif dan berusaha bijak dalam mengambil keputusan.

Mirip dengan pendapat Plato, Soren Aabey Kierkegaard (1813-1855) yang juga seorang Filosof  mengatakan, tingkah laku  manusia memiliki tiga tahapan, yakni tahapan estetis, etis, dan tahapan religius. Tingkah laku manusia yang berada dalam tahapan estetis adalah manusia yang jiwanya masih dikuasai emosi dan keinginannya. Manusia pada tahapan ini sering mengabaikan nilai-nilai norma dan agama. Satu hal yang ada di benaknya adalah keinginan memenuhi impiannya sekalipun harus melanggar nilai-nilai norma dan agama.

Tingkatan selanjutnya adalah manusia yang berada dalam tahapan etis. Manusia pada tahapan ini memiliki pertimbangan matang ketika ingin mencapai keinginannya. Ia selalu melibatkan nurani dalam upaya mencapai keinginannya. Salah dan benar, melanggar hukum atau tidak, selalu ia pertimbangkan. Namun manusia dalam tingkatan ini belum melibatkan agama dalam melakukan suatu tindakan.

Tingkatan yang paling tinggi adalah tingkatan religius. Manusia yang berada pada tingkatan ini selain nuraninya yang berbicara, imannya ikut mengatur kehidupan. Dalam arti, apapun yang ia lakukan dalam kehidupan ini harus merupakan implementasi dari keimanannya kepada Zat Maha Pencipta. Manusia yang berada pada tingkatan ini, hidupnya akan selalu waspada dan hati-hati. Ia sangat yakin, apapun yang dilakukannya, kelak di alam keabadian akan diperhitungkan dan harus dipertanggungjawabkan di hadapan Yang Maha Hakim.

Kalaulah dihubungkan dengan kepemimpinan, manusia yang dikuasai akal dan ilmu pengetahuan; manusia yang berada pada tingkatan etis; dan religius cocok menjadi pemimpin. Sebab ia akan memimpin dengan akal dan hati nuraninya. Ia akan rela menjadikan dirinya sebagai pelayan bagi rakyat atau orang-orang yang dipimpinnya. Ia akan menjadi pemimpin yang baik, jujur, jauh dari sikap yang akan menghancurkan kehidupan rakyat atau orang-orang yang dipimpinnya.

Seorang pemimpin yang baik bukanlah pemimpin yang menjadikan dirinya sebagai majikan rakyat (sayyidul ummah), namun ia menjadikan dirinya sebagai pelayan rakyat (khadimul ummah). Ia selalu hadir di tengah-tengah rakyat/umat, tatkala rakyat/umat tengah menghadapi berbagai musibah, malapetaka, dan kesulitan.

Dari sudut pandang filsafat lainnya, meminjam istilah seorang filosof,  Hannah Arendt, seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu berkarya (homo faber) bukan pemimpin yang hanya mampu bekerja (homo laborans). Secara filosofis, bekerja dan berkarya memiliki perbedaan yang mendalam. Bekerja lebih menekankan kepada  kepentingan pribadi, sedangkan berkarya lebih menekankan kepada kepentingan orang lain.

Pemimpin yang berkarya adalah pemimpin yang menghindari mabuk kekuasaan. Jika seorang pemimpin sudah “mabuk kekuasaan”, jangankan mampu mengingat akan kesejahteraan dan kehormatan rakyatnya, kehormatan dirinya sendiri ia lupakan. Ia memelihara mental aji mumpung, melakukan korupsi,  dan tindakan bejad lainnya.

Menjadi pemimpin atau pejabat adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. “Wahai Abu Dzar! Jabatan kenegaraan (al-imarah) adalah sebuah amanat yang pada hari kiamat nanti akan berubah menjadi keaiban dan penyesalan, kecuali bagi orang-orang yang mendapatkannya secara benar dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang pejabat/pemimpin.” (H. R. Muslim). 

“Tidaklah seseorang menjadi pemimpin atas sepuluh orang, kecuali pada hari kiamat nanti, ia akan datang dengan tangan terikat, sehingga ikatannya dibuka oleh keadilannya atau dijerumuskan oleh kecurangannya” (H. R. Al Baihaqi).

Rakyat/umat akan bangga dan sejahtera manakala memiliki pemimpin berkarakter baik, memimpin dengan hati nurani, etis, dan religius. Sebaliknya rakyat/umat akan celaka dan menderita manakala memiliki pemimpin yang bermental estetis dan dikuasai nafsu serakah. Mental estetis dan dikuasai nafsu serakah hanya akan melahirkan  jiwa bermental “tikus” yang menjadikan negara sebagai sarang untuk mengkhianati amanat rakyat/umat.*

 

Penulis, Praktisi dan Pemerhati Pendidikan Agama Islam, Penikmat buku-buku Filsafat dan Tasawuf. Tinggal di Cisurupan Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...