Karakter Kopi

Karakter Kopi
Ilustrasi/Shutterstock

SEORANG murid yang tengah belajar tasawuf merasa jengkel. Ia marah-marah, dan menggerutu di hadapan sang Guru. Dengan sabar sang Guru mendengarkan semua kata-kata yang diucapkan muridnya tersebut. Ia tak merasa tersinggung dengan kata-kata yang diucapkan sang Murid, sebab ia tahu betul kata-kata tersebut bukan ditujukan kepada dirinya, tapi disebabkan tekanan berbagai permasalahan hidup yang tiada henti menyapanya.

Setelah puas mengungkapkan semua kekesalannya, sang Murid berhenti berbicara. Suasana menjadi hening, tak ada seorang pun yang berbicara.

“Sudah selesai mengungkapkan perasaanmu?” kata sang Guru memecah keheningan.

Sang Murid terperanjat, ia tersipu malu dan baru menyadari di hadapan siapa ia berbicara. “Sudah, wahai Guruku. Maafkan aku berbicara semauku, tanpa basa-basi dan kesopanan.”

“Tak apa-apa, ungkapkan saja semua permasalahanmu. Jangan kau pendam agar tak menjadi beban dalam hidupmu. Insya Allah aku akan menjaga apa yang kau ungkapkan, dan tak akan aku sebarkan kepada orang lain,” kata sang Guru dengan bijak.

“Wahai muridku, aku telah mendengar semua beban masalah yang tengah menyapa kehidupanmu. Seandainya  aku menjadi dirimu, mungkin aku juga akan bertindak seperti yang kau ucapkan tadi, malahan bisa jadi tindakanku akan lebih buruk daripada yang telah kau ucapkan. Tapi,  mari kita merenung sejenak, menilai karakter diri kita sendiri ketika menghadapi suatu permasalahan,” lanjut sang Guru.

Kemudian sang Guru mengajak sang Murid masuk ke dapur rumahnya yang sangat sederhana. “Jangan banyak tanya ya!” Pinta sang Guru.

Setelah sampai di depan tungku, ia menyalakan api untuk memanaskan air. Panci berisi air diletakkan di atas tungku. Setelah air mendidih ia mengambilnya dan menuangkannya ke cangkir besar yang sudah diisi beberapa sendok kopi bubuk.

“Tolong, ambilkan telur dan wortel!” Perintah sang Guru kepada muridnya yang masih  belum mengerti terhadap apa yang  akan dilakukan sang Guru.

Di benaknya berkecamuk seribu tanya, “Apa hubungannya dengan permasalahan  yang tengah aku hadapi?”

Meskipun bingung, ia tetap melaksanakan permintaan gurunya. Setelah wortel dan telur diambil, kemudian ia masukan ke panci yang berisi air mendidih, dan merebusnya sampai benar-benar matang.

Sambil menunggu matangnya wortel dan telur, sang Guru bijak mengajak muridnya ngobrol ke sana kemari, sambil diselingi humor yang membuat muridnya bisa tersenyum, bahkan tertawa terbahak-bahak. Ruangan dapur  sederhana jadi penuh kehangatan, bukan saja hangat karena api dari tungku, juga hangat karena keakraban sang Guru dan murid, ditambah seruputan kopi hangat tanpa gula yang diseduh sang Guru. Semerbak harumnya meruak di ruangan dapur yang sangat sederhana.

“Angkat telur dan wortelnya! Kayaknya sudah matang!” Perintah sang Guru kepada muridnya.

Ia segera mengambilnya, dan meletakkannya di atas piring. Namun, lain halnya dengan kopi yang sedari tadi boleh dinikmati keharuman dan kehangatannya, sang Guru tak mempersilakan dirinya untuk memakan telur ataupun wortel. Ia hanya bertanya, “Pelajaran apa yang dapat kamu ambil dari telur, wortel, dan kopi yang sama-sama diberi air mendidih ini?”

Dengan singkat, sang Murid menjawab. “Wortel yang tadinya keras menjadi lembek, telur yang asalnya mudah pecah menjadi keras, dan kopi mewarnai air dan mengeluarkan  semerbak harum.”

“Itu saja, pelajaran yang dapat kamu ambil?” Tanya sang Guru.

“Ya itu saja, wahai Guruku.” Jawab sang Murid.

“Belajarlah kamu berpikir mendalam dalam memandang segala hal yang menimpa dirimu dan lingkungan sekitarmu. Jika diibaratkan, air yang mendidih itu adalah permasalahan berat yang menimpa diri kita. Pilihan ada pada diri kita, apakah kita akan menjadi orang yang berkarakter wortel, telur, atau kopi?” Kata sang Guru.

Sang Murid mengernyitkan dahi. Ia sama sekali belum paham dengan maksud  perkataan gurunya. Namun, sebelum ia sempat bertanya,  sang Guru bijak telah lebih dulu menjelaskannya.

“Ketika kita menghadapi permasalahan, apakah diri kita akan berkarakter seperti wortel yang asalnya keras kemudian menjadi lunak karena rebusan air mendidih? Apakah diri kita yang tadinya tegar akan kalah, menyerah, lunak, dan bersikap putus asa ketika menghadapi serangan permasalaham hidup yang bertubi-tubi, datang silih  berganti? Atau akankah kita menjadi orang berkarakter seperti telur? Awalnya mudah pecah, tapi  setelah direbus, ia menjadi keras. Sayangnya,  jika airnya semakin panas, kulitnya menjadi pecah-pecah. Isi telurnya keluar mengotori air dan panci. Akankah diri kita tetap tegar ketika menghadapi masalah, namun jiwa kita menjadi pecah, dendam dipendam di dalam hati, tak rela menerima masalah, mencari kambing hitam, dan menyalahkan orang lain dan lingkungan sekitar kita?”

Sang Murid terdiam. Ia mulai memahami pelajaran yang diberikan sang Guru.

“Jadilah orang yang berkarakter seperti kopi. Ia bisa mewarnai air mendidih menjadi seperti warna dirinya. Lebih dari itu, ketika diseduh dengan air panas,  kopi bisa mengeluarkan aroma harum bagi lingkungan sekitarnya. Semakin panas air yang dipakai untuk menyeduhnya, semakin keluar bau harumnya. Kita harus bisa bersatu dengan permasalahan hidup  yang kita hadapi, berusaha tetap tegar dan sabar, tidak putus asa dalam mencari solusi, dan mewariskan inspirasi bagi kehidupan orang-orang di sekitar kita,” lanjut sang Guru.

Sang Murid benar-benar puas dengan pelajaran dari gurunya pada hari itu. Ia pun bertekad untuk tetap tegar, sabar, tawakal,  dan bersikap solutif  ketika menghadapi berbagai permasalahan hidup. Ia belajar meyakini, permasalahan yang dihadapi dalam menjalani kehidupan ini merupakan inti dari kehidupan itu sendiri. Ia ingat akan  kata-kata Socrates sang filosof, “Kehidupan yang tak pernah menghadapi permasalahan atau ujian tak layak untuk dijalani.”

Seneca yang juga seorang Filosof  pernah berujar, “Sungguh sial jika kamu tidak pernah mendapatkan musibah atau ujian hidup. Karena itu artinya kamu menjalani kehidupan tanpa pernah menghadapi ‘lawan’. Tidak ada yang mengetahui kemampuanmu yang sebenarnya, bahkan dirimu sendiri tidak akan mengetahui akan kemampuan dirimu.”

Kita harus belajar meyakinkan, mendung tak selamanya hujan. Jalan terang akan kita peroleh setelah kita menghadapi kegelapan. Setelah menempuh jalan mendaki kita akan mendapatkan jalan mendatar, bahkan  jalan menurun. Setelah menjalani kesulitan, kita akan mendapatkan kemudahan.

“Jadilah seperti tebing di pinggir laut yang terus dihujam ombak, tetapi tetap tegar dan menjinakkan murka air di sekitarnya.” Demikian nasihat Marcus Aurelius, seorang Filosof Romawi Kuno (Filsofi Teras, 2018 : 295).

Al Qur’an lebih tegas lagi, dan kita harus benar-benar meyakininya. “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (Q. S. Al-Insyirah : 5-6).

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam, tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.  

  

Komentar

Loading...